Yasmin melangkah turun dari tangga dengan dress yang membungkus tubuhnya begitu pas, seolah dibuat khusus mengikuti setiap lekuknya. Kainnya jatuh anggun, sederhana namun elegan, menegaskan siluet tubuh yang terawat. Rambutnya disanggul rapi ke atas, memperlihatkan leher jenjang dan garis rahang yang lembut. Riasan wajahnya tipis, hanya menonjolkan kecantikan alaminya yang tenang namun mencolok.
Begitu ia sampai di ruang tengah, Eliona dan Rio yang duduk berdampingan di sofa sama-sama mengangkat sebelah alis. Reaksi mereka berbeda, tetapi sama-sama tidak bisa disembunyikan.
Eliona memandangi Yasmin dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan sorot mata sinis, penuh penilaian.
“Mau ke mana kau berdandan seperti itu?” tanyanya dingin, nada suaranya sarat sindiran.
Yasmin tertawa kecil, ringan, seolah pertanyaan itu tidak mengusiknya sama sekali.
“Ke pesta teman,” jawabnya lembut. “Kenapa?” Ia memiringkan kepala sedikit. “Mau ikut?”
Eliona mendengkus keras. “Mana sudi aku ikut denganmu.”
Yasmin hanya mengangkat bahu kecil. “Aku hanya bertanya.”
Sementara itu, Rio terpaku. Matanya menatap Yasmin lebih lama dari yang seharusnya. Ia bahkan lupa untuk segera mengalihkan pandangan. Ada sesuatu tentang penampilan Yasmin malam ini yang membuatnya sulit bernapas lega. Bukan hanya soal kecantikan fisik, tapi aura percaya diri yang tenang, matang, dan memikat.
Dalam hatinya, Rio harus mengakui satu hal yang membuatnya gelisah: Yasmin tampak jauh lebih cantik malam ini. Bahkan dibanding Eliona.
Namun pikiran itu langsung ia tekan dalam-dalam. Ia tidak boleh memikirkannya, apalagi mengatakannya.
Yasmin menangkap tatapan itu. Ia tahu. Ia selalu tahu. Dengan gerakan halus, ia mengedipkan sebelah mata ke arah Rio, singkat, nyaris tak terlihat, memastikan Eliona tidak menyadarinya. Sudut bibirnya melengkung tipis, senyum yang penuh arti.
Kemudian ia melangkah pergi, heels-nya berbunyi pelan di lantai, meninggalkan ruang tengah dengan suasana yang berubah tanpa kata.
Pintu depan tertutup.
Keheningan menyergap.
Eliona menyilangkan tangan di d**a. “Perempuan itu selalu berlebihan,” gumamnya tajam.
Rio tidak langsung menjawab. Pandangannya masih tertuju ke arah pintu yang baru saja dilewati Yasmin, seolah bayangannya masih tertinggal di sana.
“Kau mendengarku?” Eliona menoleh tajam.
“Hm?” Rio tersentak kecil. “Ya.”
“Kau melamun,” tuding Eliona.
Rio berdiri. “Aku mau ke dapur.”
Ia berlalu tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Eliona yang menatap punggungnya dengan kecurigaan yang semakin menebal.
Di dalam dapur, Rio menuangkan air ke dalam gelas, meneguknya cepat. Dadanya terasa tidak tenang. Ia mengusap wajahnya kasar.
“Apa yang terjadi padaku…” gumamnya pelan.
Di luar rumah, Yasmin duduk di dalam mobilnya. Sebelum menyalakan mesin, ia menatap bayangannya sendiri di kaca spion. Senyum tipis muncul di bibirnya, bukan senyum polos, melainkan senyum penuh perhitungan.
“Pelan-pelan saja,” bisiknya pada dirinya sendiri. “Aku tidak perlu terburu-buru.”
Mobil itu melaju meninggalkan halaman rumah, sementara di dalam rumah besar itu, ketegangan yang tak terlihat semakin mengendap.
Malam belum terlalu larut.
Dan permainan baru saja dimulai.
**
Rio duduk di tepi ranjang dengan punggung sedikit membungkuk, ponsel di tangannya ia geser naik turun tanpa benar-benar fokus. Kamar terasa sunyi. Dari kamar mandi terdengar suara air mengalir pelan, tanda Eliona sedang mandi. Rio menghela napas, menatap layar ponselnya yang gelap, lalu hendak meletakkannya di samping bantal.
Getaran tiba-tiba membuatnya terkejut.
Satu notifikasi masuk.
Nama Yasmin muncul di layar.
Jantung Rio berdegup lebih cepat tanpa ia minta. Alisnya mengerut, ragu sejenak, lalu jarinya bergerak membuka pesan itu. Sebuah foto tampil di layar, membuat napasnya tertahan.
Yasmin duduk di sebuah bar klub malam, cahaya temaram berwarna keemasan menyelimuti wajahnya. Segelas wine merah berada di tangannya, bibir gelas menyentuh bibirnya seolah baru saja ia teguk. Dress yang dikenakannya malam ini tampak lebih berani dari sebelumnya, memperlihatkan bahunya yang halus dan garis leher yang anggun. Tatapannya ke kamera tenang, percaya diri, seolah ia tahu betul siapa yang akan melihat foto itu.
Pesan menyusul di bawahnya.
“Rio, kau tidak mau bergabung denganku?”
Rio menelan ludah. Tangannya sedikit mengencang menggenggam ponsel.
Pesan kedua masuk.
“Klub ini tidak terlalu ramai. Musiknya enak. Aku duduk sendiri.”
Beberapa detik berlalu sebelum pesan berikutnya muncul, lebih pelan nadanya, seolah berbisik langsung ke telinganya.
“Tinggalkan saja Eliona sebentar. Buat alasan apa saja.”
Rio menutup layar ponsel cepat-cepat, seperti seseorang yang tertangkap basah. Dadanya naik turun, napasnya terasa berat. Ia berdiri dari ranjang, melangkah mondar-mandir di kamar.
“Apa yang kau lakukan, Rio…” gumamnya lirih.
Ia duduk kembali, membuka layar ponsel sekali lagi, menatap foto itu lebih lama. Ada sesuatu di mata Yasmin yang berbeda. Bukan sekadar ajakan bersenang-senang, melainkan tantangan. Undangan yang halus namun berbahaya.
Di sisi lain kota, Yasmin memutar gelas winenya pelan, es batu beradu halus. Musik berdentum lembut, lampu-lampu berwarna bergerak perlahan. Ia melirik layar ponselnya, menunggu. Tidak ada balasan. Ia tidak terburu-buru.
Ia tersenyum tipis.
“Pelan-pelan,” bisiknya pada diri sendiri.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar.
Rio: Kau di klub mana?
Yasmin tidak langsung membalas. Ia meneguk winenya sekali lagi, lalu mengetik dengan tenang.
Yasmin: Di tempat biasa dekat pusat kota. Aku kirim alamatnya.
Tak lama, sebuah pesan suara masuk dari Rio, tapi Yasmin memilih tidak memutarnya. Ia lebih suka membaca.
Rio: Aku… mungkin bisa menyusul. Tapi sebentar saja.
Yasmin tersenyum, kali ini lebih jelas. Jarinya menari di layar.
Yasmin: Tidak apa-apa. Aku hanya ingin kau datang.
Di kamar, Rio duduk terdiam menatap ponselnya. Suara air di kamar mandi berhenti. Eliona keluar dengan handuk melingkar di tubuhnya, rambutnya masih basah.
“Kau belum tidur?” tanya Eliona sambil mengeringkan rambutnya.
Rio terkejut kecil. “Belum. Aku… ada telepon dari kantor.”
Eliona berhenti sejenak. “Jam segini?”
“Ada berkas yang harus aku cek langsung. Katanya mendesak,” jawab Rio cepat, nadanya dibuat setenang mungkin.
Eliona mendengkus. “Perusahaan itu tidak pernah tahu waktu.”
Rio berdiri, mengambil jaketnya. “Aku tidak lama.”
“Jangan pulang terlalu malam,” kata Eliona dingin. “Besok aku ada agenda.”
Rio mengangguk. “Iya.”
Ia melangkah keluar kamar tanpa menoleh lagi. Di dalam mobil, tangannya gemetar saat menyalakan mesin. Ia menghela napas panjang, seolah sedang menenangkan dirinya sendiri.
“Ini hanya sebentar,” katanya pelan.
Klub malam itu menyambutnya dengan cahaya dan musik yang mengalun rendah. Rio melangkah masuk, matanya langsung mencari satu sosok. Tidak sulit menemukannya.
Yasmin duduk di bar, persis seperti di foto. Begitu melihat Rio, matanya langsung terangkat. Senyum kecil muncul di bibirnya, bukan senyum berlebihan, melainkan senyum yang seolah berkata, aku tahu kau akan datang.
Rio mendekat perlahan.
“Kau benar-benar datang,” kata Yasmin pelan ketika Rio berdiri di sampingnya.
“Kau memintaku,” jawab Rio singkat.
Yasmin memiringkan kepala, menatapnya. “Dan kau menurut.”
Rio terdiam.
Pelayan datang, Yasmin memesan satu minuman lagi dan menoleh pada Rio. “Kau mau?”
Rio ragu sejenak, lalu mengangguk.
Mereka duduk berdampingan. Tidak terlalu dekat, namun cukup untuk saling merasakan kehadiran satu sama lain. Musik, lampu, dan suasana membuat percakapan terasa lebih ringan, lebih berani.
“Kau kelihatan tegang,” ujar Yasmin.
“Ini bukan tempat yang biasa kudatangi,” jawab Rio jujur.
“Sekali-sekali tidak apa-apa,” kata Yasmin lembut. “Tidak ada yang salah dengan menikmati malam.”
Rio menatap gelasnya. “Eliona mengira aku ke kantor.”
Yasmin tersenyum tipis. “Dan kau di sini.”
Kalimat itu sederhana, namun berat maknanya.
Beberapa detik hening menyusul. Lalu Yasmin bersandar sedikit lebih dekat.
“Aku senang kau datang,” katanya pelan.
Rio menoleh, menatap wajah Yasmin dari jarak dekat. Lampu membuat matanya berkilau, membuatnya tampak semakin memikat.
“Aku juga,” jawabnya, hampir tanpa sadar.
Di tengah dentuman musik dan cahaya yang berputar, sebuah garis telah terlewati. Tidak ada sentuhan, tidak ada janji. Namun keduanya tahu, malam itu bukan lagi sekadar kebetulan.
Dan ketika Yasmin mengangkat gelasnya, menatap Rio sambil tersenyum, ia tahu satu hal dengan pasti.
Ia tidak perlu memaksa.
Rio sudah melangkah sendiri ke arahnya.