Raden Arya menunduk. Kedua tangan mengepal di sisi tubuhnya, urat di rahangnya menegang menahan segala amarah dan rasa malu yang bergolak di dadanya. Suara detak jam dinding di pendopo besar itu terdengar begitu nyaring di tengah keheningan yang mencekam. “Masuk!” perintah Eyang pendek, dan nada itu bukan nada ajakan—itu perintah seorang kepala keluarga yang tak mau ditentang. Arya masih menundukkan kepalanya, langkahnya berat saat melangkah melewati ambang pintu pendopo. Di dalam, lampu temaram memantulkan rona kemerahan dari kayu ukir, aroma dupa masih menggantung. Eyang berdiri di hadapan meja kayu, dengan tongkat yang kadang di ketukkan ke lantai, menatap Arya seperti orang yang sedang menghitung dosa. “Duduk,” ujar Eyang dingin. “Jangan berdiri seperti pengawal yang menunggu perint

