Ellen tengah membaca kembali kontrak pernikahannya bersama Oliver. Ia melihat batas waktu yang di berikan oleh pria itu padanya, dan setelah selesai … Ellen akan mendapatkan setengah dari harta milik pria itu. Beberapa kali Ellen terlihat mengambil napas perlahan lalu menghembuskannya.
“Sebanyak ini harta pria itu, dan aku akan mendapatkannya,” gumam Ellen.
Hari ini ia berada di dalam rumah megah itu seorang diri, karena Oliver harus bekerja. Ellen masih belum siap untuk memegang suatu bisnis, karena ia masih belum berpengalaman. Belajar … dan hal itu yang akan ia lakukan di rumah bersama Felix.
Ellen meletakkan berkas kontrak itu kembali ke dalam brankas yang ada di ruang kerja Oliver. Lalu ia menatap Felix yang kini sudah siap mengajarkan pada Ellen tentang bisnis keluarga Morgan.
“Nyonya, apa kau sudah siap?” tanya Felix dengan tersenyum ramah.
“Felix … kau yakin aku bisa melakukannya?” Ellen terlihat ragu.
“Langkah pertama adalah jangan pernah ragu untuk mengambil suatu keputusan, Nyonya.”
“Baiklah … aku akan mencoba untuk yakin.”
“Bagus, ini ada beberapa berkas yang harus kau baca.” Felix meletakkan berkas itu di atas meja.
“Sebanyak ini?”
“Iya, Nyonya. Kau bisa memulainya dari restoran kecil yang ada di Melbourne dan Juga New South Wales.”
Ellen nampak menelan ludahnya dengan kasar, dan mulai membaca berkas yang ada di hadapannya. Satu persatu berkas ia periksa, lembaran kertas itu kini mulai membuat Ellen pusing, ada beberapa istilah yang belum ia ketahui, dan akhirnya membuat Ellen bertanya pada Felix.
“Felix, bisa-kah kau menjelaskan tentang revenue dan profit?”
Felix melihat pada berkas yang ada di atas meja, sembari menunjukkan pada Ellen mengenai pertanyaannya.
“Sepertinya dua kata ini menarik perhatian. Dan Nyonya bukan satu-satunya orang.”
“Kenapa? Apa aku salah?”
“Tidak, Nyonya. Sangat wajar seseorang menanyakan mengenai revenue dan profit dari sebuah bisnis. Aku akan menjelaskan secara singkat, jika masih belum paham, Nyonya bisa bertanya padaku lagi.”
“Baiklah. Aku akan mencoba mencerna dengan baik.”
Ellen mendengarkan setiap penjelasan dari Felix, sedikit demi sedikit ia mulai mengerti dengan sebuah bisnis kecil yang harus ia jalani dalam waktu dekat ini.
“Felix, apa aku juga harus memantau dengan cash flow?”
“Tentu saja Nyonya, karena semua harus ada laporannya. Walaupun hanya bernilai satu, itu juga harus ada laporan secara terperinci dari orang yang anda percaya nantinya,” jelas Felix.
“Baiklah … apa aku harus mulai mencari orang yang bisa ku percaya?”
“Tidak untuk saat ini, mungkin Tuan akan menyuruh aku atau ia sendiri yang akan mencari orang itu untuk anda.”
“Hmm, oke. Kita lanjutkan lagi membaca berkas ini.”
Akhirnya Ellen melanjutkan kegiatannya bersama Felix di ruangan itu. Sampai tiba jam makan siang, seorang pelayan datang dengan membawakan makanan untuk Ellen.
“Nyonya, waktunya makan siang. Kau harus mengisi perutmu itu agar memiliki tenaga lagi,” ujar seorang pelayan.
“Terima kasih, aku akan segera memakannya setelah ini.”
Felix dan pelayan itu berjalan keluar dari ruangan milik Oliver. Dan kini Ellen merapikan meja kerja suaminya, lalu beranjak untuk memakan menu makan siang hari ini. Melihat makanan itu, nafsu makan Ellen mulai datang. Ia dengan lahap memakan semua yang ada di atas nampan berwarna biru itu.
“Kenapa makanan di sini sangat lezat, aku bahkan bisa menghabiskan setiap makanan yang dimasak untukku.” Ellen terlihat puas, dan kini ia kembali duduk di kursi kerja.
Ellen kembali membaca sisa berkas yang ada di sana, sampai ia merasa lelah dan akhirnya mengantuk. Ellen tertidur di meja kerja milik Oliver, hingga tidak sadar jika waktu sudah mulai petang.
Ruangan itu terlihat gelap, penerangan di sana masih belum nampak. Sedangkan Ellen sendiri masih terlelap dengan kepala yang berada di meja.
Ceklek
“Kenapa tidak ada yang membangunkan istriku?” gumam Oliver yang baru saja tiba.
Oliver menekan saklar untuk menghidupkan penerangan di ruangan itu. Hingga ia bisa melihat wajah lelah Ellen karena membaca berkas yang harus dipelajarinya.
“Kau belajar dengan giat rupanya, sepertinya aku tidak salah memilih dirimu, Sayang.”
Perlahan Oliver meraih tubuh Ellen dan akan dipindahkan ke kamar. Tetapi … belum sempat mereka bergerak keluar dari sana, Ellen membuka matanya.
“Oli, kau sudah pulang? Jam berapa sekarang?” tanya Ellen.
“Tidur saja, aku akan memindahkan tubuhmu ke dalam kamar,” jawab Oliver.
“Tidak, Oli. Turunkan aku! Aku bisa berjalan sendiri.”
“Tidak sayang … aku ingin melakukannya.”
“Oli, turunkan aku, aku mohon!”
“Jika aku menurunkan tubuhmu, apa kau akan melayani aku sampai merasa puas?”
“Baiklah, kau bisa menggendong tubuhku untuk kembali ke dalam kamar kita.”
Oliver tersenyum, ia begitu gemas dengan jawaban Ellen. Dan akhirnya mereka kembali ke kamar bersama, dengan Ellen yang berada di gendongan Oliver. Perlahan pria itu menurunkan tubuh istrinya di atas ranjang.
“Oli, apa kau ingin mandi? Aku akan menyiapkan air hangat jika kau mau.”
“Iya, siapkan jika itu membuatmu senang.”
Ellen tersenyum, lalu mulai turun dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Ellen mengaktifkan alat pemanas air yang ada di kamar mandi itu, lalu mengisi bath up dengan air hangat ,juga busa dengan aroma terapi yang menenangkan.
“Aroma yang sangat menenangkan, kau pandai memilih, Sayang.”
“Oli, lepaskan. Cepat mandi, aku akan menyiapkan makan malam untukmu,” ujar Ellen.
“Tidak perlu, kita akan pergi setelah ini.”
“Ke mana?” tanya Ellen.
“Aku ingin mengajakmu ke sebuah restoran yang ada di dekat hotel.”
“Baiklah, aku akan bersiap setelah ini.”
Akhirnya Ellen keluar dari dalam kamar mandi, meninggalkan Oliver seorang diri. Ellen masuk ke dalam walk in closet untuk menyiapkan pakaiannya dan juga sang suami. Lalu Ellen juga sedikit merias dirinya agar terlihat cantik.
Tidak lama setelah itu, Oliver nampak masuk ke dalam walk in closet. Ia yang kini mengenakan handuk untuk menutup area terlarang miliknya, sengaja membuka handuk itu.
“Oli! Kau memang nakal! Cepat kenakan pakaianmu!” seru Ellen dengan menutup wajahnya menggunakan ke dua tangan.
Oliver tertawa melihat kepolosan istrinya itu. Ia kembali menggoda Ellen dan justru dengan sengaja memeluk tubuh Ellen yang masih mengenakan pakaian tipis.
“Apa kau tidak ingin bermain?” tanya Oliver dengan berbisik tepat di tellinga Ellen.
“Oli, kita bisa bermain setelah makan malam.”
“Benarkah? Kau tidak akan membohongi aku, bukan?” tanya Oliver memastikan.
“Apa aku pernah berkata bohong?”
“Kau baru saja mengatakannya, Sayang.”
“Oli! Kau menggodaku?”
“Tidak, aku hanya senang melihat ekspresi itu.”
Ellen tersenyum, lalu kembali mengenakan pakaiannya. Sedangkan Oliver yang harus menahan diri sampai acara makan malam selesai, kini juga ikut menutup tubuh sempurnanya dengan pakaian yang sedikit santai.
“Kau sudah siap?” tanya Oliver.
“Ya, kau siap. Ayo kita pergi!” seru Ellen dengan bersemangat.
Mereka keluar dari dalam kamar bersama, lalu menuju ke mobil sport milik Oliver yang sudah siap di depan rumah.
“Sayang … kau bisa menyetir?”
Ellen dengan cepat menggelengkan kepalanya. Ia sungguh malu karena tidak bisa mengemudikan mobil. Dan tentu saja membuat Oliver semakin tidak ingin melepaskan Ellen dari genggamannya.
“Baiklah … aku akan mengajarkan padamu saat libur nanti.”
“Tidak … aku takut.”
“Takut?”
“Ya … karena aku pernah mengalami kecelakaan, Oli.”