Chapter 3

1196 Words
Tepat sehari sebelum hari pernikahan itu terjadi, Ellen di pertemukan dengan kepala panti asuhan tempat tinggalnya. Ellen yang masih berada di dalam kamar dengan keadaan sedikit stress, mulai meringkuk di sudut kamar. “Apa esok aku benar-benar akan menikah?” gumamnya beberapa kali. Tok Tok Tok Pintu kamar yang diketuk pun tidak digubris oleh Ellen. Dan saat seorang wanita berdiri disana lalu memanggilanya perlahan, Ellen menatap tidak percaya pada wanita itu. “Bu-bunda ….” Ellen berusaha untuk bangkit dan berjalan mendekati Bunda Imel. Tangannya direntangkan dan saat sudah dekat, mereka saling berpelukan. Mimpi? Tentu saja bukan, hari itu adalah sebuah kenyataan yang membahagiakan untuk Ellen. “Bagaimana bisa?” tanya Ellen. “Tuan Morgan adalah pribadi yang sangat baik, ia sering mengirim uang pada panti. Esok … kau akan menjadi istrinya, aku harap … kau akan menjadi wanita paling bahagia setelah ini,” ujar Bunda Imel. “Iya, terima kasih. Aku sangat senang bisa bertemu lagi dengan Bunda.” “Aku juga, sayang.” Pelukan itu semakin erat, dan mereka masih  berdiri di sana. “Ehem,” deham Oliver yang entah sejak kapan sudah berdiri di sana. “Tuan, maaf. Saya tidak tahu jika anda berdiri di sana,” ujar Imel. “Tidak apa-apa, Nyonya. Silakan lanjutkan saja, maaf jika batuk saya mengganggu,” ujar Oliver menyesal. Ellen tiba-tiba berjalan mendekati Oliver, dan tanpa sadar mencium Oliver sekilas. “Terima kasih,” ucap Ellen. Oliver tersenyum menerima ciuman itu, ia kemudian berjalan keluar dari sana dan menuju kamarnya sendiri. Sementara Ellen masih menikmati waktunya untuk bercengkrama dengan Bunda Imel. “Kenapa kau terlihat seperti tidak makan beberapa hari? Apa kau disiksa?” tanya Bunda Imel. “Tidak, aku hanya terlalu banyak berpikir tentang pernikahan yang mengerikan, karena yang aku tahu, semua wanita rendah seperti aku ini … hanya akan menjadi b***k atau selir saja, aku tidak pernah membayangkan hal semengerikan seperti sekarang ini,” ujar Ellen. “Dasar anak bodoh! Kau sudah di sini selama satu minggu, apa selama itu Tuan Oliver menyentuh tubuhmu?” Ellen menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Lalu kenapa kau bisa berpikir seperti itu! Jika kau hanya menjadi b***k atau selirnya, kau pasti sudah jadi daging cincang saat ini,” jelas Bunda Imel. Mendengar ucapan Bunda Imel, Ellen hanya bisa mengangguk dan menelan ludahnya dengan kasar. Ia sangat tidak percaya, jika Oliver akan berlaku baik padanya. Karena memang beberapa hari ini, Oliver tidak nampak di dalam rumah mewah itu. “Aku rasa … aku akan kesepian setelah menikah, karena di sini tidak ada siapapun selain aku dan para asisten rumah,” ujar Ellen. “Apa Tuan Oliver melarangmu untuk pergi keluar?” tanya Bunda Imel. Ellen terdiam sejenak, ia sedang mengingat setiap perkataan yang pernah Oliver katakan padanya. Akhirnya ia menggelengkan kepalanya, dan berkata jika pria itu tidak melarangnya sama sekali. Hanya saja, ia terlalu takut untuk bertanya. Dengan cepat Bunda Imel memukul kepala Ellen. Merasa jika anak didiknya itu sedikit bodoh dalam hal seperti ini. Dan memang benar, Ellen terlalu polos dalam hal percintaan dan kehidupan. “Apa pesan yang akan Bunda sampaikan padaku? Aku membutuhkan sebuah petuah atau lainnya agar tidak terlalu stress,” tanya Ellen. “Layani suamimu sebaik mungkin, jangan pernah terlihat jelek di depan suamimu, kau harus berdandan, dan merias diri. Kau tidak mau jika Tuan Oliver memiliki b***k di luar sana kan?” tanya Bunda Imel. “Tentu saja tidak. Aku memang masih belum mencintainya, tetapi aku tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain,” ujar Ellen. “Kalau begitu, belajarlah menjadi istri yang pintar. Pintar mengambil hati suami itu kuncinya. Meski ia dalam keadaan lelah, jika kau bisa melayaninya dengan sangat baik, dan memberikan semua yang dibutuhkannya, aku yakin Tuan Oliver tidak akan berpaling darimu,” jelas Bunda Imel. Perbincangan keduanya berlangsung cukup lama. Hingga akhirnya Felix datang dan memberitahu jika waktunya makan siang, dan mereka sudah di tunggu oleh Oliver di meja makan saat ini. Keduanya berjalan menuju ruang makan yang ada di lantai satu. dan baru kali ini ia makan bersama dengan Oliver, karena dalam satu minggu ini, Ellen selalu makan seorang diri di dalam kamarnya. Ellen baru saja menyadari, jika rumah Oliver sangat besar dan juga luas. Kakinya bahkan terasa lelah hanya untuk berjalan menuju ruang makan di sana. “Silakan duduk, Nyonya,” sapa Oliver dengan senyum ramah. “Terima kasih, Tuan Oliver,” jawab Bunda Imel. Hidangan mewah kini sudah tersedia di atas meja makan, dan mereka mulai mengambil makanan untuk diri masing-masing. “Silakan mencicipi hidangan sederhana dari mansionku, semua ini dimasak oleh chef yang sudah professional,” ujar Oliver. ‘Ternyata pria ini sedikit sombong, meski kata-katanya terdengar sederhana,’ batin Ellen. “Ada apa, sayang? Apa kau ingin memakan sesuatu yang lain?” tanya Oliver saat Ellen menatapnya penuh tanya. “Ti-tidak, aku akan makan ini saja,” jawab Ellen. “Baiklah.” Tidak ada suara lain selain dentuman sendok dan piring, semua terlihat fokus pada makanan masing-masing. Hingga akhirnya Bunda Imel membuka suara dengan bertanya pada Oliver. “Tuan Oliver, aku harap pernikahan kalian akan berjalan lancar, dan juga … aku menitipkan Ellen padamu,” ujar Bunda Imel. “Tentu saja, Nyonya. Ellen akan diperlakukan seperti seorang ratu di sini, karena ia adalah istriku setelah pemberkatan dilakukan,” jawab Oliver. “Aku harap kau bisa bersabar pada Ellen, karena ia sedikit polos dalam hal rumah tangga,” tambah Bunda Imel. “Tentu saja, aku akan bersabar dengan Ellen. Kau tidak perlu khawatir, Nyonya,” ujar Oliver dengan ramah. Ellen hanya diam sejak kegiatan mengunyah itu berlangsung. Ia tidak ingin terlalu banyak bertanya. *** Seharian ini Ellen sangat bahagia, karena ia ditemani oleh kepala panti asuhan. Tepat setelah makan malam, Bunda Imel berpamitan untuk kembali ke Panti. Sedih, tetapi Ellen tidak ingin terlihat bersedih di depan Bunda Ellen. Ia kembali mengurung diri di dalam kamarnya, lalu memilih untuk berbaring di atas ranjang yang menurutnya terlalu besar untuk ukuran tubuhnya. “Aku bisa mati kebosanan jika seperti ini,” celetuk Ellen. “Kau bisa melakukan apa saja, kenapa kau merasa bosan, sayang?” Suara Oliver membuat Ellen terkejut. “K-kau! Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Ellen ketakutan. “Ini mansionku, dan kau berada di dalamnya. Apa aku salah jika berkeliling di dalam mansion ini?” “Ti-tidak. Maaf karena sudah lancing berkata seperti itu padamu, Tuan.” Oliver tersenyum, lalu ia berjalan mendekati Ellen. Pria itu kini duduk tepat di tepi ranjang, matanya menatap wajah Ellen yang terlihat cantik meski tidak ada polesan make up di sana. “Kau cantik, sayang. Aku sangat menahan diriku untuk tidak menyentuhmu sebelum pernikahan itu terjadi,” ujar Oliver. “Kita akan menikah besok, aku harap kau masih bisa menahan diri, Tuan,” jawab Ellen. “Aku tahu. Aku akan melakukannya.” Oliver menyentuh wajah Ellen, lalu mencium keningnya sekilas. Pria itu akhirnya beranjak dari sana dan kembali ke dalam kamarnya sendiri. Sementara itu, Ellen kini merasa jika jantungnya akan meledak karena sikap manis yang Oliver berikan padanya. “Kau itu tampan, Tuan. Kenapa kau harus menarik aku saat berada di pesta pernikahan itu,” gumam Ellen. Wanita itu kini berbaring, dan menutup tubuhnya dengan selimut. Matanya mulai terpejam, dan akhirnya ia terlelap di dalam alam mimpinya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD