Udara sore yang masih menyisakan hangat matahari terasa tertahan, seolah ikut menunggu satu kalimat sakral yang akan mengubah hidup banyak orang. Karpet hijau zamrud terhampar rapi, senada dengan busana para tamu inti. Di depan sana, Raden Arya Maheswara duduk tegak, bersila dengan punggung lurus—wajahnya tenang, meski denyut di pelipisnya berkhianat. Bahkan dadanya pun tak setenang sikapnya. Meski ini adalah pernikahan keduanya, dan kedua kalinya mengucapkan ijab kabul. Namun saat ini adalah pertama kalinya dirinya dengan tulus dan keinginan hatinya untuk mempersunting seseorang. Di hadapannya, wali hakim telah siap. Widia Prameswari Ningtyas duduk di ruang terpisah, didampingi para ibu dari keluarga Tanumaja dan Wicaksana—keluarga yang membesarkannya, mendidiknya, mengajarinya arti p

