19

1117 Words

"Kau tidak apa?" Davion melirik Davina yang cemas dengan pandangan sambil lalu. Saat dia merapikan gelas yang sudah kering ke dalam rak. "Kau demam?" Davion menggeleng lagi. Membiarkan telapak tangan Davina menyentuh dahinya acak. Lalu menggerung dengan napas berat. "Kau kenapa?" "Kenapa kau bertanya?" "Kau terlihat murung sejak pagi!" Davina membalas jengkel. Membuat Amara mencibir, menggeleng dengan raut datar. "Apa ini karena Amara?" Langkah pria itu terhenti. Mengunci mesin kasir dengan gelengan pelan. Davina kembali kalah. Menghela napas panjang dan mengangkat bahu acuh. "Oke. Bukan karena perempuan itu. Lantas?" "Ini tentang proyekku bersama Ken," balasnya pelan dan Davina terdiam. Untuk urusan satu itu, dia jelas tidak akan bisa membantu. "Kau menemukan masalah? Apa tim Ken

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD