Bab 11

1628 Words
Yasmin berdiri di balkon kamarnya dengan sikap santai. Asap rokok keluar perlahan dari bibirnya, terbawa angin pagi yang masih sejuk. Dari lantai atas apartemen itu, pandangannya jatuh lurus ke area parkiran. Sebuah mobil hitam yang sangat ia kenal terparkir rapi di sana. Yasmin tersenyum tipis, senyum yang tidak sepenuhnya hangat. “Cepat sekali,” gumamnya pelan. “Baru pagi tadi pagi pulang, dan sudah kembali lagi.” Ia tahu betul apa artinya itu. Rio pulang ke rumah hanya untuk menunjukkan seolah semuanya baik-baik saja, lalu malamnya langsung kembali ke apartemen ini. Pola yang rapi. Pola yang mudah dibaca. Yasmin menghisap rokoknya sekali lagi, lalu mematikan ujungnya di asbak kecil. Ia merapikan rambutnya dengan gerakan pelan, lalu dengan sengaja membuka sedikit blazer tipis yang ia kenakan di atas gaun tidurnya. Bukan berlebihan, hanya cukup untuk menegaskan siluet tubuhnya. Ia tahu betul, Rio selalu memperhatikan detail kecil seperti itu. Pintu balkon terbuka perlahan. Rio muncul dari balik pintu kaca, masih mengenakan kemeja yang sama sejak semalam. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya langsung tertuju pada Yasmin. “Kamu sudah bangun?” tanya Rio, suaranya rendah. Yasmin menoleh setengah badan. “Sejak tadi,” jawabnya santai. “Kamu kelihatan capek.” Rio tersenyum kecil. “Sedikit.” “Rumah berjalan lancar?” tanya Yasmin tanpa menoleh sepenuhnya. Rio mengangguk sambil bersandar di kusen pintu. “Dia percaya.” Yasmin tersenyum lebih lebar. “Aku sudah menduganya.” Rio memperhatikannya beberapa detik, lalu berkata, “Kamu seperti tidak terkejut sama sekali.” “Aku mengenalnya,” jawab Yasmin ringan. “Eliona selalu melihat apa yang ingin ia lihat.” Rio terdiam. Ia melangkah mendekat ke balkon, berdiri di samping Yasmin, tapi tetap menjaga jarak. “Kamu tidak takut?” tanya Rio pelan. “Takut soal apa?” Yasmin menoleh menatapnya. “Soal kalau semua ini ketahuan,” jawab Rio jujur. Yasmin tertawa kecil. “Kalau aku hidup dengan rasa takut, aku tidak akan sampai di titik ini.” Rio menghela napas. “Kamu terlalu tenang.” “Karena aku tahu apa yang aku lakukan,” balas Yasmin. “Dan aku tahu kamu juga.” Rio menatap wajah Yasmin lama. “Aku tidak menyangka akan berada di posisi ini.” Yasmin menatap ke bawah lagi, ke arah parkiran. “Aku juga tidak menyangka kamu akan kembali secepat ini.” Rio tersenyum samar. “Aku tidak bisa jauh lama.” “Kenapa?” tanya Yasmin, nada suaranya lembut tapi penuh makna. Rio tidak langsung menjawab. “Di sini… aku merasa berbeda.” Yasmin akhirnya menatapnya penuh. “Lebih tenang?” Rio mengangguk. “Lebih hidup.” Yasmin mendekat setengah langkah, cukup membuat Rio menyadari kehadirannya dengan jelas. “Kalau begitu, kamu harus belajar membagi waktu dengan rapi,” katanya pelan. “Agar tidak ada yang curiga.” Rio menelan ludah. “Kamu selalu mengingatkanku soal itu.” “Karena aku tidak mau kamu ceroboh,” jawab Yasmin. “Aku tidak mau semuanya runtuh hanya karena emosi sesaat.” Rio mengangguk pelan. “Aku mengerti.” Yasmin tersenyum tipis, lalu berbalik masuk ke dalam kamar. “Kamu lapar?” “Sedikit,” jawab Rio. “Aku buatkan kopi dulu,” kata Yasmin sambil berjalan ke dapur kecil. “Kamu duduk saja.” Rio mengikuti dengan pandangan matanya, lalu duduk di kursi dekat meja. Ia memperhatikan setiap gerak Yasmin, dari cara ia menuang air panas hingga mengaduk kopi dengan tenang. “Kamu seperti sudah terbiasa dengan situasi ini,” ujar Rio tiba-tiba. Yasmin tersenyum tanpa menoleh. “Aku hanya tidak suka terburu-buru.” Rio tertawa kecil. “Aku yang seharusnya belajar darimu.” Yasmin meletakkan cangkir kopi di depan Rio. “Minum. Kamu butuh energi.” Rio mengambil cangkir itu. “Terima kasih.” Mereka terdiam sejenak, hanya suara kota yang samar terdengar dari luar jendela. Di dalam keheningan itu, Yasmin tahu satu hal dengan pasti. Rio semakin nyaman. Dan kenyamanan adalah langkah paling berbahaya sekaligus paling sulit dilepaskan. Ia mengangkat cangkirnya sendiri, menatap Rio sekilas, lalu tersenyum pelan. Permainannya berjalan persis seperti yang ia rencanakan. *** Rio dan Yasmin kini berbaring di atas ranjang yang rapi, lampu kamar diredupkan hingga hanya menyisakan cahaya lembut. Hening menyelimuti ruangan, hanya suara napas mereka yang terdengar pelan. Rio memeluk Yasmin dari belakang, lengannya melingkar hangat di pinggang wanita itu. Hidungnya sesekali menyentuh rambut Yasmin yang wangi, membuatnya menghela napas panjang, seolah menemukan tempat paling tenang setelah hari yang melelahkan. “Kamu wangi,” bisik Rio pelan, suaranya hampir tenggelam oleh sunyi. Yasmin tertawa kecil. “Kamu selalu bilang begitu.” “Karena memang begitu,” jawab Rio ringan. Ia kembali mengecup rambut Yasmin dengan lembut, bukan terburu-buru, bukan berlebihan. Hanya sebuah kebiasaan kecil yang membuatnya merasa dekat. Yasmin menggerakkan tangannya, menyentuh tangan Rio yang memeluknya. Jari-jarinya memainkan jemari Rio dengan santai, seperti menenangkan. “Kamu capek,” katanya pelan. “Sedikit,” jawab Rio jujur. “Tapi di sini rasanya lebih ringan.” Yasmin tersenyum, lalu menoleh setengah badan ke belakang agar bisa menatap wajah Rio. Matanya lembut, suaranya dibuat manja. “Tidur di sini malam ini, ya.” Rio terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Kamu yakin?” Yasmin mengangguk pelan. “Aku mau kamu di sini. Peluk aku.” Rio tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk, mendekatkan dirinya sedikit, mempererat pelukannya dengan hati-hati. “Aku tidak akan ke mana-mana,” katanya lirih. Yasmin kembali tertawa kecil. “Kamu selalu bilang begitu.” “Dan aku selalu menepatinya,” sahut Rio, suaranya tenang. Mereka kembali diam. Yasmin bersandar lebih nyaman di d**a Rio, matanya perlahan terpejam. “Kalau malam begini,” ucapnya pelan, “aku merasa semuanya lebih sederhana.” Rio mengangguk, meski Yasmin tak melihatnya. “Aku juga.” Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Rio mengusap lengan Yasmin perlahan, gerakannya menenangkan. “Kamu tidak takut?” tanyanya tiba-tiba. “Takut apa?” Yasmin membuka mata sedikit. “Kalau semuanya jadi rumit,” jawab Rio jujur. Yasmin terdiam sejenak sebelum menjawab. “Aku sudah melewati banyak hal yang lebih rumit dari ini.” Rio tersenyum kecil. “Kamu memang kuat.” Yasmin menoleh lagi, menatap Rio dengan senyum tipis. “Dan kamu membuatku merasa tidak sendirian.” Kalimat itu membuat Rio menahan napas sesaat. Ia mengecup rambut Yasmin sekali lagi, lalu berbisik, “Tidurlah. Aku di sini.” Yasmin mengangguk, memejamkan mata sepenuhnya. Tangannya masih menggenggam tangan Rio, seolah memastikan lelaki itu benar-benar ada. Di luar, suara kota terdengar samar, namun di dalam kamar itu, segalanya terasa tenang. Malam berjalan perlahan. Tidak ada percakapan besar, tidak ada janji yang diucapkan keras-keras. Hanya dua orang yang memilih untuk saling diam dan berbagi kehangatan. Dan bagi Rio, memeluk Yasmin malam itu terasa lebih dari sekadar kebersamaan. Itu adalah tempat ia ingin menetap lebih lama, meski ia tahu, pagi akan selalu membawa kenyataan yang berbeda. ** Di rumah yang terasa terlalu besar dan terlalu sepi itu, Eliona duduk di tepi ranjang sambil menatap jam dinding. Jarumnya sudah melewati angka dua belas malam. Detiknya berdetak pelan, namun justru itu yang membuat suasana terasa semakin menekan. Eliona mendengus kesal. “Jam segini belum pulang juga,” gumamnya sambil meraih ponsel di atas nakas. Layarnya menyala, tidak ada satu pun pesan masuk. Tidak ada panggilan tak terjawab. Kosong. Ia bangkit berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar. Tirai jendela disibakkan sedikit, memperlihatkan halaman rumah yang gelap. Mobil Rio tidak ada di garasi. “Hebat,” katanya sinis. “Sekarang pulang sesuka hati.” Eliona duduk kembali, kali ini dengan sikap lebih tegang. Pikirannya berlari ke mana-mana, meski ia berusaha menahannya. Ia tidak suka perasaan ini. Tidak suka menunggu. Tidak suka merasa ditinggalkan. Ia membuka ponselnya lagi, menekan nama Rio. Nada sambung terdengar beberapa detik, lalu berhenti. Tidak diangkat. Eliona melempar ponsel ke kasur dengan kesal. “Selalu begitu,” gerutunya. “Kalau aku yang butuh penjelasan, selalu dianggap berlebihan.” Ia berdiri dan berjalan ke kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Pantulan wajahnya di cermin terlihat tegang, mata tajam namun lelah. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri. Keluar dari kamar mandi, langkahnya terhenti di depan kamar kosong di ujung lorong. Kamar yang ditempati Yasmin. Eliona mendecak pelan. “Wanita itu juga menghilang.” Ia teringat ucapan Yasmin beberapa waktu lalu tentang liburan ke Labuan Bajo. Eliona mendengus sinis. “Liburan,” ulangnya dengan nada meremehkan. “Ke mana pun kau pergi, aku tidak peduli.” Ia memalingkan wajah dari pintu kamar itu. “Ke neraka pun aku tidak peduli,” katanya dingin. Namun meski bibirnya mengucapkan ketidakpedulian, pikirannya tidak sepenuhnya sejalan. Ada rasa tidak nyaman yang sulit dijelaskan. Bukan karena Yasmin pergi, melainkan karena kepergian itu terasa terlalu rapi. Terlalu tenang. Eliona kembali ke kamarnya, duduk di ranjang sambil menyilangkan tangan. Jam kini menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh. Ia menatap ponselnya lagi, kali ini ragu-ragu. “Apa dia benar-benar di kantor?” gumamnya. Ia teringat wajah Rio pagi tadi, terlihat lelah, tapi terlalu tenang. Biasanya, jika benar-benar kelelahan, Rio akan langsung tidur begitu sampai rumah. Tapi tadi pagi, suaminya justru terlihat ingin cepat pergi. Eliona menggelengkan kepala. “Aku terlalu curiga,” katanya pada diri sendiri. “Dia bekerja keras. Itu saja.” Namun perasaan itu tidak sepenuhnya pergi. Ia merebahkan tubuh di ranjang, mematikan lampu. Kegelapan menyelimuti kamar, tapi matanya tetap terbuka. Setiap suara kecil dari luar membuatnya menoleh. Setiap detik yang berlalu terasa panjang. “Kalau kau tidak pulang tengah malam begini,” gumamnya lirih, “setidaknya beri kabar.” Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Eliona akhirnya memejamkan mata, meski tidurnya gelisah. Dalam benaknya, ada perasaan asing yang perlahan tumbuh—perasaan bahwa sesuatu sedang bergerak di luar kendalinya. Dan tanpa ia sadari, di tempat lain, pada jam yang sama, Rio tertidur dengan tenang dalam pelukan wanita lain, sementara jarak di antara mereka bertambah tanpa suara. Malam itu, rumah Eliona tetap sunyi. Namun sunyi itulah yang perlahan mulai berbicara.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD