Pintu ruang sekretaris utama tertutup dengan dentuman lembut. Hingga beberapa saat kemudian, Raden Arya Maheswara berdiri di ambang pintu itu, napasnya masih berat menahan kemarahan yang masih tersisa. Di balik meja besar itu, Raden Ayu berdiri dengan tenang — tapi tangan-tangannya sibuk, merapikan map, menata berkas, dan menyeka debu di permukaan meja seolah yang terjadi beberapa menit lalu hanyalah perkara sepele. Itu saja belum membuat Ayu puas. Wajahnya tenang, tapi jemarinya sedikit bergetar. Luka yang tadi baru saja diukir di depan banyak mata masih terasa basah — tapi ia menutupinya sempurna. Dingin. Anggun. Tak tersentuh. Di bertekat, apa yang dilakuan Raden Arya padanya, dirinya akan membalasnya. “Apa-apaan ini, Raden Ayu?” Suara Arya akhirnya memecah keheningan. Berat. Tert

