Jam di pergelangan tangan Raden Ayu Kirana sudah menunjukkan pukul satu siang lewat sepuluh menit. Tangan halusnya terangkat, menepuk ringan sisi meja kerja, berusaha menenangkan diri meski hatinya sudah mulai gusar. Seharusnya, pada jam seperti ini, mereka sudah berada di gedung tempat pertemuan dengan klien penting dari perusahaan patner luar negeri. Jadwal itu bahkan Arya sendiri yang menetapkan. Namun kursi di sebelah ruangannya masih kosong. Raden Arya belum juga kembali sejak pagi tadi. setelah keluar tanpa bicara tadi, tak ada kabar lagi di mana dirinya berada. Ayu menarik napas perlahan, menatap layar ponselnya yang tak kunjung menyala tanda pesan masuk. Tidak ada kabar... bahkan satu pesan pun tidak, gumamnya pelan. Ia berdiri, merapikan map berisi laporan kerja yang akan

