Chapter 8

1238 Words
Ellen tidak menyangka jika tingkah suaminya sangat menyebalkan. Beberapa kali Ellen dibuat tertawa karena Oliver yang salah memilih pakaian untuk Ellen. Terkadang ada juga tingkah pria itu yang membuat Ellen kesal, apalagi jika tingkahnya sudah bermanja dengan mencium leher Ellen. Rumah tangga mereka terlihat harmonis, dan seperti tidak ada celah atau tidak ada yang mengira jika pernikahan itu hanya sebatas kontrak saja. Oliver melakukannya dengan totalitas yang tinggi, berbeda dengan Ellen yang masih ragu akan sikap suaminya itu. Hari ini, mereka akan menghadiri sebuah acara gala yang diadakan teman Oliver. Ada banyak sekali tamu yang hadir di sana, termasuk mantan kekasih Oliver yang datang ke hotel untuk menampar pria itu. Kedatangan wanita itu membuat Ellen sedikit cemas. Meski hubungan mereka sebatas kontrak yang Oliver buat, akan tetapi … benih cinta mulai tumbuh di hati Ellen. Bahkan saat Ellen berdiri di samping Oliver, wanita itu seperti tidak menganggap kehadiran Ellen. “Oliver … ternyata kau datang juga,” sapa wanita itu. Oliver sedikit terkejut saat mantan kekasihnya menarik tubuh Ellen agar menjauhi dirinya. Ia melihat Ellen hanya terdiam di belakang wanita itu. Oliver tidak menjawab mantan kekasihnya itu, ia justru membalas dengan mendorong tubuhnya dan tersenyum pada Ellen. “Sayang, apa kau ingin mencicipi kudapan yang ada di sana?” tanya Oliver. “Ya, sepertinya enak. Apa kau mau menyuapi aku, Oli?” tanya Ellen sembari melirik wanita di belakang suaminya. “Tentu saja.” Dan mereka pun pergi menjauhi wanita itu. ke duanya memamerkan kemesraan di depan banyak orang, sampai ada seorang pria yang mendekati mereka dan menyapa. “Selamat malam, Tuan dan Nyonya Morgan … senang bisa bertemu dengan pasangan yang baru-baru ini masuk ke dalam daftar trending,” ujar pria itu. “Kau bisa saja, Ted.” “Selamat malam, Tuan,” balas Ellen. “Sayang, jangan terlalu sopan pada pria ini, dia adalah sahabatku. Dan dia juga yang selalu membantu pekerjaanku selama ini,” jelas Oliver. “Benarkah? Kalau begitu aku senang bisa bertemu orang penting untuk suamiku,” ujar Ellen dengan tersenyum ramah. “Hahaha, jangan seperti itu. Ayolah … apa kalian sudah senang menggoda aku?” tanya pria bernama Teddy. Oliver kini berbincang dengan Teddy, mereka membahas seputar gala yang diadakan oleh temannya. Ada banyak sekali orang penting di sana, dan Ellen melihat ada seorang selebriti yang hadir. “Oli … apa yang di sana itu Chris Hemsworth?” tanya Ellen dengan suara lirih. Oliver berbalik badan untuk melihat apa yang dilihat istrinya, dan ia meng-iyakan pertanyaan Ellen. Ellen terlihat sangat senang saat bisa bertemu artis Hollywood itu. Apalagi Ellen pecinta Marvel, dan ia mengikuti seluruh film yang sudah Marvel tayangkan. “Oli, apa aku bisa berfoto dengan dia?” tanya Ellen kemudian. “Sayang … jangan di sini.” “Oli, aku sangat ingin memiliki kenangan bisa bertemu dengannya.” “Sayang … jangan merengek di sini.” “Kau menyebalkan!” ucap Ellen yang akhirnya pergi meninggalkan Oliver di sana. Oliver terlihat sedikit menahan diri, ia tidak menyangka jika istrinya akan bersikap seperti itu di depan banyak orang. “Oliver, sepertinya istrimu sedang marah. Apa itu benar?” tanya Teddy. “Biarkan saja, kita ke sana. Ada banyak orang yang harus kita sapa.” “Tapi … bagaimana jika terjadi sesuatu pada istrimu?” “Dia akan baik-baik saja, aku yakin dia hanya akan menunggu di sana.” Teddy hanya mengangkat bahunya sekilas, lalu mengikuti langkah Oliver untuk menyapa beberapa orang penting yang hadir di sana. Cukup lama Oliver berbincang, hingga acara gala itu di mulai. Ia mencari keberadaan Ellen yang tidak lagi terlihat di dalam gedung itu. Oliver menjadi cemas saat ia tidak bisa menemukan Ellen di manapun. Sampai akhirnya seseorang menghubungi Oliver. “Tuan, Nyonya baru saja sampai di rumah.” “Apa? Dia pulang tanpa memberitahu aku?” “Maaf Tuan, Nyonya menangis. Ia langsung berlari masuk ke dalam kamar.” “Baiklah. Aku akan segera pulang saat acara ini selesai.” Tut Oliver kembali masuk ke dalam gedung dan mengikuti acara gala sampai selesai. Tahu jika sang istri tidak ada bersama Oliver, mantan kekasih Oliver menghampirinya lagi. Dan wanita itu tanpa malu mengajak Oliver untuk pergi minum di sebuah kelab malam. “Oliver, kita sudah lama tidak minum. Bagaimana jika kau menemani aku ke kelab?” tanya wanita itu. “Maaf, aku harus segera pulang.” “Kenapa? bukankah istrimu sudah meninggalkanmu sendiri di sini?” “Dia hanya kesal padaku, bukan berarti marah dalam hal lain.” Oliver kembali melangkahkan kakinya, tetapi hal itu tertahan karena wanita itu memeluk Oliver dari belakang. Ia mempererat tangannya hingga Oliver tidak bisa melepaskan dirinya. “Lepaskan! Sebelum aku memanggil keamanan.” “Oliver, aku merindukanmu, temani aku malam ini saja.” “Tidak, aku sudah memiliki istri. Kau tidak bisa lagi seperti ini padaku!” Dengan terpaksa Oliver melepaskan tangan wanita itu, lalu berjalan keluar dari gedung. Oliver menemukan mobilnya masih ada di depan gedung itu, ia kembali berpikir cara istrinya untuk pulang ke rumah mereka. Sampai akhirnya Oliver di rumah, ia langsung melangkahkan kaki menuju kamar. Ceklek Oliver melihat Ellen sudah terlelap di atas ranjang, pria itu berjalan mendekati istrinya lalu perlahan mencium kening dengan lembut. Terganggu dengan ciuman itu, Ellen yang terlihat baru saja menangis hanya terdiam. Ia kini membalikkan tubuhnya dan enggan menyapa suaminya. “Sayang … apa kau marah?” tanya Oliver. Hening … Ellen sama sekali tidak menjawab pertanyaan Oliver saat itu. Oliver kembali bertanya pada Ellen kenapa ia meninggalkan gala tanpa memberitahu. “Sayang … apa kau akan terus diam seperti ini?” Oliver yang sudah terlihat lelah, kini hanya bisa mendengus kesal dan berjalan memasuki walk in closet untuk mengganti pakaiannya. Saat kembali ke dalam kamar, Oliver melihat Ellen sedang duduk dan menatapnya. “Ada apa?” tanya Oliver. Lagi-lagi Ellen tidak menjawab. Wanita itu kini berdiri lalu keluar dari kamar mereka. Oliver yang tidak tahu dengan sikap Ellen akhirnya mengikuti langkahnya. Sampai di dapur, Ellen seperti sedang mencari sesuatu di sana. “Apa yang kau cari?” tanya Oliver. “…” “Sayang … jangan seperti ini, cepat jawab aku!” “…” Ellen menemukan beberapa bahan untuk bisa ia masak. Dengan keahliannya, akhirnya Ellen membuat sesuatu di dapur itu. Tanpa peduli dengan kehadiran Oliver di sana. Kesal dengan sikap istrinya, Oliver berjalan mendekati Ellen. Ia menarik tangan Ellen lalu mencium bibir wanita itu. Ellen masih terdiam tidak membalas ciuman itu, dan justru membuat Oliver menggigit bibir bawahnya hingga Ellen membuka mulutnya. “Ehm.” Setelah beberapa detik berlalu … Oliver melepaskan ciumannya lalu melihat wajah merah Ellen. “Sayang … sampai kapan kau akan diam?” “Entahlah … aku lapar, sebaiknya kau kembali ke kamar,” jawab Ellen. Oliver tersenyum lalu melihat bahan-bahan yang sudah Ellen siapkan di atas meja. Ia pun menggantikan Ellen untuk memasak, dan dengan handal membuat hidangan untuk istrinya. “Apa yang kau lakukan?” tanya Ellen. “Aku akan memasak untukmu, duduklah di sana.” “Apa? Tidak! Aku ingin memasaknya sendiri!” protes Ellen. “Jangan membantah! Cepat duduk!” Akhirnya Ellen duduk di kursi yang ada di meja makan. Ia sesekali melirik suaminya yang sedang memotong beberapa bahan, dan menyiapkan bumbu. Setelah beberapa menit, akhirnya hidangan itu selesai dibuat. Oliver meletakkan hidangan itu di atas meja makan. “Makanlah,” ucap Oliver. Ellen dengan ragu meraih sendok lalu menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Mata Ellen terbelalak merasakan makanan yang kini memanjakan lidahnya. “Bagaimana?” tanya Oliver. “Lezat.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD