Ayu baru saja merapikan ikatan rambutnya ketika pintu kamar terbuka keras, seperti diterjang begitu saja dengan hentakan dari seseorang yang menahan amarah. Raden Arya berdiri di ambang, wajahnya gelap, napasnya tak beraturan. Aroma hujan dan asap rokok tipis masih menempel di jasnya. Tatapan Ayu sempat membeku satu detik. Satu detik saja. Setelah itu ia kembali dingin—seolah tak ada yang mengejutkan dari kedatangan pria itu. Arya tak peduli. Tak peduli dengan penampilan istrinya yang hanya mengenakan bedrobe putih. Ia melangkah cepat seperti bayangan gelap yang menguasai ruangan itu. Tangan besarnya menyambar lengan Ayu, cukup kuat hingga membuat tubuh Ayu sedikit tersentak ke depan. Tepat ke d**a bidangnya. “Dari mana saja kamu, Ayu?” Suaranya rendah, dalam, namun penuh amarah yang t

