Bab 09

1593 Words
Yasmin duduk bersandar di kursi bar, kepalanya sedikit miring, jemarinya masih melingkari gelas yang isinya tinggal setengah. Matanya tampak lebih berat, tatapannya tidak lagi setajam sebelumnya, tetapi justru terlihat lebih lembut, lebih terbuka. Pipi putihnya memerah, bukan hanya karena lampu klub, tapi juga karena wine yang sudah lebih dari cukup mengalir di tubuhnya. Rio menyadari perubahan itu sejak beberapa menit lalu. Cara Yasmin tertawa lebih pelan, caranya menyentuh rambutnya lalu membiarkannya jatuh ke bahu, dan jeda-jeda hening yang kini terasa lebih panjang. Ia tahu Yasmin sudah mabuk. Tidak sampai kehilangan kendali, tapi cukup untuk membuat batas-batas yang biasanya dijaga menjadi kabur. “Kau baik-baik saja?” tanya Rio, sedikit condong ke arahnya agar suaranya terdengar di tengah musik. Yasmin mengangguk, lalu tersenyum miring. “Aku baik. Hanya… sedikit pusing.” Ia tertawa kecil, lalu menoleh menatap Rio lebih lama dari sebelumnya. Tatapan itu membuat Rio menahan napas. “Rio,” ucap Yasmin pelan, nadanya lebih rendah dari biasanya. “Aku tidak ingin pulang ke rumah malam ini.” Rio terdiam. “Kenapa?” Yasmin mengangkat bahu, gerakannya lambat. “Kalau kau pulang… Eliona akan mengamuk. Kau tahu sendiri.” Nama itu membuat Rio menghela napas. Ia memalingkan wajah sebentar, lalu kembali menatap Yasmin. “Apa maksudmu?” tanyanya, meski ia sudah bisa menebaknya. Yasmin mendekatkan wajahnya sedikit. Tidak menyentuh, hanya cukup dekat untuk membuat suara musik terasa menjauh. “Ke apartemenku saja,” katanya lirih. “Kita istirahat. Kau tidak perlu pulang malam ini.” Rio menelan ludah. Kalimat itu sederhana, tapi berat. Kepalanya dipenuhi berbagai kemungkinan, konsekuensi, dan suara hati yang saling bertabrakan. “Kau bisa beri alasan besok,” lanjut Yasmin, seolah membaca pikirannya. “Kau bisa bilang lembur, atau tidur di kantor. Apa saja. Eliona tidak perlu tahu.” Rio mengusap wajahnya pelan. “Yasmin… kau mabuk.” Yasmin tersenyum kecil. “Sedikit. Tapi aku tahu apa yang aku katakan.” Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi, matanya menatap lurus ke depan, lalu berkata lebih pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Aku hanya tidak ingin sendirian malam ini.” Kalimat itu membuat Rio terdiam lama. Ia menatap Yasmin, benar-benar menatap, bukan sebagai istri ayah mertuanya, bukan sebagai perempuan yang berbahaya, melainkan sebagai seseorang yang tampak rapuh di balik keanggunannya. “Kau yakin?” tanya Rio akhirnya. Yasmin menoleh, mengangguk pelan. “Iya.” Tidak ada desakan. Tidak ada sentuhan. Hanya kejujuran yang samar. Rio memejamkan mata sejenak, lalu menghela napas panjang. “Baik.” Yasmin menoleh cepat. “Kau… tidak keberatan?” Rio menggeleng pelan. “Tidak.” Mereka membayar minuman dan berjalan keluar dari klub. Udara malam menyambut dingin, membuat Yasmin menggigil kecil. Tanpa sadar, Rio melepas jaketnya dan menyampirkannya ke bahu Yasmin. “Terima kasih,” kata Yasmin lembut. Mobil melaju menuju apartemen Yasmin. Sepanjang perjalanan, Yasmin lebih banyak diam, kepalanya bersandar ke sandaran kursi, matanya terpejam sesekali. Rio mengemudi dengan fokus, tetapi pikirannya terus berputar. Ia tahu, begitu malam ini berlalu, banyak hal tidak akan lagi sama. Di apartemen, Rio membantu Yasmin masuk. Tempat itu rapi, tenang, dan terasa jauh berbeda dari rumah besar yang penuh ketegangan. Yasmin melepas sepatu dan duduk di sofa, menghela napas panjang. “Maaf,” katanya pelan. “Aku merepotkanmu.” “Tidak,” jawab Rio. “Kau sebaiknya minum air.” Ia mengambilkan segelas air dan menyerahkannya. Yasmin meminumnya perlahan. “Aku akan tidur di sofa,” kata Rio setelah hening beberapa saat. “Kau istirahatlah.” Yasmin menatapnya, ada kilatan sesuatu di matanya, lalu ia mengangguk. “Terima kasih, Rio.” Malam itu berlalu dengan keheningan yang penuh makna. Tidak ada yang melampaui batas. Tidak ada yang diucapkan terlalu jauh. Namun jarak yang seharusnya ada di antara mereka terasa semakin menipis. Di rumah besar itu, Eliona tidur tanpa tahu apa pun. Dan di apartemen yang sunyi, dua orang dewasa terjaga dengan pikiran yang tidak akan lagi bisa berpura-pura sederhana. Besok, alasan akan dibuat. Tapi malam ini, keputusan sudah terlanjur diambil. *** Yasmin terbangun dengan mata yang masih berat. Ruangan gelap dan sunyi. Ia menoleh ke arah jam kecil di meja samping ranjang. Jarumnya menunjukkan pukul tiga dini hari. Nafasnya ditarik pelan, lalu dihembuskan perlahan. Entah kenapa ia tidak bisa tidur lagi. Ia bangkit dari ranjang dengan langkah hati-hati. Kakinya melangkah keluar kamar tanpa suara, hanya lampu kecil di lorong yang menyala redup. Apartemennya terasa begitu tenang malam itu, berbeda dengan rumah besar yang selalu penuh tekanan. Begitu sampai di ruang tengah, pandangannya langsung tertuju pada Rio yang tertidur di sofa. Selimut tipis menutup sebagian tubuhnya. Wajahnya terlihat tenang, napasnya teratur. Dalam keadaan tidur seperti itu, Rio terlihat lebih muda, lebih polos, jauh dari kesan tegang yang sering ia tunjukkan saat terjaga. Yasmin berhenti beberapa langkah dari sofa. Ia tidak langsung mendekat. Ia hanya berdiri, memperhatikan. Ada perasaan hangat yang muncul di dadanya, perasaan yang sudah lama tidak ia rasakan sejak suaminya meninggal. Ia tersenyum kecil. Perlahan Yasmin mendekat, lalu duduk di tepi sofa dengan jarak yang aman. Tangannya terlipat di pangkuan, matanya menatap wajah Rio dengan saksama. Garis rahangnya tegas, alisnya rapi, bibirnya sedikit terbuka saat bernapas. Lelaki itu memang tampan, dan Yasmin tidak menyangkal hal itu sejak awal. “Aneh,” bisiknya pelan pada diri sendiri. “Kenapa semuanya terasa berbeda denganmu.” Ia tidak menyentuh Rio. Hanya memandang. Namun dalam pikirannya, banyak hal berputar. Tentang Eliona yang keras dan penuh curiga. Tentang Rio yang selalu terlihat menahan diri. Tentang dirinya sendiri yang selama ini berusaha tenang, padahal hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Yasmin menunduk sedikit, matanya masih terpaku pada wajah Rio. “Dia lebih pantas untukku,” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar. “Bukan untuk Eliona.” Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah, juga tidak dengan niat jahat. Lebih seperti keyakinan yang perlahan tumbuh, tanpa bisa dihentikan. Rio bergerak kecil dalam tidurnya. Alisnya mengerut sebentar, lalu kembali rileks. Yasmin refleks berdiri, takut membangunkannya. Ia mundur satu langkah, lalu dua langkah. Ia menatap Rio sekali lagi sebelum berbalik. Senyum tipis masih bertahan di wajahnya, senyum yang penuh rencana namun juga penuh perasaan. Yasmin kembali ke kamarnya, menutup pintu perlahan. Ia duduk di tepi ranjang, menarik selimut hingga menutupi tubuhnya. Namun matanya tetap terbuka, menatap langit-langit. Malam itu, Yasmin tidak tidur lagi. Dan di ruang tengah, Rio tetap terlelap, tidak tahu bahwa sejak dini hari itu, seseorang telah benar-benar memutuskan sesuatu dalam hatinya. Besok pagi, semuanya mungkin akan terlihat biasa saja. Namun sesungguhnya, garis sudah bergeser. ** Rio membuka matanya perlahan. Kesadarannya kembali sedikit demi sedikit, disambut aroma masakan yang hangat dan menggugah. Bukan aroma instan, melainkan masakan rumahan yang dibuat dengan niat. Perutnya terasa kosong, tetapi sebelum rasa lapar itu benar-benar ia sadari, matanya lebih dulu menangkap sosok di depannya. Yasmin berdiri membelakanginya di dapur kecil apartemen itu. Ia mengenakan gaun pendek yang tipis, sederhana, namun jatuh pas di tubuhnya. Rambutnya terurai sebahu, bergerak pelan setiap kali ia melangkah. Cahaya pagi masuk dari jendela, membuat siluet Yasmin terlihat lembut namun jelas. Rio terdiam beberapa detik. Dadanya terasa sedikit sesak, bukan karena sesak napas, melainkan karena perasaan yang tiba-tiba muncul begitu kuat. Ia menelan ludah kasar, berusaha menenangkan diri. Pemandangan di depannya terlalu dekat, terlalu nyata, dan terlalu berbahaya untuk diabaikan begitu saja. Yasmin bergerak mengambil piring, sama sekali tidak menyadari bahwa Rio sudah terbangun. Ia bersenandung kecil, suaranya pelan, nyaris seperti bisikan. Gerakannya tenang, seolah pagi itu adalah pagi yang biasa, padahal bagi Rio, suasananya terasa berbeda. Rio duduk perlahan di sofa, mencoba tidak menimbulkan suara. Matanya masih tertuju pada Yasmin. Ada dorongan kuat di dalam dirinya untuk berdiri, melangkah mendekat, dan memeluk wanita itu dari belakang. Bukan dengan niat buruk, hanya keinginan spontan yang muncul tanpa izin. Namun Rio menahan diri. Ia menarik napas panjang, mencoba mengingat siapa dirinya, di mana posisinya, dan batas apa saja yang seharusnya tidak ia lewati. Tangannya mengepal sebentar di atas paha, lalu dilemaskan kembali. Yasmin akhirnya menoleh. Tatapan mereka bertemu. “Oh, kamu sudah bangun,” ujar Yasmin dengan senyum ringan, seolah tidak ada apa-apa. “Aku kira kamu masih tidur.” Rio mengangguk pelan. “Aromanya bikin kebangun,” jawabnya jujur. Suaranya sedikit serak karena baru bangun tidur. Yasmin tersenyum lebih lebar. “Aku masak sederhana saja. Takut kamu lapar.” Kalimat itu terdengar biasa, tapi bagi Rio terasa hangat. Tidak ada tuntutan, tidak ada nada menyindir, hanya perhatian yang tulus. Sesuatu yang jarang ia rasakan belakangan ini. Yasmin kembali ke dapur, menata makanan di atas meja kecil. Rio berdiri dan melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah di belakang Yasmin. Jarak itu begitu dekat, cukup dekat untuk mencium aroma tubuhnya, cukup dekat untuk merasakan kehadirannya. Tangannya terangkat sedikit, refleks ingin menyentuh, ingin menarik Yasmin ke dalam pelukan. Tapi lagi-lagi, Rio menghentikan dirinya sendiri. Ia menurunkan tangannya perlahan. “Kamu capek?” tanya Yasmin tanpa menoleh. “Sedikit,” jawab Rio. “Tapi… lebih baik sekarang.” Yasmin menoleh, menatap Rio sejenak. Ada sesuatu di matanya, ketenangan yang membuat Rio semakin sulit menjaga jarak. Namun Yasmin tidak mendekat. Ia hanya menggeser kursi dan mempersilakan Rio duduk. “Makan dulu,” katanya lembut. “Nanti baru kita pikirkan yang lain.” Rio duduk, mengangguk. Ia tahu kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terasa dalam. Yasmin duduk di seberangnya, masih dengan senyum yang sama. Pagi itu berlalu dengan suasana yang tenang. Tidak ada sentuhan berlebihan, tidak ada kata-kata berani. Namun justru karena itulah, ketegangan di antara mereka terasa semakin jelas. Perasaan yang dipendam, keinginan yang ditahan, dan jarak yang semakin tipis antara benar dan salah. Rio menyadari satu hal dengan sangat jelas. Jika ia tidak berhati-hati, ia tidak hanya akan melanggar batas orang lain—ia juga akan melanggar batas dirinya sendiri. **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD