Yasmin dan Rio duduk saling berhadapan di meja kecil itu. Sarapan tersaji sederhana, tapi suasananya terasa jauh dari biasa. Sendok dan piring bergerak pelan, tidak ada suara televisi, hanya bunyi kecil dari alat makan yang sesekali beradu.
Yasmin terlihat santai. Ia makan dengan tenang, sesekali menatap Rio seolah ingin memastikan lelaki itu benar-benar memperhatikannya. Rio sendiri berusaha bersikap biasa, meski pikirannya tidak setenang wajahnya.
Di tengah suasana itu, Yasmin menggerakkan tangannya perlahan. Seolah tidak sengaja, jemarinya menyentuh tangan Rio yang terletak di atas meja. Sentuhan itu ringan, sangat singkat, namun cukup untuk membuat tubuh Rio menegang seketika.
Yasmin tidak langsung menarik tangannya. Ia justru mengusap pelan, gerakannya lembut, nyaris seperti kebiasaan yang wajar. Namun bagi Rio, sentuhan itu terasa berbeda. Napasnya sedikit tertahan, dan tanpa sadar ia menjilat bibirnya yang tiba-tiba terasa kering.
Tatapan Rio terangkat, bertemu dengan mata Yasmin. Wanita itu tersenyum tipis, senyum yang tidak berlebihan, tapi jelas penuh arti. Tidak ada kata-kata, hanya tatapan yang berbicara lebih banyak daripada suara.
Rio menelan ludahnya. Ia tahu seharusnya ia menarik tangannya, menjauh, atau setidaknya bersikap tegas. Tapi tubuhnya justru diam, seolah tidak mau menuruti pikirannya. Ada bagian dalam dirinya yang menikmati kedekatan itu, meski ia sadar betul bahwa semua ini salah.
Yasmin akhirnya menarik tangannya perlahan, kembali memegang sendoknya seperti tidak terjadi apa-apa. Ia melanjutkan makan dengan sikap tenang, seakan sentuhan barusan hanyalah hal kecil yang tak berarti.
“Kamu kenapa?” tanya Yasmin ringan, pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.
“Tidak apa-apa,” jawab Rio cepat. Suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya.
Yasmin mengangguk kecil. Ia menyesap minumannya, lalu bersandar sedikit di kursi. Gerakannya santai, tapi sikapnya membuat Rio semakin sulit mengalihkan pandangan. Ada sesuatu dari Yasmin yang selalu membuatnya gelisah, sesuatu yang tidak ia rasakan ketika bersama Eliona.
Setelah sarapan selesai, Yasmin membereskan piring. Rio ikut berdiri, berniat membantu, tapi Yasmin menggeleng pelan dan memintanya duduk saja. Rio menurut, meski matanya terus mengikuti setiap gerakan Yasmin di dapur.
Saat Yasmin berdiri di depan wastafel, Rio kembali merasakan dorongan yang sama seperti tadi pagi. Keinginan untuk mendekat, untuk merasakan kehadiran Yasmin lebih dekat lagi. Ia mengepalkan tangannya, berusaha menguasai diri.
Yasmin selesai membereskan dapur lalu berbalik menghadap Rio. Ia menyandarkan punggungnya di meja dapur, menyilangkan tangan di depan d**a. Tatapannya tenang, namun penuh keyakinan.
“Kamu terlihat banyak pikiran,” ucap Yasmin pelan.
Rio terdiam sejenak. “Mungkin,” jawabnya akhirnya.
Yasmin tersenyum tipis. “Kadang, terlalu banyak berpikir justru membuat kita lelah.”
Rio menatapnya, mencoba membaca maksud di balik kata-kata itu. Ia tahu Yasmin sedang mendorongnya, perlahan tapi pasti, ke arah yang tidak seharusnya. Dan yang paling membuatnya takut adalah kenyataan bahwa ia tidak sepenuhnya ingin berhenti.
Pagi itu terasa berjalan lambat. Setiap detik dipenuhi ketegangan yang tidak diucapkan. Tidak ada sentuhan lagi, tidak ada kata berani, tapi jarak di antara mereka semakin menyempit.
Rio sadar, kebersamaannya dengan Yasmin bukan lagi sekadar kebetulan atau keadaan. Ada pilihan di dalamnya. Dan cepat atau lambat, ia harus memutuskan, apakah ia akan mundur sekarang, atau melangkah lebih jauh ke arah yang sudah jelas berbahaya.
***
Yasmin berdiri bersandar di meja dapur, lengannya terlipat santai, sementara Rio mondar-mandir kecil di ruang tengah. Wajah Rio jelas menunjukkan ketidakpuasan. Yasmin memperhatikannya dengan tenang, seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk berbicara.
“Rio,” panggil Yasmin lagi, suaranya lembut tapi tegas.
Rio berhenti melangkah. “Apa lagi, Yasmin?”
“Kamu kelihatan tidak setuju sama sekali,” ucap Yasmin sambil menatapnya lurus.
“Karena aku memang tidak setuju,” jawab Rio tanpa ragu. “Kamu menyuruhku pulang, lalu kamu tinggal di apartemen sendirian. Kamu pikir aku bisa tenang?”
Yasmin tersenyum kecil. “Kenapa tidak?”
“Karena aku tahu apa yang terjadi kalau aku pulang,” Rio menghela napas. “Rumah itu sunyi. Eliona sibuk dengan dunianya sendiri. Tidak ada obrolan. Tidak ada suasana seperti di sini.”
Yasmin melangkah mendekat, kali ini duduk di sofa berhadapan dengannya. “Justru itu, Rio. Kalau kamu tetap pulang, semuanya akan terlihat normal.”
“Normal di mata siapa?” Rio menatapnya tajam. “Di mata Eliona?”
“Ya,” jawab Yasmin jujur. “Aku tidak mau dia mulai mencurigai sesuatu. Kalau dia curiga, semuanya akan jadi rumit.”
Rio mengusap wajahnya dengan frustasi. “Aku tidak peduli kalau dia curiga.”
Yasmin menggeleng pelan. “Tapi aku peduli.”
Rio terdiam. “Kenapa?”
“Karena aku tidak mau kamu terjebak masalah,” kata Yasmin pelan. “Aku tidak mau namamu rusak. Aku tidak mau posisimu terancam.”
Rio menatapnya lama. “Kamu memikirkan aku sejauh itu?”
Yasmin tersenyum tipis. “Sejak kapan aku tidak memikirkanmu?”
Kalimat itu membuat Rio tercekat sesaat. Ia duduk di samping Yasmin, jarak mereka sangat dekat, tapi tetap menjaga batas.
“Kalau aku pulang,” kata Rio pelan, “berapa lama kamu akan di sini?”
“Beberapa hari,” jawab Yasmin. “Tidak lama.”
“Bagimu mungkin tidak lama,” Rio menatap ke depan. “Bagiku terasa panjang.”
Yasmin menoleh ke arahnya. “Kamu bisa datang kapan saja.”
“Tanpa alasan?” tanya Rio.
“Tanpa alasan,” jawab Yasmin mantap. “Kamu bebas.”
Rio tersenyum kecil, namun matanya masih menyimpan kegelisahan. “Dan kalau Eliona bertanya kenapa aku sering ke luar?”
“Kamu bilang saja ingin cari udara,” Yasmin terkekeh kecil. “Atau ingin minum kopi. Eliona tidak akan terlalu mempermasalahkan selama kamu tetap pulang.”
Rio tertawa pelan. “Kamu seolah sudah mengenalnya lebih baik dariku.”
Yasmin mengangkat bahu. “Aku hanya membaca situasi.”
Rio terdiam beberapa detik, lalu berkata lirih, “Aku tidak suka meninggalkanmu.”
Yasmin menatapnya lembut. “Aku tidak ke mana-mana, Rio.”
“Tapi rasanya berbeda,” Rio menoleh padanya. “Di sini aku merasa… diterima.”
Yasmin tersenyum lebih hangat. “Karena kamu memang diterima.”
Rio menarik napas panjang. “Dan kalau nanti aku datang malam-malam?”
Yasmin menatapnya tanpa ragu. “Aku akan menyambutmu.”
Rio menelan ludah. “Kamu sadar apa yang kamu katakan?”
“Aku sangat sadar,” jawab Yasmin tenang. “Aku hanya tidak ingin kita gegabah.”
Rio tersenyum kecil. “Kamu selalu tenang.”
“Karena aku tahu apa yang aku mau,” jawab Yasmin.
Rio menatapnya lekat. “Dan apa yang kamu mau sekarang?”
Yasmin terdiam sejenak sebelum menjawab. “Aku mau kamu pulang hari ini… dengan tenang. Tanpa curiga. Tanpa konflik.”
Rio menghela napas. “Dan setelah itu?”
“Setelah itu,” Yasmin tersenyum tipis, “kita lihat ke depan bersama.”
Rio tertawa kecil. “Kamu membuat semuanya terdengar sederhana.”
“Karena memang bisa sederhana kalau kita sabar,” balas Yasmin.
Rio berdiri, mengambil jaketnya. “Aku tidak janji akan betah di rumah.”
Yasmin ikut berdiri. “Aku tidak minta kamu betah.”
“Aku janji akan kembali,” kata Rio menatapnya.
Yasmin mengangguk. “Aku menunggumu.”
Rio berjalan ke pintu, lalu berhenti. “Yasmin?”
“Ya?”
“Jangan berubah pikiran.”
Yasmin tersenyum yakin. “Aku tidak akan.”
Rio akhirnya membuka pintu dan melangkah keluar. Yasmin tetap berdiri di sana beberapa saat, menatap pintu yang tertutup, wajahnya tenang, tapi matanya penuh keyakinan.
Ia tahu, langkah kecil hari ini bukan menjauhkan mereka.
Justru perlahan mengikat sesuatu yang semakin sulit dilepaskan.
***
Rio membuka pintu rumah dengan hati-hati. Langkahnya dibuat pelan, seolah berharap kehadirannya tidak langsung terasa. Namun harapan itu pupus begitu ia melangkah masuk ke ruang tengah.
Eliona langsung berdiri dari sofa.
“Kemana saja kamu semalam?” tanya Eliona dingin tanpa basa-basi. “Jam berapa sekarang baru pulang?”
Rio menghentikan langkahnya. Ia menutup pintu perlahan, lalu menghela napas seolah benar-benar kelelahan. Jaketnya ia letakkan di sandaran kursi, dasinya dilonggarkan.
“Aku ketiduran di perusahaan,” jawab Rio tenang. “Berkas-berkas menumpuk. Aku lembur sampai malam dan… badanku benar-benar drop.”
Eliona menyilangkan tangan di depan d**a. “Kamu bahkan tidak mengabariku.”
“Ponselku mati,” sahut Rio cepat tapi tetap terkendali. “Aku baru sadar waktu bangun pagi tadi.”
Eliona menatap wajah suaminya lama, mencoba mencari sesuatu yang janggal. Matanya turun ke lingkar gelap di bawah mata Rio, ke wajahnya yang tampak pucat dan lelah.
“Kamu kelihatan capek,” gumam Eliona, nadanya sedikit melunak meski masih curiga. “Perusahaan memang sedang kacau?”
Rio mengangguk. “Banyak audit. Banyak dokumen lama yang harus dibereskan. Aku sampai pusing.”
Eliona mendengus pelan. “Kamu ini terlalu memaksakan diri.”
“Aku tidak punya pilihan,” jawab Rio sambil duduk di sofa. Ia menyandarkan kepalanya sebentar, memejamkan mata. “Kalau aku tidak turun tangan langsung, semuanya bisa berantakan.”
Eliona memperhatikan suaminya beberapa detik. Ada rasa kesal, tapi juga ada kepuasan kecil karena melihat Rio benar-benar kelelahan. Setidaknya, penjelasan itu masuk akal.
“Kenapa tidak pulang saja walau sebentar?” tanya Eliona lagi, kini suaranya tidak setajam tadi.
Rio membuka mata dan menatap istrinya. “Aku bahkan tidak sanggup menyetir. Aku rebahan di sofa kantor dan langsung tertidur.”
Eliona terdiam. Ia berjalan ke dapur, lalu kembali dengan segelas air dan meletakkannya di meja depan Rio.
“Minum,” katanya singkat.
Rio sedikit terkejut, lalu mengambil gelas itu. “Terima kasih.”
Eliona duduk di kursi seberangnya. “Kamu harus lebih jaga diri. Jangan sampai jatuh sakit.”
Rio mengangguk. “Aku tahu.”
Hening sejenak mengisi ruangan. Eliona kembali menatap Rio, kali ini lebih lama, lebih teliti.
“Kamu yakin tidak ada yang kamu sembunyikan dariku?” tanyanya pelan, tapi penuh tekanan.
Rio menatap balik dengan ekspresi datar. “Apa maksudmu?”
“Eliona menatap lurus ke matanya.”
“Akhir-akhir ini kamu sering terlihat jauh. Pulang larut. Banyak alasan.”
Rio menarik napas dalam-dalam. “Aku hanya capek, Eliona. Itu saja.”
Eliona menghela napas. “Aku harap memang begitu.”
Ia bangkit berdiri. “Aku mau mandi. Setelah itu aku harus ke butik.”
Rio mengangguk. “Hati-hati di jalan.”
Eliona berhenti sejenak sebelum melangkah pergi. “Kamu tidur saja. Jangan ke mana-mana hari ini.”
“Iya,” jawab Rio singkat.
Begitu langkah Eliona menghilang menuju kamar, Rio menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa. Matanya menatap langit-langit rumah yang terasa begitu sunyi. Penjelasannya berhasil. Eliona percaya. Setidaknya untuk saat ini.
Rio mengeluarkan ponselnya perlahan. Sebuah pesan masuk sejak tadi, belum sempat ia balas.
Yasmin:
“Sudah sampai rumah?”
Rio mengetik cepat.
“Aman. Dia percaya.”
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
“Bagus. Istirahatlah. Jangan lupa makan.”
Rio tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan pada Eliona.
“Terima kasih,” gumamnya pelan.
Ia mematikan layar ponsel dan menutup mata. Di rumah itu, ia terlihat sebagai suami yang lelah karena pekerjaan.
Namun di dalam pikirannya, wajah Yasmin justru yang paling jelas terbayang.
Dan tanpa ia sadari, kebohongan kecil hari ini membuat langkahnya semakin jauh dari rumah itu, dan semakin dekat pada sesuatu yang tidak lagi bisa ia kendalikan.