89

1542 Words

Mereka duduk berempat di ruang tengah pendapa dengan suasana hangat sebagai keluarga. Raden Arua dan juga Widia dengan sengaja berkunjung ke pendapa Emir. Suara gamelan mengalun pelan, hangat sebagai latar mereka sore ini, seperti jeda sebelum perpisahan. Raden Linggar duduk santai dengan satu tangan melingkar protektif di pinggang Raden Ayu. Perut Ayu yang membulat enam bulan itu tampak jelas di balik dress dengan motif bunga berwarna pastel. Tampak cantik sekali, apalagi dengan aura ibu hamil yang semakin mempesona saja. Kehamilan enam bulannya ini tampak lebih besar dari yang seharusnya. Kondisi itu membuatnya sedikit susah bergerak dan cepat lelah. Seperti yang terjadi saat ini. Setiap kali Ayu bergeser sedikit, Linggar refleks menyesuaikan posisinya, seolah takut ada yang tak nyaman

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD