Setelah persetubuhan panas semalam, Ellen tidak bisa turun dari ranjang. Ia merasa jika bagian intimnya terluka karena ulah sang suami. Ellen memiringkan tubuhnya dan melihat Oliver yang masih memejamkan mata di sampingnya. Perlahan senyum Ellen merekah, tangannya menyentuh wajah Oliver yang mulai tumbuh bulu halus.
“Kau sudah bangun?” Suara Oliver terdengar serak, membuat Ellen melepaskan sentuhan-nya.
“Ma-maaf.”
“Kenapa? Aku adalah suamimu sekarang, kau tidak perlu malu padaku.”
“Aku … belum terbiasa.”
“Kita akan pergi berbulan madu setelah ini,” ujar Oliver.
“Ehm … baiklah.”
Ellen tersenyum, lalu ia berusaha menahan rasa nyeri pada bagian bawahnya. Ia berjalan sedikit tertatih, dan membuat Oliver tersenyum kecil melihatnya. Pria itu segera mengikuti langkah Ellen, lalu meraih tubuh kecil istrinya.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Ellen.
“Aku akan membantu-mu membersihkan diri,” jawab Oliver.
Mereka masuk ke dalam kamar mandi, lalu perlahan … Oliver menurunkan tubuh Ellen dari gendongannya. Oliver menghidupkan shower, dan mengatur suhu air yang keluar dari sana.
“Cukup hangat, mandilah.” Ucapan Oliver membuat Ellen sedikit tersipu.
Bagaimana bisa ia sangat beruntung. Mendapatkan seorang pria yang terlihat kaku, tetapi memiliki hati dan sikap yang hangat jika bersamanya. Ellen dengan segera membasahi seluruh tubuhnya dengan air, lalu menekan dispenser sabun dan membalur seluruh tubuh dengan busa lembut. Sedangkan Oliver berada di shower yang ada di samping Ellen. Ya, di dalam kamar mandi itu terdapat dua shower, sehingga mereka tidak perlu menunggu untuk membersihkan diri.
“Kau ingin sarapan di dalam kamar atau ke restoran, sayang?” tanya Oliver.
“Ehm … aku tidak ingin kau malu, sebaiknya kita makan di dalam kamar saja,” jawab Ellen.
“Malu? Apa yang akan membuat aku malu? Aku memiliki istri yang sempurna.”
Ellen kembali tersipu, ia tidak pernah dipuji.
“Jangan membuat aku terbang terlalu tinggi, Oliver. Kau bisa saja membuat aku terbunuh jika suatu saat kau menjatuhkan diriku dari ketinggian itu,” ujar Ellen.
“Sayang … terbanglah, dan jika kau terjatuh, aku akan berada di bawah untuk menangkapmu.”
Oliver menyudahi kegiatannya dengan meraih handuk dan mengeringkan tubuhnya. Ia berjalan keluar dari dalam kamar mandi. Sedangkan Ellen hanya menatap kagum pada Oliver. Pria kaya itu kini menjadi suaminya, dan dengan segala kesempurnaan yang dimiliki Oliver, Ellen seperti sedang menjadi seorang Cinderella.
Saat Ellen keluar dari kamar mandi, ia melihat Oliver yang sudah menyiapkan hidangan untuk mereka sarapan.
“Kenakan pakaianmu, kita makan bersama, Sayang,” ujar Oliver.
Ellen mengangguk, lalu meraih pakaiannya. Selesai dengan semua itu, Ellen kini duduk di samping Oliver. Terlihat jelas jika Ellen merasa tidak nyaman saat duduk. Beberapa kali ia seperti sedang meringis menahan sakit. Dan membuat Oliver bertanya.
“Apa itu sakit?” tanya Oliver.
Ellen mengangguk mengiyakan. Oliver menghela napasnya, lalu meminta maaf pada Ellen.
Mereka pun menikmati hidangan yang ada di hadapannya, hingga kegiatan itu selesai. Mereka akhirnya bersiap untuk langsung pergi dari hotel itu.
“Kita akan langsung menuju bandara, kita akan pergi ke Bali,” ujar Oliver.
Ke duanya kini berjalan berdampingan, mereka terlihat begitu segar dan juga seperti pasangan yang sempurna. Ada banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka. Dan saat sampai di lobby hotel, seorang wanita mendekati Oliver.
PLAK
Suara tamparan itu terdengar begitu keras, dan banyak yang melihat kejadian saat itu. Ellen terkejut dengan apa yang dilakukan wanita itu pada Oliver. Wanita itu terlihat kesal, dan wajahnya juga seperti baru saja menangis.
“Kau jahat!” teriak wanita itu.
Tidak ada perubahan pada wajah Oliver, ia seperti membiarkan apa yang dilakukan wanita itu.
“Apa kau sudah selesai? Aku dan istriku harus pergi berbulan madu saat ini,” ujar Oliver.
PLAK
Sekali lagi … wanita itu mendaratkan tamparan pada wajah Oliver.
“Nona, apa yang kau lakukan? Apa ada masalah diantara kalian?” sahut Ellen yang tidak tahan melihat tingkah laku wanita itu.
“Diam! Kau, Kau hanya seorang w***********g yang merebut Oliver dariku!” ujarnya menjelaskan.
Ellen menatap aneh pada wanita itu, lalu ia melirik Oliver yang kini masih bersikap tenang.
“Sayang … sebaiknya kau masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Aku akan segera menyusul,” ujar Oliver pada Ellen.
“Baiklah. Suka atau tidak, aku menunggu penejelasanmu atas kejadian ini, Oliver,” ujar Ellen.
“Tentu.”
Saat itu juga Ellen berjalan menuju mobil, sedangkan Oliver dan wanita itu kini menepi dan berbicara di lobby hotel. Ellen terlihat bingung, ia menggepalkan tangannya, menahan rasa sakit di dalam d**a.
“Kenapa aku merasa sakit hati? Kami menikah hanya karena kontrak,” gumam Ellen.
Ellen menatap kea rah Oliver yang kini berjalan mendekati dirinya. Oliver membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Oliver bisa melihat rasa kecewa yang kini tengah di rasakan oleh istrinya. Ia menyentuh tangan Ellen lalu menggenggamnya.
“Sayang … maaf atas kejadian tadi.”
“Oliver, aku sedang menunggu.”
“Ia kekasihku, sebelum kita menikah. Aku sudah mengakhiri hubungan kami saat memutuskan untuk menikahi dirimu.”
“Apa? Kau menyakiti hati wanita lain hanya untuk menikahi aku? Oliver … apa kau tidak memikirkan jika aku ada di posisi wanita itu?” sahut Ellen.
“Tidak. Karena kau tidak berada di posisinya.”
Ellen terdiam, ia tidak ingin masalah ini semakin memperkeruh hubungan yang baru saja mereka resmikan.
“Kenapa? apa sudah cukup penjelasan dariku?” tanya Oliver.
“Aku … tidak akan bertanya lagi.”
“Jalankan mobilnya!” ucap Oliver pada supir.
Mobil itu bergerak perlahan, meninggalkan lobby hotel yang menampilkan wanita itu. Ellen lebih banyak diam saat ini, dan ia enggan bertanya ataupun sekedar berbicara ringan dengan suaminya. Dadanya masih terasa sakit karena kejadian di lobby hotel.
“Apa kau akan terus seperti ini?” tanya Oliver.
“Mungkin bagimu sangat mudah melupakannya. Tetapi tidak bagi kaum wanita seperti aku,” jawab Ellen.
Mereka sudah berada di dalam pesawat pribadi milik Oliver. Dan sebentar lagi, pesawat itu akan mendarat di bandara I Gusti Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Oliver meyakinkan Ellen jika ia tidak akan berhubungan dengan siapapun selama pernikahan itu masih berjalan. Karena batas dari hubungan mereka adalah kontrak yang sudah di tandatangani oleh keduanya di depan notaris.
Saat pesawat sudah mendarat, ke duanya keluar dan menuju ke sebuah mobil yang sudah Oliver persiapkan. Mereka akan tinggal di wilayah Ubud, Bali. Karena Villa milik Oliver ada di sana, dan saat ini sudah siap menyambut mereka.
Terlihat di depan gerbang Villa itu, sebuah banner ucapan selamat datang terpampang jelas. Ellen juga terlihat sangat menyukai perjalanan mereka. Ia tersenyum saat melihat ada tiga wanita dengan pakaian khas Bali sedang mengalungkan bunga pada leher ke duanya.
“Selamat datang,” ucap seorang dari wanita di sana.
Ellen terlihat tidak mengerti dengan bahasa yang mereka ucapkan, dan akhirnya Oliver menjawab,” terima kasih.”
Ellen menatap Oliver, ia tidak menyangka jika pria di sampingnya bisa menggunakan bahasa di Negara itu.
“Kita masuk, karena aku sudah menyiapkan semuanya untukmu,” ujar Oliver.
Ellen akan melangkah masuk, tetapi Oliver terlebih dahulu meraih tubuhnya dan menggendongnya masuk ke dalam sana.
“Kenapa kau terlihat kaku?” tanya Oliver.
“Aku masih belum percaya jika kita sudah menikah,” ucap Ellen yang akhirnya mendapatkan ciuman dari Oliver.