Udara pagi di pendopo keluarga Wicaksana terasa lembut, dengan aroma kayu jati tua yang selalu memberi rasa teduh bagi siapa pun yang tinggal di sana. Burung-burung perkutut terdengar sayup dari halaman samping, seolah menyambut hari baru yang tak sepenuhnya manis bagi seorang wanita muda. Raden Ayu berdiri di depan pintu kayu besar, membawa tas kecil. Kain batiknya jatuh anggun, tetapi sorot matanya mengisyaratkan sesuatu yang jauh dari anggun—beban, ketegangan, dan sedikit rasa lega karena hari ini mungkin akan menjadi langkah menuju kebebasan. Eyang Wicaksana memandang cucunya itu dengan wajah yang sulit diterjemahkan. Ada bangga, ada sedih, dan ada kekhawatiran yang begitu jelas. Beban yang tak bisa dia tahan sepenuhnya. Rasa bersalahnya lah yang seakan menggerogoti hatinya. Di umurn

