Ayu tertegun. Sentuhan itu datang terlalu cepat dan semakin membuat jarak mereka dekat. Aroma tobaco dan wangi khas tubuh Arya bercampur dengan harum melati dari kulitnya sendiri, menciptakan ruang sempit yang menyesakkan d**a.
"Raden Arya!" suaranya meninggi dengan sedikit bergetar. Tangan kecilnya mendorong d**a bidang suaminya yang menunduk di hadapannya. “Lepas!”
Tapi Arya hanya tersenyum miring, jemarinya masih bertumpu di meja rias, mengurung tubuh Ayu yang kini duduk di atasnya. “Kenapa, cah ayu?” suaranya dalam, serak dengan nada memggoda. “Bukankah tadi njenengan yang berjalan di depanku dengan handuk segini tipis?”
Ayu menatapnya tajam. “Kamu sedang bicara dengan wanitamu. Jadi tidak perlu menggubrisku."
“Saya punya mata Cah ayu, bagaimana saya tidak melihatnya jika njenengan dengan keadaan seperti ini berjalan di hadapan saya?” tanyanya lagi dengan sedikit mengejak.
“Aku tidak sudi diperlakukan seperti ini!” Ayu mendorong lagi, tapi Arya tetap tak bergeming. Tatapan pria itu justru semakin menusuk—gelap, dalam, dan entah mengapa terasa marah.
“Lucu.” ucap Arya lirih, ada senyum aneh yang muncul di wajah bule itu. “Kau bisa begitu tenang mendengar aku menelepon wanita lain, tapi begitu aku menyentuhmu sedikit saja, kau berontak seolah aku orang asing.”
Ayu menegakkan tubuhnya, berani menatap balik. “Kamu memang orang asing bagiku, Raden Arya. Tidak peduli seberapa banyak orang memanggilku Raden Ayu, aku tahu siapa aku — dan aku bukan milikmu untuk diperlakukan sesuka hatimu.”
Kata-kata itu menampar keras, meski diucap dengan nada lirih. Senyum Arya memudar, tergantikan oleh guratan tak terbaca di wajahnya.
“Bukan milikku?” ulangnya pelan, nyaris berbisik di telinga Ayu. “Kau pikir pernikahan kita cuma permainan, Ayu?”
“Aku pikir, kamu yang memperlakukannya seperti permainan,” balasnya cepat.
Hening. Hanya napas keduanya yang berat, membentuk jarak yang tak bisa disebut jauh tapi juga tak lagi dekat. Lalu, perlahan Arya menarik diri. Tatapan itu tetap tertuju pada Ayu, tapi kini ada sesuatu yang berbeda — bukan amarah, bukan pula kelembutan. Semacam luka yang tak mau diakui.
“Berpakaianlah. Eyang Kakung menunggumu di pendapa,” ujarnya datar, melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Begitu pintu tertutup, Ayu baru sadar tangannya bergetar. Ia menatap bayangan dirinya di cermin—wajah yang tampak kuat di luar tapi mulai retak di dalam. Satu napas panjang ia hela, lalu berdiri.
“Kalau ini yang disebut pernikahan, mungkin memang aku harus belajar untuk tidak berharap,” gumamnya lirih.
----
Tiga mobil hitam beriringan membelah jalanan pagi menuju gedung megah Maheswara Corp. Kabut tipis masih menempel di antara pepohonan kota kecil itu, sementara matahari baru saja mengintip malu dari balik langit timur. Di mobil paling depan, duduk dengan tenang Eyang Adiguna — sosok tua yang disegani, wajahnya teduh namun penuh wibawa. Tangannya bersandar pada tongkat, tatapannya menatap keluar jendela, seolah tengah membaca arah angin dari perubahan nasib cucunya sendiri.
Mobil kedua, mobil keluarga utama, diselimuti keheningan yang bisa membekukan udara. Di dalamnya duduk Raden Arya Maheswara dan Raden Ayu — sang istri yang tampak terlalu tenang untuk ukuran perempuan yang hatinya baru saja dikoyak kenyataan.
Ayu tampak anggun pagi itu. Ia mengenakan rok putih panjang berbahan chiffon yang mengalir lembut di sekitar betisnya, dipadu blazer coklat muda bermotif plaid yang dibalut dengan sabuk hitam tipis di pinggangnya. Rambut hitam legamnya dibiarkan terurai, bergelombang ringan di bahu. Sepasang sepatu hak berwarna nude membuat posturnya semakin tegap. Di tangannya, tas kecil merah marun menjadi satu-satunya warna yang menonjol — tegas, berani, dan tidak tergantikan, seperti dirinya.
Arya beberapa kali mencuri pandang, seolah tak bisa menolak pesona yang terpancar dari sosok istrinya itu. Tapi setiap kali matanya berhenti lama, hatinya seakan berkhianat — dirinya sedang memikirkan wanita lain yang tadi pagi menelponnya, Sekar. Nama itu saja sudah cukup membuat napasnya terasa berat.
Mobil terus melaju, dan suara mesin menjadi satu-satunya musik pengiring di antara mereka.
“Bicaralah pada Eyang Kakung nanti,” ujar Arya akhirnya, suaranya berat tapi terukur. “Katakan padanya kalau... aku dan kamu ingin kembali ke Pendopo Arga. Dari awal pernikahan kita, kita hidup di pendopo sendiri. Kenapa sekarang malah disurih tinggal di pendopo utama?.”
Ayu menoleh perlahan, alisnya sedikit terangkat. Tatapannya dingin tapi tak kasar — seperti seseorang yang tau dibalik ucapan lelaki di sampingnya. “Kenapa tidak panjenengan sendiri yang bicara dengan Eyang Kakung?” tanyanya datar.
Arya membalas tatapan itu, tapi hanya sebentar sebelum matanya kembali menatap ke depan. “Kau sudah tahu jawabannya, bukan?”
Senyum kecil — yang lebih mirip luka — muncul di sudut bibir Ayu. “Tahu,” ujarnya pelan, “tapi saya ingin mendengarnya langsung dari panjenengan.”
Arya mendengus pelan. “Aku tidak mau membuat Eyang kecewa. Kau tahu beliau lebih mendengarkan kata-kata perempuan dalam urusan rumah tangga. Dan—”
Ayu memotong kalimat itu. “Dan panjenengan ingin saya menuruti keinginan panjenengan lagi?”
Nada suaranya lembut, tapi tegas. “Raden Arya, saya kira sudah cukup saya menjadi boneka sopan yang bisa diperintah untuk menutupi kegelisahan panjenengan.”
Arya menatap istrinya kali ini — sungguh-sungguh. Ada sesuatu yang bergetar di matanya, antara marah dan tak percaya. “Atau jangan-jangan kamu ingin seperti ini, Ayu?” ucapnya menahan emosi. “Tinggal satu atap denganku, agar aku bisa dekat denganmu?”
Ayu menatapnya lama, sangat lama, sebelum akhirnya ia menarik napas panjang. “Maksud panjenengan apa, Raden Arya?” suaranya menurun, tapi dingin.
Arya tak menjawab. Hanya diam.
“Seperti yang sudah saya katakan,” lanjut Ayu perlahan, tapi penuh tekanan, “saya tidak sudi dengan panjenengan. Saya berbeda dengan Sekar — cinta pertama panjenengan.” Kata cinta pertama keluar begitu tegas, penekanan yang membuar Arya segera menatap sang istri.
Wajah Arya menegang, rahangnya mengeras. Ia ingin membalas, tapi tidak ada kata yang pantas keluar. Yang tersisa hanya keheningan panjang, diisi dengan suara mesin dan detak jam digital di dashboard mobil.
Ayu menatap keluar jendela. Cahaya pagi semakin terang. Gedung Maheswara Corp sudah tampak menjulang di kejauhan — kokoh, dingin, dan menakutkan dalam caranya sendiri.
Ketika mobil berhenti di depan lobi, Ayu langsung membuka pintu tanpa menunggu suaminya. Ia berjalan cepat menuju mobil pertama, di mana Eyang Adiguna sudah menunggu dengan kursi roda.
“Eyang, biar Ayu bantu,” ucapnya lembut.
“Wah, cucuku satu ini selalu sigap,” sahut Eyang dengan senyum hangat.
Ayu membalas dengan senyum kecil, lalu dengan lembut membantu menurunkan Eyang dan mendorong kursi rodanya ke arah lobi utama. Sementara di belakang, Raden Arya hanya berdiri diam — menatap punggung istrinya yang semakin menjauh.
Ada sesuatu yang berubah pagi itu. Bukan hanya di hati Ayu, tapi juga di dalam dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Arya merasa kalah — bukan dalam cinta, tapi dalam harga diri.