Senja terlihat di atas atap joglo keluarga Tanumaja, memantul pada ukiran-ukiran kayu jati yang menjadi kebanggaan turun-temurun. Di serambi menghadap taman kenanga, Linggarjati Tanumaja duduk bersama ibunya, Leyla Erdem Tanumaja, wanita berdarah Turki yang sejak muda menetap di Surakarta setelah menikah dengan Raden Mahendra Tanumaja. Dengan memakai kemeja batiknya di tubuh tegapnya. Tas kulit dan koper kabin Linggar sudah tertata di dekat pilar pendopo. Ia akan berangkat malam ini menuju Turki. Leyla menuangkan teh mawar—resep dari ibunya di Ankara—ke cangkir Linggar. “Jadi, kamu sudah benar-benar pasti berangkat malam ini?” Leyla membuka percakapan lembut. Linggar mengangguk. “Iya, Bu. Ada beberapa agenda bisnis tekstil dan pertemuan dengan duta dagang di Istanbul. Dan juga menguru

