Pintu rumah terbuka dengan suara hentakan cukup keras. Tumit sepatu Eliona memukul lantai marmer dengan ritme cepat, menunjukkan betapa kesalnya ia pulang malam itu. Lampu ruang tengah menyinari rambut panjangnya yang disisir rapi dan wajahnya yang sudah mulai memerah karena emosi yang ia tahan.
Begitu ia masuk, matanya langsung tertancap pada pemandangan yang membuat jantungnya naik ke kepala.
Rio sedang duduk santai di sofa ruang tengah.
Di depannya ada empat jenis camilan: kacang panggang, kue kering, kripik kentang, dan dua mangkuk kecil berisi kue manis. Di sampingnya ada gelas teh kosong dan teko teh kaca yang sudah setengah habis.
Eliona mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, berdiri beberapa detik tanpa bergerak. Wajahnya perlahan berubah menjadi ekspresi tidak percaya.
“Rio…” suaranya dingin. “Kau makan semua ini sendirian?”
Rio yang awalnya sedang menggulir ponselnya menoleh, lalu tersenyum kecil ketika melihat istrinya sudah pulang.
“Lio, kau sudah pulang?” Suaranya lembut seperti biasa, tenang, seolah tidak sadar badai sedang mendekat.
Eliona melipat kedua tangannya di d**a, melangkah mendekat, matanya memeriksa tiap camilan yang tersisa.
“Kau tidak menjawab pertanyaanku,” katanya. “Siapa yang menyiapkan semua ini? Dan siapa yang membuatkan teh untukmu?”
Rio meletakkan ponselnya di sofa, mengusap tengkuknya sedikit canggung.
“Yasmin membuatkan,” jawab Rio santai.
Seketika tatapan Eliona berubah tajam.
“Oh, jadi sekarang dia sudah mulai membuatkanmu teh?” Eliona mendengus, langkah kakinya makin cepat mendekati Rio. “Sudah seperti apa kalian berdua di sini sampai dia merasa berhak melayani suami orang?”
Rio menghela napas. “Lio, jangan mulai. Dia hanya membuatkan teh. Itu saja.”
“‘Itu saja’?” Eliona memutar bola matanya. “Kau tahu aku membenci cara dia bersikap. Dari dulu dia selalu terlihat sok suci, sok lemah lembut. Dan sekarang dia membuatkan teh untuk suamiku seperti dia tuan rumah di rumah ini.”
Rio menarik napas panjang, mencoba tetap tenang.
“Lio, dia memang pemilik rumah ini sekarang. Secara hukum. Kau dengar sendiri tadi pagi.”
Eliona mengetuk dadanya sendiri dengan satu jari sambil menunduk menahan marah.
“Aku tidak peduli rumah ini atas nama siapa! Ini rumahku sejak aku kecil! Aku yang tumbuh di sini! Aku yang menghabiskan masa remajaku di setiap sudut ruangan ini! Bukan dia!”
Rio tidak membalas. Ia tahu jika ikut berargumen, ucapannya hanya akan membuat Eliona makin naik pitam.
Eliona berjalan ke meja, meraih gelas teh kosong itu. Ia mengangkat gelas itu setinggi d**a Rio.
“Kau minum teh buatan dia?”
“Iya,” jawab Rio pelan. “Dia hanya ingin bersikap ramah.”
“RAMAH?” Eliona hampir tertawa sinis. “Wanita itu tidak pernah ramah kalau tidak ada maunya.”
Rio menatap istrinya, memandang jelas bahwa Eliona sedang berada di titik emosinya yang paling buruk hari itu.
“Lio… dia tidak melakukan apa-apa.”
“Oh tidak,” Eliona tertawa singkat, tetapi tanpa humor. “Aku tahu tipe wanita seperti dia. Duduk manis, pura-pura sopan, pura-pura tak tahu apa-apa… lalu membuat semua pria melirik tanpa sadar.”
Rio diam.
“Kau pikir aku tidak tahu apa yang ia lakukan?” lanjut Eliona. “Dia pasti berusaha terlihat manis di dekatmu. Pasti dia sengaja mencari perhatianmu.”
Rio memijat alisnya.
“Kau terlalu berpikir buruk.”
“Eliona tidak peduli kalau rumah ini jatuh pada si jalang k*****t itu,” gumam Eliona sambil meletakkan gelas dengan keras di meja. “Tapi aku peduli kalau suamiku mulai terlihat nyaman di sini.”
Rio mengangkat wajahnya.
“Aku tidak melakukan apa-apa.”
“Tapi dia?” Eliona menyipitkan mata. “Dia pasti mencoba sesuatu. Itu selalu menjadi sifatnya.”
Rio perlahan bangun dari sofa, berdiri agar posisinya sejajar dengan istrinya.
“Lio, tolong… jangan menyeret aku ke dalam perangmu dengan Yasmin. Dia baru menjanda. Dia sedang berusaha tenang. Jangan memperkeruh suasana.”
“Jadi sekarang kau membelanya?” Eliona menunjuk d**a Rio.
“Aku tidak membelanya. Aku hanya—”
“Ya kau membelanya!” Eliona menaikkan suaranya. “Sejak kapan kau bicara lembut seperti itu kalau menyangkut dia? Sejak kapan kau memperhatikan perasaannya?”
Rio mengembuskan napas panjang sambil menutup mata.
“Lio, aku hanya berusaha berbuat benar.”
“Berbuat benar?” Eliona mendekat satu langkah lagi. “Berbuat benar dengan menerima teh buatannya? Duduk santai sama dia? Makan camilan yang dia siapkan? Apa lagi? Apa dia juga sudah mulai memanggilmu sayang?”
Rio menggeleng frustasi. “Kau melebih-lebihkan.”
“Oh tentu saja!” Eliona berkata dengan nada penuh sarkasme. “Wanita itu selalu membuat pria merasa dia tak berbahaya. Lembut, manis, penuh perhatian… seperti madu beracun.”
Rio akhirnya menurunkan suara agar lebih tegas.
“Lio, cukup. Yasmin tidak melakukan apa-apa yang buruk.”
Eliona langsung mendekat begitu rapat hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter.
“Kau dengar aku baik-baik,” katanya pelan tapi tajam. “Aku tidak akan keluar dari rumah ini. Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan mengalah. Rumah ini tidak akan kubiarkan dikuasai oleh wanita itu, entah secara hukum atau tidak.”
Rio mengusap wajahnya.
“Tidak ada yang menyuruhmu pergi.”
“Tapi dia pasti berharap aku pergi.”
“Tidak, Yasmin tidak begitu.”
“Kau tahu dia begitu. Dia hanya menunggu waktu sampai aku pergi, lalu dia bisa duduk di meja makan seperti ratu, berjalan di rumah seperti istri resmi yang tak tersaingi, dan menatapmu dengan mata sok lembut itu.”
Rio memalingkan wajah sedikit.
“Dia tidak memandangku seperti itu.”
Eliona menahan napas, menatap Rio dalam-dalam.
“Kalau suatu hari YASMIN menatapmu seperti itu…” suara Eliona melemah tapi dingin, “itu salahmu atau salah dia?”
Rio menutup mata sejenak.
“Aku tidak akan melakukan apa-apa yang membuatmu sakit hati.”
Eliona mengerutkan bibirnya.
“Aku harap begitu.”
Ia lalu mengambil salah satu camilan dari meja—tanpa alasan—dan melemparkannya kembali ke meja dengan kesal.
Rio menahan napas.
“Lio… kau terlihat sangat lelah. Duduklah dulu.”
“Tidak,” Eliona menepis tangannya. “Aku mau ke kamar. Aku tidak mau melihat camilan-camilan ini. Buang. Semua.”
Rio mengangguk kecil. “Baik.”
Eliona berjalan menuju tangga, namun sebelum menginjak anak tangga pertama, ia menoleh dengan tatapan menusuk.
“Dan Rio,” katanya.
“Hm?”
“Mulai malam ini, jangan terlalu dekat dengan Yasmin. Jangan biarkan dia merasa punya tempat di hidupmu.”
Rio terdiam sebelum menjawab pelan.
“Dia hanya tinggal di rumah yang sama. Itu saja.”
Eliona menatap Rio lama, seolah mencoba membaca isi hati pria itu.
“Pastikan tetap begitu.”
Kemudian Eliona naik ke lantai atas, langkahnya berat dan penuh marah.
Rio berdiri terpaku di ruang tengah. Ia menghembuskan napas panjang, menatap camilan di meja yang sebenarnya tadi ia makan sambil berbincang ringan dengan Yasmin. Tanpa ia sadari, satu camilan itu membuat badai.
Saat ia hendak membereskan meja, suara langkah pelan terdengar dari arah dapur.
Yasmin muncul, masih dengan kaus rumah dan cardigan tipis, rambutnya diikat setengah. Ia memandang Rio dengan tatapan tenang namun penuh tanya.
“Rio… aku tadi dengar sedikit suara keras dari depan.” Suaranya lembut, hati-hati.
"Apa semuanya… baik-baik saja?”
Rio menunduk sebentar.
“Ya. Lio hanya lelah.”
Yasmin mendekat perlahan.
“Dia marah karena aku membuatkanmu teh?”
Rio berhenti bergerak.
Yasmin tersenyum kecil.
“Aku sudah bisa menebak dari tadi.”
Rio mengusap wajah.
“Aku minta maaf. Ini bukan salahmu.”
“Tentu saja bukan,” jawab Yasmin lembut. “Tapi Rio…”
“Hm?”
“Aku harap… dia tidak berpikir yang macam-macam tentang kita.”
Rio terdiam.
Yasmin melanjutkan pelan.
“Aku tidak ingin menjadi alasan pertengkaran kalian.”
Rio menatap Yasmin beberapa detik, dan untuk pertama kalinya malam itu, sorot mata Rio terlihat lebih rumit—campuran bingung, lelah, tapi juga hangat.
“Yasmin,” ucapnya pelan.
“Aku tahu,” sahut Yasmin sebelum Rio melanjutkan. “Aku akan menjaga jarak kalau itu membuat keadaanmu lebih mudah.”
Hening panjang menyelimuti mereka.
Yasmin tersenyum tipis, melangkah mundur perlahan.
“Selamat malam, Rio.”
Rio menatap punggung Yasmin saat wanita itu kembali masuk ke dapur, gerakannya tenang, dewasa, dan… terlalu anggun untuk diabaikan.
Rio akhirnya duduk kembali, memegang kepala dengan satu tangan.
Dan tanpa ia sadari, perasaan itu justru semakin sulit dikendalikan.