Ayu dan Leyla baru saja menutup pintu mobil ketika suara berat, dalam, dan begitu familiar menggema dari arah belakang. “Cah Ayu…?” Ayu tertegun. Tubuhnya kaku, seolah seluruh udara tersedot dari paru-parunya. Ia mengenali suara itu—terlalu mengenalinya. Meskipun dia dan dirinya hanya sebatas waktu singkat. Sementara itu, beberapa meter dari sana, Raden Arya Maheswara berdiri membatu di samping sedan hitamnya. Tatapan biru terangnya menyipit tajam—bukan karena marah, tapi karena terkejut… dan rindu yang menghantam tanpa ampun. Sudah sebulan ia tidak melihat istrinya. Sejak hari ia berdiri di depan Pendopo Wicaksana dan mendapati penolakan mentah-mentah dari Eyang Wicaksana. Sejak hari Ayu memilih menjauh. Sejak hari ia sadar betapa bodohnya dirinya. Dan kini, di sini… Di tempat ia s

