Chapter 22

1159 Words

Malam semakin larut, Oliver tertidur di dengan kepala yang bersandar pada pinggiran brankar. Tangannya masih setia menggenggam tangan Ellen. Dan saat itu perlahan jemari Ellen mulai bergerak. “Ehm.” Kedua mata Ellen terbuka secara perlahan. Pandangannya masih belum bisa fokus, hingga akhirnya ia mencoba mengerjapkannya beberapa kali. Bibirnya mulai bergerak ingin mengucapkan sesuatu. Saat tangannya ingin ia gerakkan, terasa berat karena Oliver masih memegangnya. “Oli,” panggil Ellen lirih. “Hmm, Sayang … kau sadar.” “Oli, apa yang terjadi?” tanya Ellen. “Kau baru saja melahirkan, Sayang … anak kita sudah lahir,” ujar Oliver. Ellen yang baru saja sadar jika perutnya tidak lagi buncit, merasa sedikit khawatir. Belum saatnya bayi itu keluar dari sana. “Oli, dimana bayi kita?” tanya E

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD