Linggar menatap undangan itu cukup lama. Kertas berwarna gading dengan ukiran sederhana namun berkelas—jelas bukan undangan yang dibuat tergesa. Namanya tercetak rapi di sudut kiri bawah, Linggarjati Emir Tanumaja dan Raden Ayu Kirana. Namun bukan itu yang membuatnya terdiam. Meski ada senyuman yang terulas tipis di sudut bibirnya. Di bagian tengah undangan, dua nama tertera berdampingan. Raden Arya Maheswara Widia Prameswari Ningtyas Linggar menghembuskan napas pelan. Bibirnya semakin melengkung dalam senyum kecil—bukan senyum terkejut, melainkan senyum yang lahir dari rasa lega dan turut bahagia. Ia yang berpikir bagaimana masa lalu mereka yang terikat. Di hadapannya, duduk dengan punggung sedikit meluruh, Raden Arya dengan senyum sumringahnya. Pria dengan sorot mata biru yang ki

