Chapter 6

1131 Words
The Morgan Villas terletak di tengah kawasan tropis yang rimbun dan hijau.kamar yang ditempati Oliver dan juga Ellen memiliki private pool yang eksotis menghadap hutan. Dengan bangunan yang dominan terbuat dari kayu, villa ini memberikan suasana back to nature yang mewah. Kamar mereka juga sudah di desain dengan begitu cantik. Dan kamar mandi di dalam sana memiliki dinding kaca unik, jika pintu tertutup, secara otomatis kaca akan menjadi buram. Semalaman Ellen mendapat serangan dari Oliver, dan kini ia benar-benar kesulitan untuk turun dari atas ranjang. Ingin sekali ia mengeluh, akan tetapi rasa malu dalam dirinya lebih tinggi. Ellen hanya bisa mengatur napasnya dengan perlahan, agar tidak terlalu emosi dengan sikap Oliver. “Oliver, bangun … apa kau bisa membantu aku?” bisik Ellen. “Hmm? Ada apa?” tanya Oliver dengan mata yang masih terpejam. “Aku ingin ke kamar mandi, tetapi … bagian bawah milikku masih terasa nyeri, aku kesulitan untuk sekedar berjalan ke sana,” jelas Ellen. Oliver pun bergerak, ia turun dari ranjang lalu meraih tubuh Ellen, dan membantunya masuk ke dalam kamar mandi. “Terima kasih.” “Setiap saat, Sayang. Apa aku bisa kembali ke atas ranjang?” tanya Oliver. “Ya, kau bisa kembali ke sana.” Oliver segera keluar dari dalam kamar mandi, sedangkan ellen masih berada di dalam kamar mandi untuk menyelesaikan kegiatannya. Ia terlihat meringis saat ada percikan air yang menyentuh bagian intim miliknya. “Akh! Kenapa rasanya seperti terluka? Apa setajam itu? Tapi … aku melihatnya, dan … itu tumpul,” gerutu Ellen. Ia pun melanjutkan kegiatan itu dengan mandi dan membersihkan dirinya dari sisa percintaan semalam. Setelah itu, ellen keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk yang berbentuk seperti kimono, dan ia sangat kesulitan saat melangkahkan kaki sedikit lebih lebar. “Oliver,” panggil Ellen. Oliver tidak menggubris panggilan Ellen, pria itu masih terlelap di atas ranjang dengan tubuh tanpa mengenakan kain. “Kenapa terlihat kecil? Bukannya semalam begitu besar, hingga membuat milikku terasa sangat penuh,” gerutu Ellen dengan suara lirih. Ia pun berjalan mendekati Oliver, lalu dengan perlahan menutup tubuh suaminya dengan selimut. Ellen berjalan keluar dari kamar, dan ia menemukan hidangan di atas meja makan. Perutnya terasa sangat lapar saat ini, dan ia langsung duduk untuk menikmatinya. “Selamat pagi, Nyonya Morgan,” sapa seorang wanita paruh baya. “Selamat pagi,” balas Ellen. “Selamat menikmati hidangan dari kami. Semoga anda menyukainya,” ujarnya sekali lagi. “Ya, aku pasti akan menikmati hidangan ini.” Setelah sapaan itu, wanita dengan pakaian khas orang Bali segera pergi dari sana. Sedangkan Ellen kini menikmati sarapan seorang diri. Tenaganya seperti terkuras habis karena semalam. Ia pun makan dengan lahap hingga satu piring makanan masuk ke dalam perutnya. “Makanannya terasa nikmat … aku suka,” ucap Ellen. Ellen kembali beranjak dari tempat duduknya, lalu ia melihat ke sekitar tempat itu. Sadar jika ia masih mengenakan handuk, Ellen kembali berjalan masuk ke dalam kamar. Ceklek Saat masuk di dalam kamar, ia tidak melihat keberadaan Oliver di atas ranjang. Tidak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka, dan menampilkan Oliver yang hanya mengenakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya saja. “Kau sudah bangun, Oli.” “Apa makanan di sini begitu nikmat?” tanya Oliver dengan tersenyum. “Maaf, aku sangat lapar.” “Baiklah, maaf karena aku terlalu menikmati kegiatan semalam.” “Tidak apa, bukankah itu salah satu kewajibanku sebagai istri?” “Tidak juga … kenakan pakaian, aku ingin mengajakmu berkeliling.” “Baiklah,” jawab Ellen. Akhirnya mereka mengenakan pakaian, dan Ellen terlihat sedikit terkejut saat melihat Oliver dengan pakaian santainya. “Kau terlihat berbeda, Oli.” “Benarkah? Apa aku terlihat lebih tampan?” tanya Oliver dengan penuh percaya diri. “Apa? Ya … baiklah, apa kau senang jika aku mengatakan kau terlihat tampan dengan pakaian itu,” ujar Ellen dengan tersenyum. Oliver membalas senyuman istrinya, ia segera meraih tangan Ellen untuk mengajaknya keluar dari kamar itu. Saat mereka sudah berada di halaman villa, Ellen terlihat kagum dengan pemandangan sekitar. Sejauh mata memandang, hamparan warna hijau yang menyejukkan mata membuat Ellen tidak ingin cepat kembali ke Australia. “Oli … indah sekali,” gumam Ellen. “Kau suka dengan pemandangan di sini?” tanya Oliver. “Sangat suka, apa aku bisa tinggal di sini saja?” tanya Ellen. “Tidak, tetapi jika kontrak kita selesai, Villa ini akan menjadi milikmu, Sayang,” ungkap Oliver. “Benarkah? Kau serius akan memberikan tempat ini padaku?” tanya Ellen. “Ya, tentu saja. Dan sepertinya kau tidak membaca kontrak itu dengan baik, Sayang.” “Maafkan aku, aku memang tidak membaca keseluruhan isi kontrak.” Oliver hanya tersneyum, lalu ia meraih tubuh Ellen. “Oli! Apa yang kau lakukan?” tanya Ellen. “Aku akan maenggendong tubuh ringanmu menuju ke sebuah sungai kecil yang ada di bawah sana.” “Apa? Tidak! Aku bisa berjalan sendiri, kita akan jatuh jika kau melakukannya sampai bawah sana,” ujar Ellen. “Baiklah, tetapi … tadi pagi ada yang merengek meminta tolong karena merasa nyeri pada bagian hmph!” Mulut Oliver tertutup tangan Ellen, dan ia tidak melanjutkan ucapannya karena hal itu. “Jangan membuat aku malu, Oliver,” ujar Ellen. “Hahaha.” Mereka berjalan bersama menuju ke bagian dasar tempat itu. Dengan jalan yang menurun, Ellen selalu memegang tangan Oliver agar tidak terjatuh. Beruntung saat itu Ellen mengenakan sandal tanpa heels. Sehingga ia terlihat mudah berjalan pada jalanan di sana. “Oli, apa masih jauh?” tanya Ellen. “Tidak … coba kau dengarkan, apa kau mendengar suara air?” tanya Oliver. “Hmm, ya. Samar, tetapi terdengar olehku.” “Tidak lama lagi kita akan sampai.” Ellen mengangguk dan kembali melangkah, sedangkan Oliver yang ada di belakang sang istri selalu bersiaga, agar Ellen tidak terjatuh karena jalan yang licin. Pada area itu hanya terdengar suara serangga dan kumbang. Begitu menenangkan, apalagi udara di sana juga sangat sejuk. Beberapa kali, Ellen terlihat mengambil napas panjang. Lalu ia menghembuskannya perlahan, sampai Oliver terlihat terkekeh karena ulah istrinya yang terlihat lucu dan menggemaskan. “Kenapa kau tertawa, Oli?” tanya Ellen. “Tidak … aku hanya sedang gemas padamu.” “Hmm? Apa aku terlihat seperti boneka yang menggemaskan?” “Tidak, kau jauh lebih menggemaskan dari sebuah boneka,” jawab Oliver. Akhirnya mereka sampai di sebuah sungai kecil, sungai itu terlihat memiliki air yang begitu jernih, dengan ikan yang terlihat jelas sedang berenang di dalam sana. Tidak hanya itu, pada area itu juga terdapat banyak bebatuan besar. “Oli, ada ikan,” ucap Ellen dengan menunjuk pada seekor ikan. “Kau menyukai tempat ini?” tanya Oliver. “Ya, aku menyukainya.” Mereka terlihat mengambil gambar di sana, Ellen tidak ingin menyiakan moment itu. Wanita dengan tas selempang berwarna pink itu, kini mengeluarkan ponsel dan mengambil dirinya. Lalu … ia juga memanggil Oliver untuk bergabung bersamanya. “Oli, kita harus memiliki foto bersama di sini,” ujar Ellen dengan melingkarkan tangannya pada lengan suami. Oliver tersenyum, lalu Ellen mulai menghitung sebelum gambar mereka ditangkap oleh kamera. Cekrek … Ellen sangat bahagia saat itu, dan mungkin tidak akan Ellen rasakan kembali setelah kontrak pernikahan mereka selesai. Tidak lama mereka di sana, ada beberapa orang penduduk asli sedang melewati area itu. Mereka tersenyum menyapa penduduk asli wilayah itu. “Penganten anyar.” [Pengantin baru] Ellen terlihat tidak paham dengan ucapan seorang dari mereka. Sedangkan Oliver hanya tersenyum dan mengangguk menjawabnya. “Oli, mereka mengatakan apa?” tanya Ellen ingin tahu. “Mereka bilang, kau cantik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD