Chapter 10

1275 Words
Satu minggu setelah acara makan malam itu, Ellen semakin geram dengan mantan kekasih Oliver. Bagaimana tidak, saat dengan sengaja Ellen datang ke kantor suaminya. Wanita itu ada di sana dan sedang melingkarkan tangan pada Oliver. Meski Oliver terlihat tidak nyaman, tetap saja hal itu mengganggu pikiran Ellen. Ya … Ellen memilih untuk pergi dari sana dan tidak ingin mengganggu suaminya itu. Sore hari saat Oliver sudah sampai di rumah mewahnya. Oliver tidak bisa menemukan Ellen di kamar. Ia segera menghubungi seseorang untuk memastikan di mana istrinya pergi, karena tahu jika Ellen pasti menggunakan supir saat bepergian. “Kau di mana?” tanya Oliver. “Di tempat parkir kantor anda, Tuan.” “Di mana istriku?” “Bukankah Nyonya ada di dalam?” “Apa?” Oliver segera berlari menghampiri Felix, saat itu ia melihat Ellen baru saja kembali. Ellen terlihat lemas dan sekujur tubuhnya terlihat kacau. “Sayang … apa yang terjadi denganmu?” tanya Oliver. “Oli –“ Tiba-tiba saja Ellen tidak sadarkan diri, dengan cepat Oliver menangkap tubuh Istrinya sebelum terjatuh di atas lantai. “Felix, siapkan makan malam, bawa ke dalam kamar.” “Baik, Tuan.” Oliver menggendong istrinya menuju ke kamar mereka. “Pasti Ellen melihatnya.” Dengan penuh perhatian, Oliver mengganti pakaian istrinya. Ia juga menyeka tubuh Ellen, dan menemukan beberapa luka goresan di tubuh wanita itu. “Apa yang terjadi? Kenapa tubuhmu penuh luka, Sayang?” Saat Oliver tengah menyeka wajah Ellen, wanita itu membuka matanya perlahan. Ia menatap Oliver dengan tatapan sedih. Seperti sedang kesal karena suatu hal tetapi tidak bisa ia ungkapkan. “Sayang … apa kau melihat Tania?” tanya Oliver. “Oli, aku tahu jika aku hanyalah istri kontrak. Tetapi … apakah aku tidak bisa memiliki rasa cemburu saat suamiku berdekatan dengan wanita lain selain aku?” Pertanyaan Ellen membuat Oliver tersenyum. Wanita polos di hadapannya itu membuatnya semakin memiliki rasa sayang yang lebih dari saat ini. Oliver mencium bibir Ellen sekilas, lalu ia tersenyum menatap wajah sayu Ellen. “Sayang … dalam surat kontrak hanyalah tertulis masa pernikahan kita. Kau bisa dengan penuh mengatur hak dan kewajiban sebagai seorang istri pada umumnya. Kau boleh merasa cemburu pada wanita lain yang dekat denganku. Tetapi … jangan pernah mengulangi kejadian hari ini, kau bisa menanyakan secara langsung padaku.” Mendengar penjelasan Oliver, hati Ellen merasa tenang. Ia tidak menyangka akan mendapatkan pria baik dalam hidupnya. Hanya saja … Ellen kembali menyadari jika kebahagiaan itu hanyalah sementara. “Oli … terima kasih.” “Sekarang … apa kau mau menjelaskan apa yang sudah terjadi padamu?” “Aku … aku tidak melihat jalanan saat berjalan dengan kesal, tanpa sengaja pengendara motor hampir saja menabrakku jika tidak menghindar, tetapi sialnya aku justru terjatuh.” “Lalu … siapa yang mengantarkanmu kembali ke mansion ini?” tanya Oliver. “Aku memanggil taksi untuk pulang.” Tok Tok Tok Ceklek “Tuan, Nyonya … makan malam sudah siap,” ujar Felix. “Letakkan di atas meja, Felix.” “Baik, Tuan.” Setelah meletakkan makanan di atas meja, Felix kembali keluar dari kamar itu. Sedangkan Jessa hanya menatap dengan tersenyum pada Felix. “Oli, aku lapar.” “Aku akan menyuapimu. Diam di sana! Aku akan menyiapkan makanannya.” “Kenapa kau selalu memanjakan aku, seakan aku tidak bisa melakukannya?” tanya Ellen dengan tangan yang bersidekap. “Apa kau ingin membantah?” “Tidak, aku hanya tidak terbiasa dimanjakan.” “Kau sudah membuat diriku khawatir hari ini, sekarang kau harus menurut padaku.” “Baiklah.” Akhirnya Oliver benar-benar menyuapi Ellen. Perlahan dengan penuh perhatian, sampai akhirnya makanan yang ada di atas piring itu habis tidak tersisa. Merasa senang dengan sikap Oliver malam ini, Ellen pun juga ingin melayani suaminya dengan benar. “Oli, aku akan menyiapkan air untukmu mandi.” “Tidak! Cukup berbaring di sana. Minum ini, tubuhmu pasti akan merasa sakit nanti malam. Aku tidak ingin mendengar rengekanmu jika itu terjadi, maka dari itu kau harus meminum obat ini.” “Baiklah.” Ellen meraih obat dari tangan suaminya, lalu diikuti dengan segelas air untuk mendorong obat itu masuk ke dalam tenggorokan-nya. Setelah itu, Oliver menyuruh Ellen untuk segera tidur, karena Oliver tahu jika Ellen pasti merasa lelah hari ini. Tidak … seharusnya Oliver yang merasa lelah setelah seharian bekerja. Lalu sekarang ia berada di rumah, dan memilih untuk melayani istrinya. ‘Oli, aku yakin kau memiliki masalalu yang tersembunyi,’ batin Ellen. Ellen memejamkan matanya, ia merasa sangat mengantuk setelah berjalan jauh menuju mansion milik suaminya itu. Ya … wanita itu tidak menggunakan taksi untuk sampai di mansion milik Oliver, ia berjalan kaki karena ingin menghukum dirinya sendiri. Sementara sang istri terlelap, Oliver berjalan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Banyak yang sedang dipikirkan oleh Oliver, selain mengenai pekerjaan. Oliver juga memikirkan Ellen dan Tania. Oliver tidak bisa melepaskan Tania begitu saja karena ada hal lain yang menjadi beban di dalam hidupnya. “Apa yang harus aku lakukan? Kontrak pernikahan bersama Ellen masih terlalu lama berakhir.” Oliver segera menyudahi kegiatannya di dalam sana, ia yang kini hanya mengenakan handuk untuk menutup tubuh bagian bawah, berjalan menuju ke walk in closet. Oliver mengambil pakaian santai lalu mengenakannya. Setelah selesai, Oliver kini duduk di sofa dan mulai memakan makanan yang belum ia sentuh. Ponsel milik Oliver berdering beberapa kali, dan pria itu memilih untuk mengabaikannya. Bukan karena tidak penting, tetapi Tania lagi-lagi menghubungi-nya. Wanita itu seperti benalu yang menempel pada Oliver. “Sudah ku katakan untuk berhenti menghubungiku! Kenapa kau sangat keras kepala?” “Oliver, aku ingin kau menjemputku di kelab malam. Aku sedang mabuk, dan takut jika ada pria lain menodaiku.” “Tunggu di sana!” “Terima kasih.” Oliver kembali menekan nomor telepon pada layar ponsel-nya. Ia akan menghubungi seseorang yang bisa membantunya untuk menjemput Tania di sana. “Kau di mana?” tanya Oliver. “Aku ada di dekat jalanan kantor, ada apa?” “Jemput Tania, antarkan ia sampai rumah dengan selamat.” “Baiklah … apa dia sedang mabuk?” “Ya.” “Oke.” “Jangan tidur dengannya!” “Baru saja aku mau mengatakannya. Kenapa kau tahu sekali isi hatiku.” “Kau kira aku bodoh! Sebaiknya lakukan jika ia sedang sadar!” “Hahaha … kau ini, baiklah. Aku akan menjemput mantan kekasihmu itu.” “Hmm.” Oliver kembali menutup sambungan telepon itu, lalu ia kini kembali menatap makanan di depannya. “Aku sudah tidak berselera makan!” Oliver berdiri, lalu berjalan keluar dari dalam kamarnya. Ia turun ke lantai satu dan masuk ke dalam ruang kerjanya. Di dalam sana, Oliver bisa melihat beberapa buku yang sedang dipelajari oleh Ellen. Oliver tersenyum saat melihat beberapa catatan buku milik Ellen. Ceklek “Tuan.” “Felix, ada apa?” tanya Oliver. “Nyonya berjalan kaki saat sampai di depan gerbang. Tidak ada mobil yang mengantarkannya. Bahkan setelah aku periksa CCTV jalanan menuju ke mansion ini, Nyonya sudah berjalan kaki sejak pergi dari kantor anda.” “Sudah kuduga. Ellen memang keras kepala, tetapi ia wanita baik dan masih terlalu polos untuk dunia yang kejam ini. Sampai mana ia belajar mengenai bisnis keluarga Morgan?” tanya Oliver. “Nyonya sangat pandai, ia bisa menghafal semua yang sudah ia baca, dan saya jelaskan. Bahkan Nyonya juga seperti sudah pernah melakukannya. Apa anda yakin jika Nyonya Ellen hanyalah anak dari panti asuhan?” “Entahlah … Ellen tidak pernah tahu tentang kehidupan masalalu-nya. Hanya saja … ia pernah mengatakan padaku jika pernah mengalami kecelakaan.” “Begitu rupanya.” “Felix, selidiki mengenai Ellen. Aku ingin tahu siapa sebenarnya wanita yang menikah secara kontrak denganku.” “Baik, Tuan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD