Pintu ruang sidang dibuka oleh petugas. “Para pihak, dipersilakan masuk.” Raden Ayu berdiri perlahan. Menghirup udara panjang untuk menstabilkan detak jantungnya. Tante Leyla mengelus punggungnya sekilas — singkat, hangat, seperti mantra penguat. Memberi senyuman teduh, seakan mengatakan semua akan berjalan lancar. Raden Arya berjalan di belakangnya, langkahnya seperti isi hatinya, kacau, berjalan terlalu cepat dan gelisah. Tangannya sempat terulur, seolah ingin menggenggam tangan Ayu, memintanya untuk membatalkannya lagi. Namun ia urungkan ketika Ayu menjauh setengah langkah. Begitu pintu tertutup, ruangan kembali sunyi. Hanya suara kipas AC tua dan ketukan pena panitera. Di bagian depan, Hakim Ketua, seorang pria berusia sekitar enam puluh, membuka berkas perkara. “Perkara nomor… Pe

