Chapter 7

1092 Words
Bulan madu yang mereka jalani dalam beberapa hari ini memang sungguh menyenangkan. Oliver  selalu membuat Ellen seperti seorang ratu. Ia membuat Ellen selalu nyaman saat melakukan sesuatu, bahkan jika Ellen tidak bisa, Oliver dengan tangkas mengajari istrinya itu. Saat ini, mereka sudah bersiap untuk kembali ke Australia. Oliver harus menghadiri acara gala yang diadakan oleh salah satu temannya. Tidak hanya Oliver yang akan datang, Ellen juga harus ikut hadir ke acara megah itu. “Jadi … apa kita akan kembali kesini?” tanya Ellen. “Aku akan coba mengatur waktu, sekarang kita harus segera kembali ke Aussy, Sayang,” ujar Oliver. “Aku tahu.” Mereka pun masuk ke dalam mobil dan menuju bandara. Selama perjalanan, Ellen lebih banyak diam dan memilih menikmati pemandangan di luar jendela mobil. Sedangkan Oliver hanya berkutat dengan ponselnya, bukan karena hal pekerjaan, melainkan ada seseorang yang masih mengharapkan dirinya. “Sayang …sampai di bandara, kau akan pulang bersama Toni. Aku masih ada urusan lain, tidak apa kan?” tanya Oliver. “Ya, tidak apa-apa Oli … apa Toni itu supir pribadi?” “Ya, mulai saat ini, ia akan menjadi supir pribadimu. Kemana pun kau mau, dia akan dengan senang hati mengantar.” “Baiklah … aku ingin tidur saat sampai di rumah, tubuhku terasa sangat nyeri karena kau semalam terlalu kuat, Oli.” Mendengar kalimat istrinya, Oliver hanya tersenyum dengan  membelai wajah Ellen. Sampai akhirnya mereka naik ke atas pesawat pribadi milik Oliver. Mereka terlihat bahagia saat ini, karena bisa saling melengkapi dan Ellen tidak ada pikiran lain mengenai Oliver maupun wanita yang ia temui di depan hotel setelah pernikahan itu. Oliver melihat Ellen yang sedang memejamkan mata di sampingnya. Wajah lelah akibat memebuhi kewajibannya sebagai seorang istri, membuat Oliver ingin memberikan hadiah kecil untuk Ellen. Saat tiba di bandara, ke duanya berpisah di depan pintu keluar. Ellen bersama Toni, sedangkan Oliver menggunakan mobil lainnya. “Aku akan segera pulang, kau istirahat saja di rumah,” ujar Oliver dengan mengecup kening Ellen. “Hati-hati di jalan, Oli.” “Ya.” Ellen masuk ke dalam mobil, lalu setelah itu Toni menutup pintu dan ia segera ikut masuk ke dalam mobil. Toni yang kini berada di belakang kemudi, lansgung menghidupkan mesin dan melaju. “Nyonya … apa liburan anda menyenangkan?” tanya Toni. “Ya, tentu saja.” “Tuan Oliver selalu bisa membuat seorang wanita bahagia,” ujar Toni. “Benarkah? Apa selain aku, ia pernah melakukannya pada wanita lain?” tanya Ellen ingin tahu. “Ehm … sepertinya hanya anda, Nyonya. Tidak ada yang lain.” Ellen tidak mennaggapi ucapan Toni lagi. Ia kini melihat ke luar jendela, dan menikmati pemandangan kota Sydney. Sampai akhirnya mereka berada di sebuah rumah mewah milik Oliver. Mobil itu melaju dengan perlahan sejak memasuki halaman depan, dan perlahan berhenti di depan pintu masuk rumah. Di depan pintu masuk sudah berjajar rapi para pelayan di dalam rumah itu. Kini Ellen berjalan menaiki anak tangga untuk menuju pintu masuk rumah. “Selamat datang , Nyonya,” sapa seorang pelayan. “Terima kasih. Kalian sangat baik.” “Masuklah, Nyonya. Kami akan membereskan barang-barang anda.” “Terima kasih. Aku ingin tidur setelah mandi, bisakah kalian tidak mengganggu aku?” “Tentu saja. Kamu akan pastikan hanya Tuan Oliver yang bisa mengganggu anda, Nyonya.” Pelayan itu tersenyum, lalu Ellen melangkah masuk ke dalam rumah itu. ia kini berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya bersama Oliver. Bersama dua pelayan yang membawakan tas koper milik Ellen dan Oliver. “Terima kasih, kalian bisa pergi.” Setelah itu … Ellen melepaskan satu persatu pakaiannya, lalu ia memasuki sebuah ruangan yang cukup luar, dan memiliki shower di sana. Ya, Ellen sedang memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Ellen membasahi seluruh tubuhnya dengan air yang keluar dari shower itu. Lalu mulai menekan dispenser sabun untuk membalurkannya ke seluruh tubuh. Nyaman … itulah rasa yang kini di rasakan oleh wanita dengan rambut hitam panjang. Sampai lima belas menit kemudian. Ellen keluar dari dalam kamar mandi, lalu ia segera mengenakan pakaian tidur. Ia meregangkan tubuhnya beberapa saat, lalu mulai membaringkan tubuhnya di atas ranjang. “Ahh … nyaman sekali. Aku ingin tidur dan bermimpi indah saat ini.” Setelah mengatakan hal itu, Ellen mulai memejamkan matanya. Ia pun terlelap di dalam mimpinya yang begitu indah. Tidak lama setelah Ellen terlelap, terlihat mobil milik Oliver memasuki halaman rumah itu. Oliver datang seorang diri, dan ia kini berjalan masuk ke dalam rumahnya. “Apa istriku sudah sampai dengan selamat?” tanya Oliver pada pelayan di sana. “Nyonya sedang terlelap di alam mimpinya, Tuan. Ia berpesan agar tidak ada yang mengganggunya selain anda.” “Benarkah? Aku akan menemui istriku.” Oliver berjalan sedikit cepat untuk sampai di kamar miliknya dengan Ellen. Perlahan … Oliver membuka pintu kamar itu, lalu ia melihat jika Ellen sedang terlelap di sana. “Aku tidak sampai hati untuk membangunkannya.” Oliver membiarkan Ellen untuk tetap terlelap. Sedangkan dirinya kini mulai melepaskan pakaiannya, lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ellen sangat sensitive terhadap suatu bunyi, ia mendengar ada gemericik air dari dalam kamar mandi dan membuatnya terjaga. “Oli? Apa ia sudah kembali?” gumam Ellen. Wanita itu turun dari atas ranjang, lalu mendekati pintu kamar mandi. Tok … Tok … Ceklek … “Oli … ternyata kau, aku pikir orang lain,” ujar Ellen tanpa melihat jika Oliver masih dalam kondisi tidak mengenakan pakaian. Ellen justru mengabaikan pemandangan indah itu, dengan berbalik badan dan kembali brebaring di atas ranjang. Heran … Oliver ingin sekali meremas istrinya itu, akan tetapi ia juga merasa kasihan jika istrinya mengeluh kesakitan. Dengan segera Oliver mengakhiri kegiatannya, lalu ia melihat Ellen sedang membaca sebuah buku. “Kau sudah selesai, Oli?” tanya Ellen. “Ya, Sayang … ada apa?” tanya Oliver. “Tidak ada apa-apa, aku tidak bisa lagi tidur, kau membuat aku terbangun.” “Ah … maafkan aku jika saat di dalam kamar mandi terlalu berisik,” ujar Oliver menyesal. “Tidak, Oli … aku memang seperti ini jika tertidur. Aku bisa terbangun begitu saja saat mendengar suara.” “Jika begitu aku tidak perlu memasang alarm, karena kau pasti akan terganggu jika alarm itu berbunyi,” ujar Oliver. Ellen tersenyum, lalu ia turun dari ranjang, dan mendekati Oliver. “Apa kau tidak takut sakit? Cepat kenakan pakaianmu, Oli.” Oliver tersenyum mendengar ucapan istrinya. Ia pun mengikuti langkah Ellen untuk masuk ke dalam walk In closet yang ada di dalam kamar itu. “Sayang … bagaimana jika seperti ini saja?” ujar Oliver dengan menggoda istrinya melepaskan handuk yang menutupi area bawah miliknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD