39

1392 Words

Pagi Kota Solo yang masih basah oleh embun menyapu kaca mobil hitam itu dengan dingin. Raden Arya terbangun dengan napas berat, badan pegal karena tertidur dalam posisi duduk selama entah berapa jam. Sinar matahari yang menembus sela-sela pepohonan pendopo Wicaksana membuat matanya sedikit perih. Ia mengerjap pelan—baru menyadari satu hal. Ia ada di Solo. Ia masih berada di depan pendopo Wicaksana. Dan ia masih… menunggu Ayu. Istrinya. Tidak—mantan istrinya. Sudah dua hari ia di sini. Tidak sempat kembali ke Jogja. Tidak pulang ke keluarga Maheswara. Tidak mengurus perusahaan. Dan nyatanya… tidak juga bertemu dengan wanita itu. Tuk. Tuk. Suara ketukan di kaca mobil membuatnya tersentak. Seketika Arya menegakkan badan. Dan jantungnya seolah berhenti saat itu juga. Karena sosok yang berd

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD