Keputusan

1634 Words
Para petinggi Maheswara tiba di halaman depan kantor pusat Maheswara Corp, seluruh suasana gedung seakan berubah seketika. Para karyawan yang semula sibuk dengan aktivitas pagi — menata berkas, membawa kopi, menekan tombol lift — langsung berdiri dan menunduk hormat begitu melihat sosok tua yang menjadi legenda hidup perusahaan itu. “Selamat pagi, Eyang Adiguna…” ucap beberapa karyawan serempak, dengan suara menunduk namun penuh hormat. Raden Adiguna Maheswara tersenyum ramah. Dengan tongkat di antara kakinya dan Ayu yang mendorong kursi rodanya, ia menatap satu per satu karyawannya dengan mata teduh. “Sudah, sudah… lanjutkan saja pekerjaan kalian, nggeh?” ujarnya lembut, tapi penuh wibawa. “Saya hanya ingin berkunjung saja, bukan inspeksi. Sampun nggeh.” “Nggeh, Eyang…” jawab mereka kompak. Begitulah sosok Raden Adiguna Maheswara. Dihormati bukan karena kekuasaan, tapi karena kebijaksanaan dan kehangatan yang jarang dimiliki pengusaha besar sepertinya. Namun di antara kerumunan yang menunduk, beberapa mata justru terpaku pada sosok anggun yang berjalan di belakang beliau — Raden Ayu Kirana Ratnadewi, istri dari CEO muda Maheswara Corp, Raden Arya Maheswara. Perempuan itu tampak berwibawa sekaligus elegan. Gaun putih lembutnya melangkah mantap di samping sang suami, blazer yang dipadu rapi membuatnya terlihat seperti lambang baru dari ketenangan dan kecerdasan. Bahkan para karyawan wanita tak bisa menahan diri untuk membisikkan kekaguman di antara mereka. “Cantik banget, itu istri Raden Arya, kan?” “Iya… auranya beda banget ya. Anggun tapi dingin.” Sementara itu, Eyang Adiguna menatap sekeliling ruangan dengan mata penuh pertimbangan. Suasana hening sesaat, sebelum beliau menatap ke arah cucunya. “Raden Arya,” ucapnya dengan nada tenang tapi berisi. “Panggilkan sekretarismu. Sekar, bukan?” Mendadak seluruh tubuh Arya menegang. Tangannya yang sejak tadi menggenggam jam tangan di pergelangan, kini terasa kaku. Sekilas ia menoleh ke arah Ayu yang memilih diam, pandangannya hanya lurus ke depan sambil tetap mendorong kursi roda sang Eyang. Ia tahu apa maksud di balik permintaan itu — dan ia tahu Eyang Kakung tidak sedang ingin bersilaturahmi. “Nggeh, Eyang…” suaranya nyaris tak terdengar. Beberapa menit kemudian, langkah cepat Sekar terdengar mendekat. Wangi parfumnya memenuhi udara sebelum sosoknya muncul di ambang pintu. Rambut panjang dibiarkan terurai, bibir merah mencolok, dan pakaian yang... terlalu berani untuk lingkungan kerja. Blus ketat dengan rok mini dan jaket tipis yang menggantung di bahunya. “Mas Arya!” serunya ceria tanpa melihat sekitar, lalu spontan berlari kecil dan memeluk pria itu dari samping. “Aku kira rapat pagi ini dibatalkan, jadi—” “Ehem!” Suara berat itu menggema, membuat seluruh ruangan menegang. Sekar menoleh dan seketika wajahnya pucat. Di hadapannya, duduk Raden Adiguna Maheswara — sang pendiri, sang pemilik, sosok yang bahkan direktur pun tidak berani bercanda di depannya. “E—Eyang Kakung…” Sekar terbata, langsung menunduk dengan canggung. Eyang hanya mengusap tongkatnya pelan, lalu menatap Sekar dari kepala hingga kaki dengan pandangan yang dingin tapi terkendali. “Nak Sekar,” ucapnya perlahan, tapi tegas. “Panjenengan masih ingat ini tempat kerja atau tempat hiburan malam?” Sekar menelan ludah. “Maaf, Eyang… saya hanya—” “Tidak perlu menjelaskan,” potong Eyang Adiguna. “Saya sudah cukup tahu siapa yang pantas dan siapa yang tidak.” Tatapan beliau kemudian beralih pada cucu dan menantunya. “Mulai hari ini, per detik ini,” suaranya berat namun jernih, “Sekar tidak lagi menjadi sekretaris CEO. Panjenengan saya pindahkan ke divisi humas. Dan posisi sekretaris utama akan digantikan oleh Raden Ayu Kirana Ratnadewi.” Suasana mendadak hening. Bahkan suara mesin printer di sudut ruangan pun terasa seperti berhenti. Benar, apa yang di minta Eyang kakung semalam, tanpa menunggu dan ba bi bu, semua terjadi begitu saja. Sekar terbelalak. “E-Eyang… mohon maaf, tapi—” “Cukup,” potong beliau cepat, suaranya kini lebih dingin. “Jangan membantah keputusan yang saya buat di tempat saya sendiri.” Tatapan matanya menusuk, membuat Sekar menunduk semakin dalam. Arya sendiri tertegun. Ia menatap Eyang, lalu istrinya. Mulutnya sempat terbuka, tapi tak ada kata keluar. Ia tahu — protes sedikit saja, dan beliau bisa menganggapnya durhaka. Eyang Adiguna lalu menghela napas pelan, menatap cucunya tajam namun penuh makna. “Raden Arya, terkadang orang muda lupa… bahwa tempat kerja bukan tempat untuk menuruti hati. Dan cinta yang tidak dijaga dengan hormat, hanya akan memjadi aib.” Kalimat itu menohok, menembus ke d**a Arya lebih dalam dari yang bisa ia tunjukkan. Ia hanya menunduk, mengepalkan tangan di samping tubuhnya. “Dan untuk panjenengan, Nak Sekar,” lanjut Eyang sambil memejamkan mata sejenak, “anggap ini pelajaran. Tidak semua kedekatan berarti cinta, dan tidak semua cinta pantas diperjuangkan.” Ayu berdiri di sampingnya, tetap diam tapi berwibawa. Tidak ada senyum kemenangan, tidak ada tatapan merendahkan. Ia hanya menunduk hormat ketika Eyang menatapnya. “Mulai hari ini, tanggung jawab sekretaris CEO Maheswara Corp saya serahkan pada panjenengan, Raden Ayu. Jaga nama keluarga dan perusahaan ini. Maheswara tidak butuh drama, tapi dedikasi.” “Nggeh, Eyang…” jawab Ayu lembut, suaranya stabil namun jelas. Dan di saat itu, Sekar hanya bisa berdiri di tempatnya, bibirnya bergetar, sementara mata Arya tertunduk dalam. Satu keputusan pagi itu mengubah segalanya — bukan hanya struktur perusahaan, tapi keseimbangan hati di antara mereka bertiga. ----- Ruang kerja CEO Maheswara Corp selalu tampak gagah dan rapi — dinding kaca berlapis tirai abu tipis, meja hitam mengilat dengan tumpukan berkas, serta aroma khas parfum maskulin yang samar. Tapi pagi itu, bukan wibawa yang terasa di ruangan itu. Yang ada hanyalah tekanan dingin antara dua manusia yang berdiri berhadapan dalam diam. Raden Arya Maheswara menatap istrinya dengan rahang menegang. Dasi yang tadi rapi kini sedikit longgar, menunjukkan amarah yang ditahannya sejak keluar dari ruang utama. Sementara di sisi lain, Raden Ayu Kirana Ratnadewi berdiri tegak dengan ekspresi tenang. Ia tidak bicara apa pun, hanya menatap selembar surat keputusan di tangannya — surat dari Eyang Kakung yang menetapkannya sebagai sekretaris utama. Suara benturan keras terdengar. “Apa kamu puas?” Nada suara Arya serak, tapi sarat dengan emosi. Tangannya menghantam meja kerja, membuat gelas kristal bergetar pelan. “Puas kamu melihat aku dipermalukan di depan eyangku sendiri, hah, Raden Ayu?” Ayu hanya menatapnya sebentar, lalu menaruh surat itu dengan hati-hati di atas meja. “Kenapa baru protes sekarang, raden?” tanyanya datar. “Kenapa tadi tidak berbicara langsung di depan Eyang Kakung?” Tatapan Arya mengeras. “Jangan memutar balikkan kata-kataku.” “Saya tidak memutar balikkan apa pun.” Ayu menatap lurus, suaranya tetap lembut namun menohok. “Panjenengan hanya berani setelah Eyang tidak di sini.” “Cukup, Ayu.” Arya mendesis. “Jangan coba-coba menguliahi aku.” “Saya tidak sedang menggurui,” jawab Ayu tenang, namun sorot matanya tajam seperti belati. “Saya hanya mengingatkan. Karena dari semua yang saya tahu, panjenengan hanya membisu tidak ada niatan untuk protes, lalu kenapa protes ke saya sekarang? Apa kamu takut?” Arya terdiam sepersekian detik — cukup lama untuk membuat napasnya terdengar berat. “Aku tidak takut pada siapa pun.” “Tapi panjenengan tidak bisa melindungi siapa pun,” balas Ayu pelan, dengan senyum getir di ujung bibirnya. Suasana semakin mencekam. Udara terasa pekat. Arya menatap istrinya tajam, tapi di balik kemarahan itu ada sesuatu yang lain — seakan merasa rendah dirinya akan ucapan menohok dari sang istri. “Jangan berpikir jabatan itu akan membuatmu berharga di mataku, Ayu,” katanya rendah. “Aku tahu siapa yang seharusnya ada di sini, bukan kamu.” Ayu menegakkan bahunya, menatap suaminya tanpa gentar. “Kalau begitu, katakan pada Eyang. Jangan pada saya.” Nada suaranya lembut, tapi dengan nada dingin. “Saya tidak pernah meminta jabatan ini. Saya hanya menuruti titah beliau.” Pintu ruangan tiba-tiba terbuka. “Mas Arya…” suara lembut itu masuk bersamaan dengan langkah ringan beraroma parfum manis. Sekar berdiri di ambang pintu dengan wajah dibuat sesedih mungkin. Ia mengenakan blus putih ketat yang baru, dengan mata berair seolah baru saja menangis. “Saya minta maaf, Mas… Saya benar-benar tidak tahu kalau Eyang Kakung datang…” suaranya lirih, memelas, penuh sandiwara. Ia berjalan mendekat, mencoba menyentuh lengan Arya. Ayu hanya diam. Wajahnya tetap datar, tapi jemarinya yang memegang map tampak mengencang. Tidak, dirinya tidak cemburu sama sekali. Melainkan dirinya begitu jijik melihat benalu dan ulat bulu yang semakin membuat matanya gatal. “Saya cuma… saya nggak sanggup kalau dipisahkan dari Mas Arya. Saya selama ini sudah bantu Mas, saya tahu semua sistem Maheswara…” Sekar menatap Arya seperti anak kecil yang kehilangan mainan. “Kenapa harus saya yang dipindahkan?” Arya menarik napas panjang, menatap wanita itu dengan pandangan campur aduk. “Sekar, tenanglah dulu—” Namun suara Ayu memotong pelan dengan nada jelasnya, “Kalau memang merasa dirugikan, sebaiknya panjenengan menghadap Eyang langsung. Bukan menangis di sini,” ucapnya datar. Tatapannya menusuk tanpa perlu meninggikan nada. “Atau mungkin panjenengan ingin saya bantu buatkan janji dengan beliau?” Sekar membeku sejenak — wajahnya berubah merah padam karena malu. Arya langsung menoleh cepat, nadanya meninggi. “Cukup, Ayu! Jangan bicara seperti itu di hadapanku!” Ayu menatap balik tanpa gentar, meski nada suaminya nyaris membentak. “Saya bicara sesuai tempatnya, raden. Panjenengan yang tidak bisa menempatkan mana urusan kantor dan mana urusan ranjang.” Kata-kata itu menggema di ruangan. Sekar menahan napas, Arya terdiam dengan rahang terkunci — antara marah dan terkejut akan ucapan pedas istrinya. . Ayu menghela napas pelan, lalu menunduk hormat kecil. “Kalau sudah tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, saya pamit. Saya akan kembali ke ruangan saya.” Ia berbalik dengan langkah ringan tapi tegas, suara hak sepatunya memantul di lantai marmer. Begitu pintu tertutup, hanya ada keheningan tersisa. Sekar berdiri kaku, sementara Arya menatap pintu itu lama sekali — menahan napas, menahan harga diri yang baru saja disayat oleh satu kalimat sederhana dari istrinya sendiri. Baru kali ini, Raden Ayu Kirana Ratnadewi bukan hanya membuatnya diam — tapi juga kalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD