Raden Ayu berdiri di depan cermin besar toilet wanita. Wajahnya cantiknya sedikit pucat, bibirnya bergetar pelan saat menatap bayangan sendiri. Ia mencoba mengatur napas yang sejak tadi tersengal karena menahan emosi. Apalagi sejak keluar dari ruangan suaminya. Dirinya tidak mencintai Arya… bukan—belum, batinnya getir untuk menyangkalnya. Tapi setiap hari melihat pemandangan seperti tadi—melihat suaminya begitu ramah, terlalu lembut pada wanita lain—bukankah lama-lama hati seorang istri bisa patah juga? Tangannya mengepal di atas wastafel, urat-urat halus di punggung tangannya menegang. Jika bukan karena ingat dengan tata krama dan darah bangsawan yang mengalir di tubuhnya, mungkin tadi ia sudah menarik rambut wanita itu di depan semua orang. Membungkam bibirnya yang suka bicara seenak

