bc

Hujan di Mimpi

book_age16+
887
FOLLOW
5.5K
READ
love-triangle
second chance
independent
brave
drama
tragedy
bxg
first love
cruel
lonely
like
intro-logo
Blurb

Seperti halnya hujan yang terus-menerus membasahi bumi. Perasaan seorang wanita yang hancur karena kesepian dan pengkhianatan tak akan pernah lekang oleh waktu. Seiring rasa depresi yang kian menggerogoti dari dalam, seseorang membuka pintu kehidupan baru untuknya bernapas.

Hujan di mimpi hanya bayangan semu saat dirinya merasa nyaman ...

chap-preview
Free preview
1

Jam sebelas siang. Dan kafe yang buka selepas jam delapan pagi, baru empat orang datang berkunjung. Pertama, pasangan lansia yang ingin mencicipi satu pancake bersama. Tidak memakai sendok berbeda. Dalam satu sendok sama dan saling mesra memberi makan satu sama lain.

Kedua, laki-laki yang bekerja dekat kompleks perumahan. Membeli empat kopi standar. Untuk ia, mandor, dan dua teman lainnya yang sudah menunggu.

Ketiga, seorang pria paruh baya yang hanya sempat mampir secara acak. Untuk menebak-nebak rasa kopi dan berlalu pergi begitu saja tanpa sepatah kata.

Dan keempat, gadis itu.

Yang berusaha menghindari kejamnya sinar matahari siang hari menyengat kulit. Matanya bersinar lebih redup dari yang biasa Davion lihat. Pandangannya turun. Mengamati gadis yang terlihat glamour meski pakaiannya biasa-biasa saja.

Sosoknya mendekat. Dan Davion bisa mencium aroma parfum mahal menguar manis dari dirinya. Campuran yang bisa membuat kaum adam pusing dan mengerang. Dia pria normal. Dan tidak sepantasnya pikiran m***m itu mampir.

"Cappucino atau Vanilla?"

Selintas, ekspresi kakunya retak untuk sepersekian detik berlalu. Sebelum sepasang mata teduh layaknya hutan pinus yang basah selepas hujan, menyorot bingung dan kemudian mengulum senyum canggung.

"Terlalu sering mampir?" Dia mencoba melempar lelucon dan Davion sama sekali tidak tertawa. Melainkan hanya tersenyum tipis. Sangat tipis. Karena terus tersenyum itu melelahkan. Serius.

"Vanilla Latte," dia akhirnya bersuara. Menunduk menatap mesin kasir dan berlalu pergi begitu saja. Seperti hari-hari sebelumnya, bahkan kurang lebih satu tahun berlalu. Gadis berambut merah muda manis yang akan mampir, menikmati waktu sendiri dalam damai dan diam-diam membaca buku sampai penghujung siang habis.

"Dia memesan kue atau tidak?"

Davion menoleh pada Davina yang baru saja kembali dari tidur siangnya. Perempuan itu mengeluh sakit kepala hebat. Dan Davion memintanya untuk pulang, namun Davina menolak. Alih-alih ingin istirahat dan menghabiskan waktu di rumah, semangat kerjanya masih cukup tinggi. Davion cukup mengapresiasi besarnya prinsip wanita itu dalam hati.

"Sepertinya tidak."

Davina ikut memandang lurus pada sosok yang bertopang dagu. Menatap pada telunjuk yang bergerak menulis sesuatu pada jendela yang berembun selesai hujan. Dan pada tarikan napas yang tiba-tiba membuat Davina tercekat.

"Satu tahun lebih aku melihatnya. Dia terlihat sangat kesepian. Padahal kalau kita lihat, dia bukan berasal dari keluarga miskin seperti kau dan aku."

"Kau miskin?"

Davina mendengus pelan. Memandang Davion sambil lalu saat dia mendorong bahu pria itu untuk mengantar minuman. Biasanya Davina yang akan membawa pesanan gadis cantik itu. Tapi kali ini ada Davion. Dan dia akan mengurus masalah lain.

***

Iris matanya menangkap buku novel yang terbuka lebar. Bagai jendela di pagi hari hanya untuk membiarkan udara pagi dan matahari yang belum terbit sempurna merasuk masuk ke dalam kamar.

"The Modern Break-Up by Daniel Chidiac."

Satu reaksi spontan terlukis manis di wajahnya. Davion menaruh cangkir hangat berisi Vanilla Latte ke atas meja. Masih belum lepas memandang deretan tulisan yang menggambarkan kehidupan modern zaman sekarang, sebelum beralih pada sepasang mata yang menyorot datar ke arahnya.

"Ini karangan lama. Kalau tidak salah tahun 2016 atau 2017, dan kau sama seperti anak muda lainnya yang suka dengan buku bertemakan patah hati. Semua orang menyukai bacaan yang sama. Aku tidak terkejut. Beberapa pengunjung kerap aku dapati membaca buku dengan genre sama."

"Oh?" Dia menutup novel bersampul hitam itu dengan senyum tipis. Menunjuknya dengan telunjuk berpoles kuteks merah tua. "Aku tidak membeli ini. Mendapat rekomendasi dari anak buahku, dan dia dengan rendah hati mau meminjamkan ini untukku. Baru halaman tiga puluh dan ini tidak buruk."

Davion terdiam sebentar. Mencerna kalimat terpanjang yang pernah ia dengar dari sosok yang menjadi p*******n tetap kafe miliknya. Sudah satu tahun berlalu, dan dia berpikir kalau perempuan dewasa ini adalah makhluk anti sosial.

Serupa dengan dirinya.

"Kau sepertinya tipikal perempuan penyuka romansa penyayat hati. Ending apa yang kau sukai? Angst? Atau saat karakter utama bersama setelah mengalami banyak cobaan?"

Davion bisa melihat kurva di bibirnya melengkung tipis. Saat gadis itu melarikan matanya ke arah kafe dan mengangkat bahu. "Tokoh utama perempuan meninggal dunia. Aku mencari novel dengan cerita yang membuatku menangis di malam hari. Membuat perasaanku kacau dalam satu minggu ke depan. Dan aku belum menemukannya."

Davion termangu. Menarik napas panjang saat dia menoleh pada Davina yang masih sibuk, menelepon seseorang dan dengan sembarangan dia menarik kursi untuk duduk. Tepat di seberang si gadis yang terpaku, menatap sosoknya tanpa bicara.

"Itu terdengar seperti kau mencari pelarian di kala rasa lelah memuncak. Atau, kau sedang tertekan?"

Davion melihat bagaimana sinar mata itu meredup. Sebelum perlahan-lahan menjadi sinis. Alih-alih gadis itu pergi, dia malah menarik napas. Membuangnya perlahan dan menatap matanya tidak kalah tajam.

"Aku, Davion."

Davion tidak perlu menunggu lama untuk mengulurkan tangan. Dia ingin mencoba akrab dengan p*******n tetap yang membuat kafenya berjalan baik. Meski dia tahu benar untuk dua sampai tiga bulan ke depan, kafe ini tidak lagi bisa hidup. Dan Davion akan kembali merenung, meratapi nasibnya yang tidak pernah berujung baik sejak ia lahir.

Sekilas, gamang merayapi permukaan wajahnya. Davion bisa melihat bagaimana bibir itu menipis. Memandang ragu antara tangan yang terulur atau pada matanya yang bersinar hangat seakan tulus menawarkan pertemanan.

"Amara."

Gadis itu menyambut uluran tangan tanpa senyum. Terlihat tidak nyaman, tapi Davion tahu dia berusaha menepis itu jauh-jauh. Layaknya benteng yang ia buat terlalu kokoh, terlalu tinggi dan kesulitan membuatnya mengintip dunia luar seperti apa.

"Kau bekerja?"

"The Belgium Holdings," Amara bicara dengan aksen ramah. "Lima puluh meter dari sini."

"Kau bekerja di divisi apa?"

Hijaunya hutan itu menatap Davion ragu. "Divisi umum. Hanya pegawai kantoran biasa."

"Magang?"

Amara mengangguk. "Kau bos kafe ini, kan? Pemilik? Kenapa tidak menyewa pekerja lain yang sanggup bekerja untukmu?"

"Tidak, terima kasih," tolaknya halus. "Aku lebih senang mengelola kafe ini sendiri bersama sahabatku."

Kepala merah muda itu menoleh. Memandang Davina yang sedang membersihkan meja, dan terpaku. Menjadi salah tingkah karena ada sepasang mata lain memandangnya tajam.

"Kau tahu, tidak ada yang benar-benar bersahabat di antara laki-laki dan perempuan," sindirnya sarkas dan Davion menarik napas, mencoba sesantai mungkin dengan senyum tertahan.

"Oh, ya?"

"Kenyataan yang ada di lapangan berbeda dengan yang ada di buku-buku. Mungkin penulis kurang observasi," keluh Amara datar.

"Kau senang membaca?"

"Aku akan kalah dalam banyak hal kalau kurang membaca dan pengetahuan ini akan berhenti sampai di titik rendah," bisiknya pelan. Menatap cangkir latte yang belum tersentuh sama sekali. "Membaca jendela dunia. Kau pernah mendengar pepatah itu?"

"Sangat sering."

Amara memundurkan tubuhnya. Memberi jarak yang cukup saat mereka kembali bertatapan. Davion tidak pernah percaya pada jatuh cinta pandangan pertama. Dan sekarang dia membuktikannya dengan baik.

Setelah kalimat yang terlontar dari bibir manis itu membuat Davion terpaku cukup lama. Tertampar oleh realita pahit yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Itu sudah lama berlalu, tapi rasa sakit yang membuatnya harus kembali mengingat kenangan itu membuatnya mendesis dalam hati.

"Kau Davion, si gitaris yang didepak dari bandnya karena skandal memalukan? Kalau aku salah, koreksi kalimatku."

Tidak, gadis itu benar.

***

"Jadi ini yang membuatmu diam sampai kafe tutup?"

Davion mengangkat alis. Menatap Davina yang bersandar pada meja dan mendesah panjang. Melarikan matanya untuk menatap kaku tubuh besar pria itu. Davion dalam tampilan selepas berbincang dengan pengunjung terakhir kafe mereka benar-benar berbeda.

"Kau dan dia bicara, lalu terlibat percakapan hangat sampai si gadis bicara tentang masa lalumu. Aku rasa, dia tidak salah. Semua orang tahu siapa dirimu. Dan kau selalu menyalahkan diri karena masalah yang sama. Davion, itu bukan kesalahan."

Davina mencelos tak percaya. Tampilan Davion yang kaku tidak sepenuhnya benar saat mereka berdua. Pria itu tidak banyak menunjukkan emosinya yang telah tertahan selama bertahun-tahun. Davion akan tetap menjadi Davion yang malang. Dan Davina tahu benar, karena Ken mengenal baik pria ini luar dalam.

"Tidak ada. Pemberitaan itu masih ada. Dan dia tipikal perempuan suka membaca. Termasuk artikel-artikel berbau kebenaran itu," gumam Davion serak. Memindahkan cangkir ke dalam tempatnya dan menghela napas panjang. Harinya terasa lebih panjang. Dan dengan pemasukan yang terus berkurang, dia semakin menaruh pupus pada bisnisnya yang tidak berkembang baik. 

"Sampaikan salamku untuk Ken, Davina. Kau bisa kembali lebih awal sekarang."

Davina mendengus dengan ekspresi keras. "Lalu, membiarkanmu merapikan ini semua sendiri? Apa gunanya kau membayar perempuan tidak berguna ini, Davion?"

Davion menatapnya ragu. Mengenal Davina sepuluh tahun, dia tahu benar kepribadian gadis itu dalam waktu dua sampai tiga tahun sebelum semua terkaanmya benar. Davina perempuan yang supel dan ramah. Tapi terkadang mematikan dan super galak.

Davion sempat berpikir dia menaruh hati pada Davina. Kenyataannya tidak sebaik itu. Jantungnya tidak pernah berdebar, dia juga tidak pernah mengalami hal-hal yang semakin membuatnya yakin kalau dia jatuh cinta. Semua masih berjalan biasa. Davion bisa bersikap semestinya di depan Davina dan perempuan lain tanpa takut melewati batasan.

"Kalau terus begini, aku memang tidak akan bisa membayarmu, Davina."

Davina kembali mendengus. Mengangkat kursi-kursi ke atas meja yang telah dibersihkan. Melempar senyum lima jari pada Davion yang masih sibuk pada mesin kasir.

"Tenang. Tenang. Apa gunanya sepupu bodohku itu, hm?"

"Ken sudah banyak membantu," dan pada bunyi kunci yang membuat Davina mengalihkan pandangan matanya sebentar.

Sampai saat pria itu duduk, menunggu Davina menyelesaikan pekerjaannya karena lagi-lagi, wanita itu menolak bantuannya.

"Ken sangat mengerti dirimu. Dan berhentilah menjadi pesimis akan banyak hal. Kau masih merintis, semua tidak akan berjalan sesuai yang kita mau."

Davion mencelos dengan ekspresi kaku sebelum dia memberikan Davina mantelnya. Dan wanita itu berbisik terima kasih dalam samar, membiarkan dia memakai mantel saat Davion menutup pintu dapur.

"Kau kembali dengan bis lagi?"

"Kau?"

"Ada yang menjemput," balas Davina santai. "Mau bergabung? Dia tidak keberatan sama sekali untuk mengantarmu pulang."

Davion mendengus pelan. Menggeleng saat dia membiarkan Davina memegang kunci kafe seperti biasa dan dirinya bergegas turun, pergi ke halte setelah tahu mobil milik kekasih Davina berhenti di depan kafe mereka.

***

Sepanjang perjalanan tidak ada yang berubah. Selain pemandangan kota yang tidak pernah tidur meski malam tiba sekali pun.

Pedagang-pedagang yang menggelar dagangan mereka di kios-kios pinggir jalan tanpa pernah merebut hak pejalan kaki. Menarik pembeli dengan cara unik.

Davion sempat termangu. Menatap mereka-mereka yang berusaha keras untuk menarik perhatian pejalan kaki membeli dagangan mereka. Dominan penjual makanan yang saling berebut perhatian satu sama lain. Menjual nama dengan dalih makanan mereka berbeda dari lapak sebelah. Dengan bumbu rahasia keluarga yang membuat beberapa orang yakin, dan akhirnya berbelok untuk membeli.

Namun, yang membuatnya tercenung bukan lagi pada pedagang-pedagang yang rata-rata berasal dari usia lanjut. Yang masih semangat mencari rezeki di tengah gempuran krisis ekonomi yang membuat kehidupan masyarakat menengah ke bawah tercekik karena terbentur kehidupan.

Tapi pada poster tertempel di gedung agensi terbesar yang ada di Tokyo. Pandangan Davion menyapu datar, sebelum mendesah panjang dan berlalu melewati kerumunan orang-orang dengan kepala tertunduk.

Setibanya dia di halte, bayang-bayang poster besar yang menandakan band besar itu akan comeback tidak pernah lepas dari kepalanya. Nyatanya, efek Two O'Clock masih sedahsyat itu untuknya. Antara masa depan dan masa lalu yang belum rela ia tinggalkan.

"Aku pikir bos kafe sepertimu punya mobil. Dan bukannya duduk menyendiri menunggu bis umum."

Davion menoleh datar. Memandang perempuan yang masih sama. Yang membuatnya tidak mampu bicara setelah keberaniannya berujung petaka. Davion tidak ingin menyalahkan popularitas yang sempat membayangi dirinya di masa muda. Dan dia juga tidak akan menimpakan kesalahan itu pada gadis berambut gulali yang menatap matanya tanpa emosi apa pun.

"Aku tidak sekaya itu."

Amara tidak lagi bersuara. Terlebih saat matanya menagkap poster besar yang terpampang hampir menutupi gedung agensi berlantai lima di depan sana.

"Merintis dari awal bukan kesalahan. Yang menjadi kesalahan adalah saat kau tidak lagi memiliki semangat untuk kembali menjalani hidup yang baru."

Davion menarik napas berat. Jengah karena topik pembicaraannya selalu mengarah tentang arti hidup. Saat dia menunggu bis terakhir dengan perasaan tak nyaman. Dan ketika dia memilih untuk bergeser sedikit lebih jauh, menciptakan jarak yang berhasil mengusik perhatian Amara.

"Bakatmu adalah meracik kopi?"

"Selain memetik gitar dan mengacau? Ya," balasnya tanpa ragu. Malah mengusik atensi Amara yang memandang ke arahnya datar. Mengangkat alis dengan bibir menipis sebelum membuang pandangannya ke arah lain.

"Kau termasuk golongan-golongan pesimis ternyata," Amara bangun dari tempat duduknya. Mengalungkan tasnya dan Davion sempat melihat dalam selintas brand ternama yang tersemat pada bagian luar tasnya.

Itu tidak murah.

"Bis belum datang. Kau mau pergi dengan taksi?"

Amara menoleh sebentar. Mengangkat bahu saat dia berbaur bersama pejalan kaki lain untuk menghilang, tertelan pekatnya malam dan membiarkan Davion kembali sendiri. Sendiri bersama isi kepala dan lamunannya.

***

Nyaris setiap hari gadis bernama Amara menjadi pengunjung tetap kedai kopi miliknya. Ini sudah satu tahun berlalu semenjak kafenya buka. Dan Amara menjadi pengunjung tetap tanpa pernah Davion tahu alasannya.

Termasuk hari ini. Di penghujung siang yang hampir usai, dan kala sore menyambut karena sinar matahari tidak lagi seterik sebelumnya.

"Selamat datang!"

Davion dapat melihat bagaimana gadis itu membeku karena mendengar suara riang Davina yang baru saja berlalu dari dapur. Menatap Amara dengan senyum lebar. "Selamat sore! Harimu berjalan baik?"

Terlalu terkejut dengan sikap ramah yang dibuat-buat, Amara bergerak mundur untuk menciptakan jarak. Meski Davina mengerti, senyum manis itu belum juga luntur.

Davion berdeham. Menarik kembali perhatian gadis itu yang pecah. Saat Amara menghela napas, merapikan kemeja polosnya dan balas mengangguk. Lalu melenggang begitu saja membiarkan Davina sendiri, mencelos dengan perasaan jengkel tapi dia tetap menahan diri untuk tidak meledak.

"Sahabatmu kenapa?"

Davion tersenyum sesal. "Tidak tahu," akunya.

Amara menarik napas panjang. Menunduk untuk mencari-cari kue manis yang bisa ia jadikan jaminan untuk mengisi perutnya yang mengamuk minta makan. Dan saat dia menatap pancake dengan es krim vanilla di atas, tanpa basa-basi meminta Davion memberikannya satu piring untuk menemani segelas dingin kopi latte.

"Terlalu banyak kafein tidak bagus. Tapi sudah satu tahun ini aku menjadi l*******n tetap kafein," ujarnya tiba-tiba. Membuat alis Davion berkerut satu sama lain dan mendadak Amara berbalik, mencari tempat duduk untuknya mengistirahatkan diri dari penatnya dunia kerja.

Ada empat orang di dalam kafe. Termasuk si gadis penyuka makanan manis. Saat Davina memindahkan pancake yang baru matang dan dia ingin menyajikan untuk si pemesan, Davion telah lebih dulu menarik piring itu di atas nampan. Membiarkan dia yang mengantar saat Davina memilih untuk mengalah dan melayani pembeli lain yang ingin memesan kopi.

Sudah tiga jam buka, beruntung ada sepuluh sampai sebelas orang yang mampir. Setelah Davion memutar otak untuk memberi diskon pada kopi-kopi larisnya, dan membiarkan otaknya tetap bekerja untuk menggaji Davina dan membayar hutang terlampau besar pada Ken.

"Hari yang buruk?"

Amara mengalihkan tatapannya dari buku bacaan dan memandang Davion sambil lalu. Sebelum dia bersuara pelan, nyaris terdengar bisikan. "Kau pernah berkuliah sebelumnya?"

"Sarjana. Lulusan Hubungan Internasional."

Amara menarik wajahnya mundur. Menatap pria itu gamang sebelum dia mengusap tengkuknya dan mendesah pendek. "Kenapa tidak mencoba peruntungan lain? Menjadi diploma, atau sesuatu yang berhubungan dengan hukum dan kedutaan?"

"Belum beruntung."

Amara tidak lagi bertanya saat dia kembali mendengar suara ramah Davina menyapa pembeli lain yang masuk ke dalam kafe. Dengan tatapan berseri-seri dan senyum lebar yang tidak tertahankan. "Kenapa dengannya?"

"Pertama kalinya kafe terlihat lebih hidup," aku Davion pelan. Mengamati ekspresi yang belum berubah dari wajah cantik yang duduk merenung pada kursi bernomor sepuluh.

"Namanya Davina. Sahabatku. Dia memiliki tunangan dan akan menikah tiga bulan dari sekarang."

Davion lantas terdiam. Memakukan tatapannya pada alis yang saling bertaut itu dalam senyap. Saat dia menghela napas, memandang sepiring pancake dan segelas latte dingin. "Nikmati waktumu."

Amara memandang kepergian si pemilik sekaligus pekerja dalam diam. Saat diamnya membawa kebingungan lain. Dan Amara kembali acuh, mencoba pancake itu dalam diam dan kembali menunduk untuk tenggelam dalam buku bacaannya. Ditemani alunan musik klasik yang santai, membuat suasana di dalam kafe terasa lebih senyap, namun menenangkan.

"Kau urus ini dulu. Aku akan pergi sebentar."

"Kemana?"

Davion menyugar rambutnya yang kering. "Melepas lelah sebentar."

Sebelum Davina bertanya lebih jauh, dia telah pergi ke tempat lain. Ruangan yang lebih pribadi untuknya menghabiskan hari. Entah apa yang ia lakukan di dalam sini selain duduk, membaca buku dan bermain gitar.

Hidupnya berjalan datar. Setelah melewati beberapa batu besar, belum ada tanda-tanda ia akan sampai tujuan. Jurang-jurang di sisi jalan masih menunggu dengan lapar. Siap menyantap jiwanya yang perlahan semakin tenggelam ke dasar.

Sepi mulai menggorogoti. Tidak ada yang bisa Davion lakukan saat dia tertekan dan tidak mampu menahan diri selain mundur dan pergi. Membiarkan semua kembali berjalan semestinya dan menumpuk di bawah kaki.

Pada ketukan pintu yang menyusul sepuluh menit kemudian.

"Davion?"

Davion segera bangun. Menyimpan kembali gitar lamanya di atas sofa tua. Berjalan membuka pintu dan melihat Davina yang bersalah karena telah mengganggu waktunya menyendiri.

"Aku minta maaf karena—,"

"Tidak apa," pria itu lantas menggeleng. Menarik gagang pintu untuk tertutup lebih rapat. Tidak mau membiarkan dunia tahu apa yang tersembunyi dalam ruangan sempit ini.

Davina berdeham. Membenahi letak kacamatanya dengan senyum.

"Sepertinya kita akan datang p*******n banyak hari ini."

Alis Davion bertaut satu sama lain. Keningnya mengernyit kala dia menatap sosok yang sama, yang masih duduk bersama dua orang laki-laki muda yang berdiri kaku di samping meja.

"Kenapa mereka tidak duduk?"

"Kalian yang butuh, kan? Bawa kemari peserta rapat. Aku tidak mau rapat di dalam kantor."

"Nona Amara?"

"Lima belas menit dari sekarang atau kububarkan divisi kalian."

Suara ketusnya sampai di pendengaran Davion yang masih berfungsi dengan baik. Karena memang tempat ini tidak terlalu luas dan Davion mengerti kalau bisik-bisik dari pengunjung nyaris membuat kepalanya penuh.

Dan dia berusaha menahan diri untuk tetap bertahan. Tidak ada kesibukan lain yang bisa ia lakukan selain mengelola kafe dan menjadikannya bisnis pribadi untuk menyambung kehidupan.

"Astaga. Aku lupa!"

Davina mendesis. Saat dia memukul lengan Davion. Mengembalikan pria itu dalam ambang waras. "Aku harus membeli bahan pancake. Kalau nanti malam pasti tutup."

Davion mengangguk. Mengusap ujung hidungnya saat dia mengeluarkan dompet dan Davina mendorong tangan itu menjauh. Membiarkan Davion dalam kebingungan.

"Kenapa?"

"Aku sudah memegang uang," sahutnya singkat dan berbalik untuk mengambil tas selempang. Mencari mantel lalu melambai pergi melewati pintu dapur.

"Ada lima belas orang, Nona Amara. Anda serius ingin membawa kami semua kemari?"

Amara menutup bukunya. Memandang dua laki-laki yang masih berani menatap matanya dengan kening berkerut tipis. "Aku yang akan bayar makan siang kalian. Panggil teman-temanmu ke sini."

"Baik!"

Keduanya bergegas untuk pergi. Meminta waktu sebentar menghubungi rekannya yang cemas dan kebingungan menunggu di ruang rapat karena sang bos tidak kunjung datang.

Amara menghela napas. Mengusap rambutnya yang terikat tinggi dengan pandangan merana. Sebelum ekspresi lelah itu berganti dengan raut kaku.

"Kau butuh bantuan?"

Amara kembali duduk saat dia melihat Davion sudah berdiri di belakangnya. Pria itu tanpa basa-basi mendekati meja, menatap matanya serius. "Kau bos mereka?"

"Kepala tim," balas Amara sekenanya.

Kemudian pada tarikan napas panjang Davion yang membuat gadis itu kembali merubah posisi duduknya, mendorong buku setebal enam ratus halaman ke sisi meja lain. "Apa?"

"Bukan kepala tim," tebak pria itu sembarangan.

Amara menautkan alis. Ingin tertawa tapi ini tidak lucu. Reaksi yang dia berikan hanya dengusan samar, lalu melipat tangan di depan d**a.

"Manajer umum."

Amara menunduk sebentar. Mengernyit dengan gelengan kepala dan terlihat geli. "Bukan."

"Oke, kepala divisi."

"Benar."

Dan Davion berbalik. Membiarkan gadis itu sendiri saat sepasang mata penuh selidik sekaligus tajam itu tidak pernah lepas darinya.

Juga pada perempuan di usia dua puluhan yang berlari, tersengal-sengal dengan berusaha keras mengais oksigen di dalam ruangan.

"Nona Amara, berhenti membuat kami cemas."

Alih-alih Davion tetap pergi dan membiarkan gadis itu lakukan sesukanya tanpa merugikan orang lain, dia malah menunggu sampai Amara bicara dan gadis malang itu berlutut ke arahnya. Tampak tertekan sekaligus frustrasi.

"Maafkan kecerobohanku, Nona Amara. Karena kesalahanku Anda menghukum divisi keuangan."

Amara masih diam. Membiarkan dirinya menjadi tontonan menarik kala matanya naik, memandang Davion yang termenung dalam diam. Menyembunyikan rasa ingin tahu dan penasarannya dengan sempurna.

Tidak. Gadis itu bukan perempuan sembarangan. Bukan perempuan biasa yang berkata kalau dirinya hanya pegawai magang di The Belgium Holdings.

Bahkan saat pandangan mereka bertemu, Davion tidak lagi melihat sosok gadis kesepian yang berusaha menyimpan duka seorang diri. Melainkan perempuan keras otoriter dan suka membuat orang lain menderita sebagai pelepasan atau sekadar ingin bersenang-senang.

"Bangun, Ana."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Secret Marriage

read
918.3K
bc

Mendadak Jadi Istri CEO

read
1.6M
bc

Maaf, Aku Memilih Dia!

read
199.0K
bc

Istri Simpanan CEO

read
203.7K
bc

Sacred Lotus [Indonesia]

read
40.8K
bc

Long Road

read
114.1K
bc

Rujuk

read
360.5K
dreame logo

Download Dreame APP

download_iosApp Store
google icon
Google Play