Bab 07

1537 Words
Yasmin berdiri di ambang pintu ruang tengah cukup lama sebelum melangkah masuk sepenuhnya. Matanya menangkap sosok Eliona yang duduk bersandar di sofa, satu kaki disilangkan, tangannya sibuk meraih cemilan dari toples kaca di meja. Segelas jus jeruk tampak masih penuh, embun di dinding gelas menandakan minuman itu baru saja dibuat. Pemandangan itu membuat Yasmin mengangkat sebelah alisnya perlahan, ekspresinya tenang namun sarat makna. Eliona menyadari tatapan itu. Ia menghentikan gerakan tangannya, lalu menoleh tajam. “Apa?” bentaknya tanpa basa-basi. “Kenapa kau menatapku seperti itu?” Yasmin tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke matanya. “Tidak apa-apa. Aku hanya heran.” “Heran?” Eliona tertawa pendek, sinis. “Kau tidak punya hak untuk heran di rumah ini.” Yasmin melangkah mendekat, berdiri di sisi meja dengan sikap santai. “Kau santai sekali. Aku kira kau sibuk.” Eliona menyempitkan mata. “Maksudmu apa?” Yasmin menoleh sebentar ke arah cemilan, lalu kembali menatap Eliona. “Butik almarhum ibumu. Aku dengar kemarin hampir bangkrut.” Wajah Eliona langsung berubah. Rahangnya mengeras. “Dari mana kau dengar itu?” “Dunia ini kecil,” jawab Yasmin ringan. “Terlebih kalau menyangkut bisnis. Aku hanya berpikir, mungkin lebih baik kau ke sana, mengurusnya. Daripada duduk santai seperti ini.” Eliona berdiri mendadak. Toples cemilan di tangannya terlepas dan terhempas ke lantai, isinya berserakan. Suara pecahan kaca menggema di ruang tengah. “Jangan pernah ikut campur urusanku!” teriak Eliona dengan mata menyala. “Kau tidak tahu apa-apa tentang hidupku!” Yasmin tidak terkejut. Ia hanya melirik pecahan kaca di lantai, lalu kembali menatap Eliona. “Aku hanya memberi saran.” “Aku tidak butuh saran darimu!” Eliona melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Dan satu lagi, jangan pernah menggoda suamiku!” Yasmin tertawa kecil, pelan namun jelas terdengar. “Aku tidak pernah menggoda Rio.” “Kau berbohong!” Eliona menunjuknya dengan jari gemetar. “Cara kau bicara, cara kau menatapnya—kau pikir aku buta?” Yasmin menyilangkan tangan di depan d**a. “Kau terlalu mudah curiga.” “Eliona,” suara Yasmin kini lebih datar, “kalau Rio merasa tergoda, itu bukan salahku.” Eliona terdiam sesaat. “Apa maksudmu?” Yasmin mendekat setengah langkah. “Mungkin itu berarti aku memang cantik dan menarik.” Kata-kata itu seperti bensin disiram ke api. Eliona menggeram marah. “Dasar perempuan tidak tahu malu!” Yasmin mengangkat bahu. “Aku hanya jujur.” Eliona menatapnya beberapa detik, napasnya memburu. Lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan melangkah pergi menuju tangga, meninggalkan ruang tengah dalam keadaan berantakan. Suara langkah kakinya terdengar keras, penuh amarah, hingga menghilang di lantai atas. Yasmin berdiri sendiri. Ia menatap pecahan kaca di lantai, lalu menghela napas pelan. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya, kali ini lebih jelas, lebih dingin. “Merebut bukanlah hal yang salah,” gumamnya pelan. “Terlebih kalau itu membuatku menang.” Ia berjongkok, memungut beberapa pecahan kaca dengan hati-hati, seolah tidak ingin ada pelayan yang terluka nanti. Gerakannya tenang, nyaris tanpa emosi. Beberapa jam kemudian, suasana rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Yasmin duduk di ruang makan kecil, membaca sesuatu di tabletnya, sesekali mencatat. Pikirannya tidak sepenuhnya pada layar. Kata-katanya sendiri terngiang kembali. Rio pulang menjelang sore. Begitu memasuki rumah, ia merasakan ketegangan di udara. Pandangannya langsung tertuju pada lantai ruang tengah yang sudah bersih, namun jelas baru saja terjadi sesuatu. “Yasmin?” panggilnya pelan. Yasmin muncul dari arah dapur. “Ya?” “Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Rio, ragu. Yasmin tersenyum lembut, ekspresi yang berbeda dari beberapa jam lalu. “Tentu. Kenapa?” Rio menggeleng. “Tidak apa-apa. Aku hanya merasa… rumah ini agak sunyi.” “Sunyi itu baik,” jawab Yasmin sambil menuangkan air ke dalam gelas. “Membuat kita bisa berpikir jernih.” Rio mengangguk samar. Ia duduk, memperhatikan Yasmin yang bergerak tenang di dapur, caranya mengatur gelas, caranya menoleh sesekali. Ada sesuatu yang sulit ia jelaskan. “Eliona di mana?” tanyanya akhirnya. “Di kamarnya,” jawab Yasmin singkat. “Dia tampaknya lelah.” Rio menghela napas. “Kalian bertengkar?” Yasmin berhenti sejenak, lalu menatap Rio. “Sedikit perbedaan pendapat saja.” Rio ingin bertanya lebih jauh, tetapi memilih diam. Ia tahu, di rumah ini, setiap kata bisa berubah menjadi api. Malam turun perlahan. Eliona tidak keluar kamar untuk makan malam. Rio makan dengan diam, Yasmin di seberangnya, percakapan mereka ringan, aman, seolah tidak ada badai yang baru saja lewat. Namun di balik ketenangan itu, masing-masing menyimpan pikiran sendiri. Eliona berbaring di kamarnya, menatap langit-langit, dadanya naik turun. Yasmin membersihkan dapur, matanya kosong namun tekadnya kian menguat. Dan Rio, duduk di ruang kerjanya, menyadari bahwa dirinya semakin terjebak di tengah, tanpa tahu siapa yang akan ia lukai pada akhirnya. *** Yasmin melangkah keluar dari kamarnya dengan pakaian olahraga yang pas membungkus tubuhnya. Atasan tanpa lengan itu mengikuti garis bahunya, sementara legging hitamnya menegaskan bentuk tubuh yang terawat. Rambutnya diikat ke belakang dengan rapi, membuat lehernya tampak jenjang dan bersih. Udara pagi masih dingin, rumah pun masih lengang. Begitu menuruni anak tangga terakhir, pandangannya langsung tertuju pada Rio yang sudah duduk di ruang makan kecil, mengenakan kaus sederhana dan celana training. Di depannya ada secangkir kopi yang masih mengepul dan beberapa berkas tipis yang belum sempat ia sentuh. Jelas ia sudah bangun sejak subuh. Yasmin memperlambat langkahnya, memperhatikan Rio dari kejauhan. Ada sesuatu yang selalu menarik perhatiannya dari lelaki itu, cara duduknya yang santai tapi tegas, bahu lebarnya, rahang tegas yang kini sedikit ditumbuhi bayangan janggut. Tanpa sadar, sudut bibir Yasmin terangkat tipis. Rio mendengar langkah kaki dan menoleh. Matanya langsung tertahan sesaat. Ia tidak berniat menatap lama, tetapi tubuhnya bereaksi lebih cepat dari niatnya. Ia menelan saliva pelan, lalu berusaha bersikap biasa. “Pagi,” sapa Rio. “Pagi,” jawab Yasmin lembut. Ia berjalan mendekat, berdiri di samping meja, sedikit membungkuk untuk meraih botol air minumnya. Gerakan sederhana itu cukup membuat Rio memalingkan wajah, berpura-pura sibuk dengan kopinya. “Kau bangun pagi sekali,” ujar Yasmin sambil memutar tutup botol. “Kebiasaan,” jawab Rio singkat. “Kau mau lari pagi?” “Ke gym,” kata Yasmin ringan. Ia menoleh, menatap Rio lebih lama kali ini. “Hari ini Sabtu. Tidak ada jadwal padat, kan?” Rio mengangkat bahu. “Tidak juga.” Yasmin tersenyum, lalu dengan suara yang dibuat sedikit lebih rendah, sedikit lebih pelan, ia berkata, “Temani aku ke gym.” Rio terdiam beberapa detik. Undangan itu terdengar sederhana, tapi cara Yasmin mengatakannya membuatnya terasa berbeda. Ia melirik sekilas, lalu kembali menatap cangkir kopinya. “Kau yakin?” tanyanya. “Kenapa tidak?” Yasmin menyandarkan pinggulnya ke tepi meja, sikapnya santai. “Aku tidak suka olahraga sendirian.” Rio tahu seharusnya ia menolak. Ia tahu batas yang seharusnya ada. Namun ia juga tahu satu hal lain dengan sangat jelas. Eliona tidak akan bangun pagi. Apalagi untuk ke gym. Rio menghembuskan napas pelan, lalu berdiri. “Baik. Sebentar saja.” Yasmin tersenyum puas, namun tetap menahan ekspresinya agar terlihat wajar. “Aku tunggu di luar.” Mereka berangkat dengan mobil Rio. Di dalam mobil, suasana hening namun tidak canggung. Yasmin memandang keluar jendela, sesekali memainkan jari-jarinya. Rio fokus mengemudi, tetapi pikirannya tidak sepenuhnya pada jalan. Gym masih belum terlalu ramai saat mereka tiba. Beberapa orang sudah mulai berolahraga, suasananya tenang, musik latar mengalun pelan. Yasmin berjalan lebih dulu, mengambil treadmill di sudut dekat kaca besar. Rio memilih alat di dekatnya, cukup dekat untuk bisa saling melihat, cukup jauh untuk tetap terlihat wajar. Yasmin mulai pemanasan, gerakannya teratur dan lentur. Rio berusaha fokus pada latihannya sendiri, namun beberapa kali matanya tertarik ke arah Yasmin. Bukan karena sengaja, melainkan karena keberadaannya terasa terlalu jelas untuk diabaikan. “Kau sering ke sini?” tanya Rio di sela-sela latihan. “Beberapa kali seminggu,” jawab Yasmin tanpa menghentikan gerakannya. “Aku harus menjaga tubuhku.” “Kau sudah melakukannya dengan baik,” ucap Rio tanpa berpikir panjang. Begitu kata-kata itu keluar, ia langsung menyesal. Yasmin menoleh, menatapnya dengan senyum kecil. “Terima kasih,” katanya pelan. Mereka melanjutkan latihan dalam keheningan yang aneh namun nyaman. Tidak banyak kata, tetapi kehadiran satu sama lain terasa semakin nyata. Setelah selesai, mereka duduk di area istirahat. Yasmin menyeka keringatnya dengan handuk kecil, wajahnya sedikit memerah, membuatnya tampak lebih hidup. “Kopi?” tawar Rio. “Boleh.” Mereka duduk di sudut kafe kecil di dalam gym. Percakapan mereka mengalir ringan, tentang hal-hal sederhana. Tentang olahraga, tentang cuaca, tentang rutinitas harian. Tidak ada yang menyebut Eliona. Tidak ada yang menyebut batas. Namun di antara setiap kata, ada jeda yang sarat makna. Ketika mereka akhirnya pulang, matahari sudah naik lebih tinggi. Di depan rumah, Rio mematikan mesin mobil. “Terima kasih sudah menemaniku,” kata Yasmin. “Tidak apa-apa,” jawab Rio. “Aku… menikmatinya.” Yasmin menoleh, menatapnya sebentar, lalu tersenyum. “Aku juga.” Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk bersama. Rumah masih sepi. Eliona belum terlihat. Rio berhenti sejenak di depan pintu. “Aku mau mandi.” “Silakan,” jawab Yasmin. “Aku juga.” Langkah mereka berpisah di dalam rumah besar itu, masing-masing membawa pikiran sendiri, perasaan sendiri. Namun satu hal menjadi semakin jelas, tanpa perlu diucapkan. Kedekatan itu tidak lagi bisa disebut kebetulan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD