Sakit sekali

848 Words
Ya Allahhh kebenaran seperti apa lagi ini! Benarkah mereka bukan orang tuaku. Aku ini anak siapa? Berbagai pikiran berkecambuk dalam otakku. Ibu masih terdiam, ada rasa yang di sembunyikan dari rupa dan gelagatnya. Kumasih menunggu sepatah demi sepatah kata yang akan terucap dari mulut Ibuku ini. Ah! Ternyata hanya ibu angkat, bukan ibu kandung. Sedih sekali hatiku. Kusiapkan hati agar kuat menerima kenyataan yang sudah di depan mata. "Dulu, saat ibumu di bawa kerumah kami usia kandunganmu memasuki tujuh bulan. Ibumu adalah adik Ayahmu, dia hamil di luar nikah dengan seorang yang sampai akhir khayat Ibumu tak ada yang tahu." Kudengarkan dengan segsama. Itu berarti Ibuku telah meninggal. "Orang tua Ayah malu karena Ibumu tak mau menyebutkan siapa ayah dari anaknya. Hingga dia akhirnya menitipkan ibumu pada kami, saat itu keluarga kami hidup berkecukupan. Kerjaan yang mapan dan tak kekurangan suatu apapun. Aku juga tengah hamil yang usianya hampir sama dengan kandungan Ibumu." Ibu menghela nafas berat. "Tak ada yang tahu keberadaan Ibumu dirumah kami karena memang sengaja semua itu disembunyikan agar ketika lahir, kamilah yang akan merawatmu. Agar Ibumu kembali hidup normal layaknya seorang yang masih belum menikah. Namun tuhan berkehendak lain, ibumu meninggal di saat melahirkanmu. Dia mengelami pendarahan hebat hingga nyawanya tak tertolong. Dua hari setelah kamu lahir Ibu juga melahirkan bayi laki-laki, tapi entah kenapa bayi yang semula sehat tiba-tiba kejang dan meninggal di hari kedua dia terlahir." Kembali Ibu menghembuskan nafas. Membuang sesak dalam dadanya. "Ayahmu yang sudah sangat senang atas kelahirann bayi laki-lakinya harus kecewa. Terlebih setelah itu Ayah di pecat dari pekerjaan dengan alasan yang tak masuk akal, hingga kami kembali hidup sederhana. Rumah yang dulu di jual dan pindah kerumah yang sekarang. Hingga tak ada yang tahu kalau kamu sebenarnya bukan anak kami!" Air mataku mengalir, membanjiri setiap kata yang terlontar dari Ibu. Oh! Ini yang membuat Ayah membenciku, kematian anak laki-lakinya dan juga turunya ekonomi keluarga. Bukankah takdir yang telah menggariskan hidup seseorang. Kapan berada di atas dan kapan di bawah. Tentang anak sial, apakah karena aku anak hasil zina hingga membuat mereka berfikir akulah pembawa sial. Ibu menangis tergugu, aku sendiri bingung harus berbuat apa. Aku menyayangi mereka layaknya orang tuaku sendiri. Walau memang selama ini aku di bedakan. Pikirku semua itu karena aku anak sulung hingga apa-apa aku harus melakukan sendiri tak seperti adik-adikku. "Bu! Maafkan, Aku!" ucapku tak tahu lagi harus berkata apa menenangkan Ibu. "Rahasia ini hanya diketahui Ibu dan Ayah. Adik-adikmu saja belum tahu, ibu juga berharap mereka tak pernah tahu. Ibu membongkar semua ini agar kamu dapat Introfeksi diri dan siap mengambil keputusan walau berat kamu jalani. Percayalah bahwa semua akan mudah di lalui kalau kamu ikhlas menerima." Apa maksud ibu? Apa dia berfikir kalau aku harus kembali pulang kerumah mertuaku yang mulutnya pedas bagai cabe. Ikhlas? Siapa yang akan Ikhlas di perlakukan sedemikian rupa. Jika mereka hanya memprotes pekerjaanku tanpa harus mencela sebagai perawan tua, pembawa sial bahkan tentang Dian yang semula pacarnya mas Akbar. Aku tak akan sesakit ini. "Bu, di panggil Ayah!" celuk Mas Akbar yang baru saja datang. Ibu langsung mengusap air matanya dan beranjak meninggalkan aku tanpa menoleh sedikitpun. "Ndah! Kita pulang, Ya!" Mas Akbar berusaha membujuk. Kuarahkan pandanganku padanya sekilas setelah itu aku kembali menatap kosong. Tak ingin aku kembali kerumah neraka itu lagi. "Ayo, Ndah! A-aku tak ingin kita bercerai kasian Faza. Dia butuh Ayahnya." "Tidak, Mas. Aku tak mau lagi kembali kerumahmu dan di injak-injak harga diriku oleh Ibu dan Adikmu." "Terus kamu mau tetap di rumah Ibumu sedangkan kamu tahu Ayahmu saja tak menerimamu di sana karena takut ... " Mas Akbar tak melanjutkan kata-katanya. "Karena takut kamu dan Dian terlibat cinta kembali! Iya, Kan?" kuucapkan kata-kata itu seketika. Terlihat Mas Akbar tak dapat menjawab. "Jika aku juga tak di terima di keluargaku sendiri, aku bisa cari rumah kontrakan. Terserah kamu mau apa tidak. Setuju atau tak setuju. Aku akan tetap pada keputusanku." Mas Akbar terdiam tanpa sepatah katapun. Aku mencoba meredam segala lara di hati. Aku harus kuat, walau bagaimanapun demi Faza aku harus menjalani hari-hariku dengan semangat walau hatiku telah remuk tak berkeping. Mungkin tak akan kembali utuh seperti sedia kala. Memendam tangis ternyata tak mudah, ada sesak dalam d**a. Mencoba baik-baik saja juga sangat sulit ada gejolak yang ingin meletup bak air mendidih yang siap meluap. Entah sudah seperti apa kondisiku. Jika penampilanku sekarang awut-awutan. Lebih pada hatiku porak poranda. "Kamu belum makan, Yuk kita cari makan. Kasian Faza kalau kamu kelaparan pasti ASI nya tak membuat dia kenyang." Mas Akbar menarik tanganku. Kami melewati kooridor rumah sakit, menuju kantin di pojok rumah sakit. "Mas Akbar!" Dari arah belakang Dian memanggil. Seketika langkah kita terhenti, Dian mendekat. "Mas, Ayuk antar aku pulang, aku banyak PR dan tugas sekolah," ucap Dian tanpa cangung. "Ta-tapi, Dian. Aku mau antar-" "Ah, udah nanti saja antar aku dulu." Dian memotong Mas Akbar. Seolah tak mengahargai keberadaanku sedikit saja. Kalau dulu aku melihat itu masih wajar sebagai adik tapi untuk kali ini aku merasa sakit. Mungkin inilah yang di sebut cemburu. Kalau cemburu dengan wanita lain mungkin masih sedikit wajar tapi ini sama adikku sendiri. Hiks....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD