Arya tidak memberi waktu pada siapa pun—termasuk pada dirinya sendiri—untuk mencerna kekacauan barusan. Kekacauan yang disebabkan oleh dirinya juga. Para karyawan masih diam di tempatnya. Memilih menunduk saat Raden Arya kembali melayangkan tatapannya ke penjuru ruangan. Tangannya yang besar menggenggam pergelangan tangan Widia. Tidak kasar. Tidak menyakitkan. Tapi cukup kuat untuk memastikan wanita itu mengikutinya. Langkahnya cepat, tegas, menembus lorong eksekutif Maheswara Group yang kini sunyi oleh bisik-bisik tertahan. Widia berjalan setengah langkah di belakangnya—lebih tepatnya diseret oleh pria di hadapannya tanpa berkata apa-apa atau meminta ijin padanya. Dan entah kenapa dirinya malah terpaku. Tak protes atau menghentikannya sama sekali. Yang dapat ia rasakan saat ini hanya

