Kolam renang apartemen itu masih sepi pagi itu. Airnya jernih, memantulkan cahaya matahari yang belum terlalu terik. Yasmin sudah lebih dulu berada di dalam kolam, rambutnya terikat sederhana, wajahnya terlihat segar dan santai. Ia bergerak perlahan, menikmati air yang menenangkan.
Rio menyusul beberapa saat kemudian. Begitu masuk ke kolam, pandangannya langsung tertuju pada Yasmin. Wanita itu terlihat begitu bebas, jauh berbeda dari sosok yang ia lihat di rumah besar Eliona. Di sini, Yasmin seperti milik dirinya sendiri.
“Kamu kelihatan menikmati ini,” kata Rio sambil berenang mendekat.
“Karena memang menyenangkan,” jawab Yasmin sambil tersenyum. “Aku jarang merasa setenang ini.”
Rio terkekeh kecil. “Aku juga.”
Mereka berenang berdampingan, sesekali saling menyiram air dengan gerakan kecil yang berubah menjadi tawa. Rio tiba-tiba mendekat dari samping, mencoba meraih Yasmin dengan bercanda.
“Eh, jangan curang,” protes Yasmin sambil tertawa.
Rio berhasil memeluknya sebentar dari samping, lalu dengan cepat mengecup pipi Yasmin sebelum ia sempat menghindar. Yasmin terkejut, lalu tertawa lebih keras.
“Kamu ini,” katanya sambil menepuk bahu Rio pelan. “Seenaknya saja.”
Rio tersenyum lebar. “Maaf. Refleks.”
Yasmin menatapnya beberapa detik, lalu tanpa banyak berpikir, ia mengalungkan kedua tangannya di leher Rio. Jarak mereka kini sangat dekat, namun tidak ada yang terasa tergesa. Air kolam bergoyang pelan di sekitar mereka.
“Rio,” panggil Yasmin lembut.
Rio langsung menatapnya. “Iya?”
Yasmin menarik napas sebentar, lalu berkata dengan nada yang lebih serius dari sebelumnya. “Kenapa kita tidak jujur saja?”
Rio terdiam. “Maksudmu?”
“Kenapa kamu tidak jadi kekasihku saja?” ucap Yasmin pelan tapi jelas.
Rio terkejut. Matanya membesar sesaat, tubuhnya menegang tanpa sadar. “Yasmin…”
“Aku tidak sedang bercanda,” lanjut Yasmin. “Aku capek berpura-pura. Aku capek membaca situasi. Aku mau sesuatu yang jelas.”
Rio terdiam cukup lama. Di kepalanya, berbagai hal berputar cepat. Rumah, Eliona, semua konsekuensi yang mungkin terjadi. Tapi di hadapannya, ada Yasmin yang menatapnya dengan mata tenang, seolah sudah siap dengan jawabannya apa pun itu.
“Kamu yakin?” tanya Rio akhirnya.
Yasmin mengangguk. “Aku tahu apa yang aku mau.”
Rio menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil. “Aku tidak menyangka kamu akan mengatakannya langsung.”
“Aku bukan tipe yang suka berputar-putar,” jawab Yasmin. “Bagaimana denganmu?”
Rio menatap Yasmin dalam-dalam. “Aku mau,” katanya jujur. “Aku mau jadi kekasihmu.”
Yasmin tersenyum, kali ini lebih lebar, lebih lega. “Benar?”
Rio mengangguk. “Tentu saja. Mana mungkin aku menolak.”
Yasmin tertawa kecil, lalu menyandarkan keningnya ke kening Rio. “Akhirnya.”
Rio ikut tertawa pelan. “Kamu tahu ini tidak akan mudah.”
“Aku tahu,” jawab Yasmin tenang. “Tapi aku tidak takut.”
Rio meraih tangan Yasmin, menggenggamnya di bawah air. “Aku juga tidak.”
Mereka berenang ke tepi kolam dan duduk berdampingan, kaki mereka masih terendam air. Tidak ada kata-kata besar, tidak ada janji berlebihan. Hanya dua orang yang akhirnya sepakat pada perasaan yang sejak awal sudah sulit disangkal.
Rio menoleh ke arah Yasmin. “Mulai sekarang, kita hadapi bersama.”
Yasmin menatapnya dengan senyum penuh keyakinan. “Bersama.”
Di tengah kolam renang yang tenang itu, keputusan sederhana baru saja diambil.
Dan tanpa mereka sadari sepenuhnya, keputusan itu akan mengubah banyak hal ke depannya.
***
Eliona duduk di ruang tengah dengan ponsel di tangannya. Jam dinding sudah menunjukkan hampir tengah hari. Cahaya matahari masuk terang melalui jendela besar, namun sama sekali tidak memberi rasa hangat di dadanya. Sejak pagi tadi, pikirannya terus dipenuhi satu pertanyaan yang sama.
Kemana Rio?
Ia menekan tombol panggil lagi. Nada sambung terdengar, memanjang, lalu berhenti. Tidak diangkat. Lagi-lagi tidak diangkat.
“Kurang ajar,” gumam Eliona sambil melempar ponselnya ke sofa.
Ia berdiri dengan langkah cepat, mondar-mandir di ruang tengah. Sejak semalam Rio tidak pulang. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar. Dan sekarang sudah siang, tapi suaminya tetap menghilang seolah rumah ini bukan lagi tempatnya kembali.
“Keterlaluan,” katanya lebih keras. “Ini sudah kelewatan.”
Eliona berhenti di depan jendela, menatap halaman kosong. Garasi masih kosong. Tidak ada tanda-tanda mobil Rio. Dadanya naik turun, emosi mulai bercampur antara marah dan khawatir, meski ia enggan mengakui rasa khawatir itu.
Ia kembali mengambil ponsel, kali ini membuka pesan-pesan lama. Percakapan terakhir mereka begitu singkat. Tidak ada tanda-tanda pertengkaran besar. Tidak ada alasan kuat bagi Rio untuk menghilang seperti ini.
“Atau jangan-jangan…” Eliona menggigit bibirnya.
Pikirannya melayang ke berbagai kemungkinan yang tidak ingin ia pikirkan. Ia menggeleng keras, seolah ingin mengusirnya.
“Tidak. Aku hanya terlalu curiga,” katanya pada diri sendiri.
Namun perasaan itu tetap ada, menggerogoti perlahan.
Ia duduk kembali, menyilangkan kaki, lalu menelpon lagi. Kali ini lebih lama. Tetap tidak diangkat. Eliona mendengus kasar.
“Kalau kau pikir aku akan diam saja, kau salah besar, Rio,” ucapnya dingin.
Ia berdiri dan berjalan ke dapur, menuang segelas air namun tidak diminumnya. Gelas itu hanya ia genggam kuat, seolah menyalurkan emosinya ke benda itu.
“Semalaman pergi, tidak pulang, sekarang tidak bisa dihubungi,” gumamnya. “Apa aku ini istri atau hanya pajangan?”
Eliona kembali ke ruang tengah dan duduk dengan punggung tegak. Wajahnya kini dingin, matanya tajam. Rasa sabarnya mulai habis, digantikan oleh kemarahan yang tertahan.
Ia kembali mengingat sesuatu yang membuat dadanya sedikit mengeras.
Yasmin.
Ibu tirinya itu juga tidak ada di rumah. Katanya liburan ke Labuan Bajo. Eliona mendengus sinis mengingatnya. Sejak awal ia tidak pernah benar-benar percaya dengan senyum tenang Yasmin yang selalu terlihat terlalu santai, terlalu percaya diri.
“Apa hubungannya?” gumam Eliona cepat, lalu menggeleng. “Tidak mungkin.”
Namun semakin ia mencoba menepis, semakin pikirannya mengaitkan hal-hal kecil yang selama ini ia abaikan. Tatapan Rio yang sering kosong. Cara Yasmin yang terlalu tenang. Kebetulan-kebetulan yang terasa rapi.
Eliona mengepalkan tangannya.
“Kalau sampai aku tahu kau berbohong,” katanya lirih namun penuh ancaman, “aku tidak akan diam.”
Jam kembali berdetak. Siang semakin berjalan. Rio tetap tidak pulang. Tidak memberi kabar. Dan di rumah besar itu, Eliona duduk sendirian dengan kemarahan yang perlahan berubah menjadi kecurigaan yang jauh lebih berbahaya.
Tanpa ia sadari, ketenangannya mulai retak.
Dan sekali retak, semuanya hanya tinggal menunggu waktu untuk runtuh.