BAB 18

920 Words
SENA             Pembicaraan sama opa dan papa kamu tadi berjalan baik.             Kamu jangan kepikiran, ya..              Tadi aku cuma capek. Besok kalau kamu nggak sibuk, kita ketemu di apartemen    aku      aja.             Gue mengirimkan pesan itu ke Kiara. Merasa bersalah ketika mengingat wajahnya tadi. Kalau ada yang harus disalahkan dalam insiden semalam, bukan Kiara orangnya. Selang beberapa saat, pesan balasan dari Kiara masuk.             Oke. Kamu jaga kesehatan, jangan sampe telat makan.             Sampai ketemu besok… Love you~             Gue merasakan gelenyar hangat dalam d**a gue ketika membaca pesannya. Membuat gue mau nggak mau meloloskan senyuman. Namun, jari-jari gue mendadak kaku ketika gue hendak mengetikkan balasan. Ada bentrokan antara sesuatu yang ingin gue ketik dan pergulatan dalam diri gue.             Perlahan, kehangatan tadi memudar seiring dengan gue mencoba mengetikkan kata yang sama untuk membalas pernyataannya yang terakhir. Alhasil, gue meletakkan ponsel di dashboard. Alih-alih membalas, gue mengabaikan pesan itu kemudian menatap ke luar jendela. Tampak sosok yang gue tunggu akhirnya keluar.             Gue meraih buket yang gue beli dalam perjalanan tadi, kemudian membuka pintu dan melangkah keluar. Tepat saat gue menutup pintu dan sosok itu membuka pagar, tatapan kami bertemu.             “Kak Sena? Ngapain ke sini?” Gadis itu …, Khayana… mengenakan setelan kantor warna putih dan abu-abu, berdiri di hadapan gue. Dan detik ini juga gue bertanya-tanya kenapa gue mendadak memperhatikan penampilannya.             Gue mengabaikan pertanyaannya. Menyodorkan buket yang sedari tadi gue sembunyikan di balik tubuh.             Khayana menatap buket itu, terpana. Itu adalah mawar putih kesukaannya. Gue menaikkan alis, mengisyaratkannya untuk mengambilnya.             Tangannya terulur. Detik berikutnya, buket itu sudah berada dalam pelukannya. “Ini dalam rangka apa?”             Gue menengadahkan kepala, pura-pura mencari jawaban. “Ehm…, hadiah untuk anak baik.”             Khayana tersenyum. Akhirnya. “Makasih,” katanya lembut.             “Yuk, Kakak antar kamu ke kantor.” Gue membukakan pintu untuknya. ****             “Gue udah minta maaf ke dia soal kemarin. Tapi dia tetap ngotot mau ngundurin diri.” Romeo masih mondar-mandir di depan meja gue.             “Permintaan maaf lo nggak menjamin kejadian serupa nggak bakal terulang, kan?” Gue melemparkan kalimat itu ke Romeo. Yang dibalas dengan kebisuan, sebelum akhirnya dia menatap gue putus asa.             “Jadi lo nggak mau ngebujuk dia?”             Gue menggeleng. “Dia bagian dari hidup gue, Rom. Ngehina Khayana sama aja ngehina gue. Dan kalau dia masih kerja sama lo, akan besar kemungkinan insiden yang lebih parah bakal terjadi. Dan gue nggak mau hal itu terjadi.” balas gue, menutup map berisi dokumen kemudian beranjak meninggalkan ruangan.             “Lo mau kemana?” tanya Romeo yang sudah siap mengekor gue keluar.             “Klub boxing lo itu nerima penantang dari luar, kan?” tanya gue.             Alis Romeo terangkat. Gue berhenti tepat sebelum membuka pintu ruangan, tersenyum. “Lawan gue malam ini.” ****             Romeo aktif dalam beberapa klub seperti rally atau bela diri untuk menjalin hubungan baik dengan beberapa orang-orang penting di samping melatih ketangkasan dan kebugaran. Thai boxing menjadi salah satu favoritnya. Membuatnya cukup ahli dalam olahraga ini. Gerakannya gesit, pukulannya pun kuat. Bukan hal mudah untuk menumbangkannya. Dan saat ada kesempatan untuk menembus pertahanannya, memukuli wajah Romeo ternyata menjadi cara ampuh untuk mengobati suasana hati gue yang buruk sejak kejadian di pesta tempo hari.             Satu pukulan untuk keberaniannya mengajak Khayana sebagai pasangannya. Satu untuk keteledorannya karena meninggalkan Khayana di pesta demi mantan kekasihnya dan berujung pada insiden itu, dan satu lagi untuk tumpukan persaingan di antara kami selama ini.             Wasit membunyikan lonceng setelah 2 menit ke-tiga berakhir. Tepat setelah Romeo melancarkan siku diikuti tendangannya ke tubuh gue. Pertandingan diakhiri dengan kemenangan Romeo.              “Lo kayaknya marah banget sama gue, Sen.” Romeo membuka percakapan. Sama seperti gue, napas kami mulai kembali ke tempo semula. Kini kami tengah duduk di luar ring sambil menonton pertandingan lain.             Gue meneguk air yang sama sepertinya, kemudian tersenyum. “Sejelas itu, ya?”             “Lo nggak pernah natap gue kayak tadi.” Romeo tertawa renyah. “Orang kalem separuh kaku kayak lo, jarang banget mainin ekspresi kayak tadi kecuali benar-benar muak sama orang.”             Gue terdiam. Romeo benar. Gue muak.             “Kenapa?” Romeo bersuara, seolah tahu isi kepala gue. Dan pertanyaan yang keluar selanjutnya adalah pertanyaan yang juga tengah gue tanyakan ke diri gue sendiri. “Lo keberatan gue deketin Khayana?”             Gue terenyak. Memandang wajahnya sekilas, kemudian beranjak menuju loker.             “Gue lihat kalian kemarin. Lo datang ke rumahnya pagi-pagi. Bawa sebuket bunga. Dan dia kelihatan seneng banget.” Romeo tertawa. “Gue bahkan sampai minder dan milih balik waktu itu. Bahkan saat gue bawa buket yang lebih besar sekali pun, gue nggak yakin dia bisa seseneng itu. Gue nggak tahu bunga yang dia suka, sedangkan lo kemungkinan besar tahu. Lebih-lebih, apa artinya buket dari gue kalau dia udah dapat dari lo? Orang yang dianggapnya spesial.”             Gue menoleh ke arahnya. “Maksud lo apa?”             “Lo nolak ngebujuk dia, bukan cuma buat ngelindungi dia. Tapi lebih karena lo cemburu dia deket sama gue,” gumamnya, seperti merangkai-rangkai kejadian untuk dirinya sendiri. Dia menggeleng-geleng kepalanya, mengacak rambutnya seraya tertawa lagi seperti orang frustasi. “Sen! Sebenarnya hubungan lo sama Khayana kayak apa, sih?” Romeo berseru, suaranya mengalun dalam ruangan, bersahutan dengan suara jatuhnya salah satu petarung.             Gue menoleh ke arahnya. Ada sesak dalam tenggorokan gue sebelum akhirnya menjawab pertanyaannya. “Dari lo ngomong panjang lebar seolah ngehakimin gue barusan, kayaknya lo udah punya jawaban sendiri. Dan gue nggak yakin jawaban dari gue bakal berarti lagi buat lo.”             Gue mendahuluinya ke ruang ganti. Meninggalkannya yang sepertinya bisa adu pukul dengan anggota klub sampai pagi jika melihat tampangnya sekarang. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD