"Ayah! Jangan berkata seperti itu, kasian Indah." Ibu berusaha membelaku, sosok mata tulusnya terpancar jelas di matanya.
"Biarkan, Bu. Biar dia tahu diri dan tak seenaknya sendiri kalau perlu dia juga tahu sebenarnya. Memang sejak kehadiran dia keluarga kita kena-"
"Cukup!" Potong Ibu berusaha mencegah agar ayah tak mengucapkan kata-kata yang menyakitkan.
"Biarkan, Bu. Puaskan Ayah menghinaku terus menerus. Memang aku sampah yang hanya membawa bau bagi keluarga ini." Emosiku sudah terpancing. Tak lagi ada kata hormat pada seorang Ayah.
"Bagus! Kalau kamu sadar akan itu. Ayah memang sudah muak melihat kamu, tingkah kamu yang selalu membuat keluarga ini kena masalah."
Ibu sudah menangis air matanya tumpah ruah, sedangkan Dian hanya tertunduk entah apa yang sedang dia pikirkan.
"Apa kamu tahu, sejak kehadiran kamu di sini kami kehilangan anak laki-laki dan seterusnya dapat anak perempuan. Berbagai masalah... Aduh!" Ayah tak melanjutkan kata-katanya hanya memegangi d**a kirinya. Meringis kesakitan.
"Ayah!" teriak kami sama-sama. Aku yang paling dekat berusaha meraih, tapi di tangkis begitu saja. Sakit sekali hati ini.
Seketika Ibu, Dian dan Mas Akbar menolong Ayah, aku hanya terpaku tak dapat berbuat banyak. Mas Akbar langsung mencari mobil untuk membawa Ayah yang masih tengah meregang kesakitan.
"Awas ya, Mbak, kalau sampai Ayah kenapa-kenapa. Mbak harus bertangung jawab." Dian menghardikku atas ini.
Aku hanya terdiam saja, tak dapat berkata-kata. Ibu dan Mas Akbar mengantar Ayah pergi kerumah sakit sedangkan Dian di suruh untuk siaga di rumah agar mempersiapkan sesuatu jika di perlukan Ayah upname.
Aku terduduk tak menentu, masih teringat jelas kata-kata yang keluar dari mulut Ayahku, bagitu mengusik relung jiwaku yang paling dalam. Sangat dalam!
"Dian, Mbak mau ngomong!" ucapku ketika Dian akan masuk kedalam.
"Ada apa lagi, Mbak! Apa belum puas membuat Ayah seperti itu," cetus Dian dengan angkuh.
"Duduk saja, Mbak perlu bicara empat mata sama kamu!"
Dengan menghentakan kaki Dian akhirnya duduk tepat di hadapanku.
"Sejak kapan kamu mempunyai hubungan dengan Mas Akbar?!" tanyaku.
"Apa pentingnya si, Mbak. Bukankah yang penting aku udah putus sama dia dan sekarang jadi suami, Mbak."
Aku menghela nafas kasar, berusaha membuang nafas yang membuat sesak. Hasilnya sama saja tak mengurangi Co2 tapi justru semakin banyak Co2 yang masuk. Sesak!
"Kalau Mbak tahu dia pacarmu, nggq mungkin Mbak mau jadi istrinya," ucapku pelan berusaha menahan sakit di d**a.
"Iya, Mbak lebih memilih jadi perawan tua dan menjadi gunjingan para tetangga biar Ayah dan Ibu terus menangung malu."
"Cukup kata-kata lancangmu!" Emosiku mulai naik.
"Memang kenyataanya, Mbak. Mungkin Mbak bisa tutup telinga tapi tidak buat Bapak! Jadi ketika aku bawa Mas Akbar kerumah saat mbak kerja, Ayah justru meminta aku mengikhlaskan Mas Akbar untukmu!" Kali ini juga terlihat Dian berlinang air mata. Mungkin masih terasa sakit harus putus dari Mas Akbar hanya karena Ayah malu aku belum menikah.
Tangisku pecah kembali, seperti inikah garis hidupku menjalani masalah yang tanpa henti. Tiba-tiba Faza menangis membuat aku segera beranjak untuk melihatnya.
Kumasuk kekamar dan menangis sejadinya di sana. Biarlah tangis ini bisa mengurangi rasa perih di hati. Apa yang harus aku lakukan setelah ini? Haruskah aku kembali pada Mas Akbar, dan siap menerima segala hinaan dari Ibu Mertua dan Iparku. Tidak! Lebih baik aku pergi saja. Hidup sendiri membesarkan Faza tanpa bantuan orang tua ataupun yang lain. Aku yakin pasti bisa! Hidup bahagia tanpa terdzolimi.
***
Sore hari aku di kabari kalau Ayah harus upname karena terkena serangan jantung ringan. Aku dan Dian bergegas ke Rumah sakit untuk membawa pakaian ganti.
Sesampainya di rumah sakit Ibu tak memperbolehkan aku masuk justru menuntunku keluar dengan tergesa. Dian di beri pesan untuk menjaga Ayah, sedangkan Mas Akbar entah kemana. Mungkin sudah pulang atau sedang membeli sesuatu.
"Ibu mau bicara empat mata denganmu!" Hanya ucapan itu yang terlontar dengan menuntunku yang mengendong Faza. Kuikuti saja kemana maunya Ibu. Ditempat parkir Ibu berhenti dan melepaskan tanganku.
"Sebaiknya kamu turuti saja apa yang Ayah kamu pinta!" ucap Ibu dengan tegas.
"Tapi, Bu! Mereka memperlakukanku tak baik, terlebih Mas Akbar tak mencintaiku. Itu menyakitkan, Bu!" jawabku.
"Semua tak ada yang menyakitkan jika kamu mau ikhlas menerima!" Dengan tanpa belas kasih Ibu berkata.
"Bu, kenapa kalian perlakukan aku seperti ini! Apa ibu juga berfikir bahwa aku juga pembawa sial?!"
"Ya! Sekarang Ibu juga punya pikiran seperti itu. Lihatlah gara-gara ulahmu Ayah masuk rumah sakit dulu ketika kamu hadir di keluargaku, anak laki-laki pertamaku meninggal!"
Aku berusaha mencerna setiap kata yang terucap dari mulut wanita yang sangat aku hormati ini, kenapa dia sampai tega berkata demikian?
"A-apa maksud Ibu?"
"Ka-kamu bukan anak kandung dari kami!"
Aku terperanggah atas ucapan Ibu, mataku berkabut oleh air yang membendung ditelaga mataku. Sekali lagi robeknya hati ini mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup ini. Kukedipkan mata seketika penglihatanku kembali karena tetes air itu telah luruh kebawah sana jatuh di lantai.
"Sekarang sudah saatnya kamu tahu kebenaran yang sebenar-benarnya." ucap Ibu tanpa menatap kearahku sama sekali.
~~~~