Ayu baru saja keluar. Langkahnya menghilang di lorong panjang pendopo. Pintu menutup pelan. Meninggalkan hawa sesak bagi Raden Arya yang masih menatap kepergian istrinya. Dan sesudah itu… Hening. Hening yang begitu tebal sampai terdengar napas putus-putus Arya. Ia seakan terpaku di tempatnya. Menyusul pun seakan tak memiliki keberanian itu. Dirinyalah yang bersalah disini. Kemana keangkuhannya selama ini? Kemana dirinya yang seakan selalu mendahulukan egonya? Ia berdiri mematung. Hingga tak lama dia merasakan jika tubuhnya tak lagi berdiri tegak. Lututnya goyah, dan ia jatuh berlutut di hadapan Eyang Adiguna—hal yang belum pernah ia lakukan sejak dewasa. “Ey… Eyang… bantu saya…” suara Arya pecah, bukan lagi sombong, bukan lagi angkuh, bukan Raden Arya yang dikenal dunia luar. “Tolong

