26

2097 Words

"Kau bisa bermain alat musik lain selain gitar?" Davion sempat terpaku. Tercekat selama beberapa saat sebelum dia membuang napasnya kasar. "Piano." "Selain itu?" Davion menggeleng. Amara kembali memasang raut datarnya. Saat dia bangun, berjalan untuk mendekati piano dengan lambang mahal yang mencolok. Mengingat Davion remaja sangat sukses saat itu, Amara yakin uang yang ia terima sepanjang karirnya masih bersinar juga tidak sedikit. "Aku terkadang ingin belajar memainkannya juga. Di rumahku ada piano lama, peninggalan ibuku semasa remaja." Amara menekan satu tuts tanpa ekspresi berarti. "Ibu berkali-kali bermain dan aku akan duduk di kursi lain sebagai penonton. Penonton setia sampai aku mati. Aku akan menonton ibuku bermain sampai napasku habis." "Ibumu—," "Aku rasa Rail bercerita

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD