41

1383 Words

Rendra hampir menjatuhkan tablet di tangannya begitu pintu ruang CEO terbuka otomatis. Ruangan itu gelap, hanya diterangi cahaya matahari yang menembus tirai. Dan di sana, di sofa kulit hitam yang biasanya rapi dan steril— Raden Arya Maheswara tertidur membungkuk, masih mengenakan pakaian kemarin, rambut berantakan, dan wajah pucat lelah. Pandangan ini tak pernah dia lihat sebelumnya. Ada minuman di bagian lain. Seberapa hancur tuannya hingga seperti ini. Sepertinya benar-benar hancur. Rendra menahan makiannya sendiri. “Tuan…” bisiknya lirih, nyaris tidak percaya. “Astaghfirullah… akhirnya njenengan muncul juga.” Ia melangkah cepat. Di meja kaca depan sofa, berserakan botol air mineral kosong, dua kaleng kopi dingin, dan berkas-berkas yang tampaknya digenggam Arya sampai tertidur. Ren

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD