Bab 04

1583 Words
Ruang tengah itu diterangi lampu kuning hangat yang membuat setiap sudut ruangan terlihat lembut. Sofa abu-abu besar di tengah ruangan menjadi tempat Yasmin dan Rio duduk, dengan meja kecil di depan mereka yang sudah diisi dua cangkir teh yang masih mengepul tipis. Aroma melati dari teh itu bercampur dengan wangi lembut parfum Yasmin yang menguar pelan setiap kali wanita itu bergerak. Rio mencoba duduk senormal mungkin, tetapi tubuhnya tegang. Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan seperti ingin memusatkan perhatian pada televisi di depannya, padahal channel yang menyala hanyalah siaran berita malam yang bahkan tidak ia dengarkan. Ia merasakan keberadaan Yasmin di sampingnya lebih kuat daripada suara TV mana pun. Yasmin, yang duduk sedikit lebih santai, menoleh ke arah Rio dengan senyum tipis yang seperti menahan sesuatu. Ia melihat kelakuan Rio yang memaksakan diri untuk menatap layar, dan itu membuatnya ingin menggoda sedikit lagi. Tangan wanita itu perlahan mengangkat rambut panjangnya yang tergerai di bahu kiri, lalu menggulungnya ke belakang, memperlihatkan leher jenjangnya yang putih pucat, garis rahang lembutnya yang bercahaya di bawah lampu. Gerakan itu sangat pelan, sangat feminin, dan sangat disengaja. Rio melihatnya dari sudut mata tanpa niat, tapi refleks. Kulit leher Yasmin yang halus itu terlihat seperti marmer yang dipoles. Rio langsung menelan saliva dengan keras, suara pelan itu terdengar jelas bagi dirinya sendiri. Ia memalingkan wajah cepat-cepat ke arah TV, matanya dipaksa fokus pada presenter berita yang tidak ia pedulikan sama sekali. Yasmin menahan senyum. Ia memiringkan kepala sedikit, pura-pura mengamati Rio sebentar lalu bertanya dengan suara lembut. "Tehnya kurang manis, Rio?" "Eh… tidak. Ini sudah cukup," jawab Rio buru-buru tanpa menatapnya. "Kau tidak minum," ucap Yasmin pelan. Rio menatap cangkirnya lalu meraih cangkir itu dan meminumnya sedikit. "Aku minum," katanya datar. "Tapi wajahmu seperti orang yang sedang menahan sesuatu." Rio terdiam. Ia meneguk lagi teh yang masih panas karena bingung harus menjawab apa. Yasmin memutar tubuhnya sedikit ke arah Rio, membuat separuh tubuhnya menghadap ke Rio sementara Rio tetap setia menatap layar TV. "Rio," panggil Yasmin perlahan. "Hm?" "Kau selalu seperti ini di dekatku?" Rio ingin membantah, tapi ia tahu Yasmin sudah melihat semua gerak-geriknya sejak tadi. Ia menahan napas sejenak lalu berkata pelan, "Aku tidak apa-apa." "Kau yakin?" "Iya." "Kau tidak tampak seperti seseorang yang baik-baik saja." Rio menyandarkan tubuhnya ke sofa, mencoba terlihat santai, meskipun bahunya masih kaku. Ia tetap berusaha menatap ke arah TV, padahal yang ia lihat hanya bayangan Yasmin dari sudut pandang periferalnya. Yasmin menyilangkan kaki, gerakannya halus dan memikat, membuat gaun rumah yang dipakainya tersingkap sedikit sehingga terlihat kulit pahanya yang putih dan lembut. Gerakan itu membuat Rio hampir kehilangan napas. Ia langsung menatap meja, memalingkan wajah lebih jauh, bahkan menjauhkan badan sedikit dari Yasmin. Yasmin memperhatikan semua itu—dan hanya tersenyum kecil seperti menikmati reaksi laki-laki itu. "Kau tahu," kata Yasmin dengan nada halus, "aku tidak menggigit. Tidak usah takut." Rio menutup matanya sebentar, mencoba mengatur napas. "Aku tidak takut," ujarnya pelan. "Kau gugup?" "Tidak juga…" "Kalau begitu kenapa kau tidak berani melihatku sejak tadi?" Rio mengusap tengkuknya dengan tangan, kebiasaan ketika gugup. "Aku… hanya tidak ingin salah bersikap," katanya akhirnya. Yasmin bergerak lebih dekat, hanya sedikit, tetapi cukup agar Rio merasakan kehangatan tubuhnya. "Salah bersikap bagaimana?" "Kau adalah istri dari… suamimu. Maksudku, mantan suamimu yang sudah meninggal," Rio menjelaskan dengan suara ragu. "Dan?" "Aku hanya tidak ingin terlihat tidak menghormatimu." Yasmin menatap wajah Rio lama, sangat lama. "Kalau kau menatapku beberapa detik lebih lama," kata Yasmin pelan, "itu bukan tidak sopan." Rio mengembuskan napas pelan. "Aku tidak ingin membuatmu salah paham." Yasmin tersenyum lembut, lalu mengambil cangkirnya dan menyesap teh sedikit. "Aku tidak akan salah paham," balas Yasmin. "Aku sudah dewasa. Aku bisa membedakan mana tatapan yang tidak sopan… dan mana tatapan orang yang hanya menghargai apa yang dilihatnya." Rio menunduk dalam-dalam. "Aku tidak bermaksud seperti itu," gumamnya. "Kau bisa jujur padaku, Rio," ucap Yasmin tenang. "Kau melihatku sejak tadi." Rio terdiam, tidak bergerak, seperti sedang berpikir keras. Yasmin bersandar ke sofa, masih menatap pria itu. "Kau tidak perlu malu," katanya. "Aku tahu aku menarik. Aku tidak akan menganggapmu aneh kalau kau melihatku." Rio menggeser duduknya sedikit menjauh, benar-benar berusaha mengendalikan diri. "Yasmin, tolong… jangan bicara seperti itu." "Kenapa?" "Karena itu…" Rio menelan saliva lagi. "Itu membuat segalanya lebih sulit." Yasmin terdiam sejenak, lalu berkata dengan suara yang lebih lembut dan rendah. "Sulit bagaimana?" Rio tidak menjawab. Yasmin memiringkan tubuhnya sedikit lebih dekat, wajahnya kini begitu dekat dengan pipi Rio. "Rio…" panggilnya sangat pelan. Rio akhirnya menoleh—walau hanya cepat, namun itu cukup untuk membuat mata mereka bertemu. Yasmin memandang langsung ke dalam mata Rio, matanya terlihat hangat, dewasa, dan tenang. "Apa yang membuatmu begitu menahan diri dariku?" "Aku… aku tidak seharusnya… melihatmu seperti itu," jawab Rio dengan suara sangat rendah. "Dan bagaimana kau melihatku?" Yasmin bertanya lagi. Rio mengangkat wajahnya, menatap Yasmin beberapa detik tanpa berkata apa pun. Ketegangan itu menggantung di udara—panas, dekat, dan tidak terucap. Akhirnya Rio menjawab sangat pelan, hampir seperti bisikan. "Sebagai wanita." Yasmin tersenyum kecil, senyum yang penuh arti. "Aku memang wanita, Rio." Rio memejamkan mata, menyandarkan kepala ke belakang. "Itu… bukan maksudku." "Aku mengerti maksudmu," kata Yasmin lembut. "Dan itu tidak apa-apa." Yasmin lalu memindahkan cangkirnya ke meja, lalu menarik selimut tipis yang ada di sofa, menyelimutkan kakinya namun masih menyisakan bagian betis dan pahanya terlihat jelas. "Aku merasa nyaman dekatmu," ujar Yasmin pelan. "Kau membuat rumah ini tidak terlalu sepi." Rio menelan ludah lagi, kali ini lebih keras. Ia ingin berdiri, ingin menjauh, tetapi tubuhnya tidak bergerak. "Aku… hanya ingin menghormati batasan," katanya akhirnya. "Kalau begitu," ujar Yasmin sambil memiringkan kepala, "biarkan aku yang menentukan batasannya." Rio langsung menatapnya, shock. "Jangan salah paham," sambung Yasmin cepat, "aku tidak memintamu melakukan hal yang aneh. Aku hanya meminta satu hal." "Apa?" "Tatap aku ketika aku bicara denganmu." Rio terdiam lama. "Aku… aku akan berusaha." Yasmin mencondongkan tubuh, mendekat lagi. "Mulai sekarang," bisiknya. Perlahan, Rio mengangkat wajahnya, menatap Yasmin. Mata mereka bertemu. Yasmin menatapnya tanpa berkedip, begitu lembut namun intens. Rio terlihat seperti seseorang yang kehilangan semua pertahanan dirinya. "Apa sulit?" tanya Yasmin lirih. "Sedikit." "Kenapa?" "Karena… kau terlalu—" Rio menghentikan kata-katanya. "Karena aku apa?" tanya Yasmin lembut. Rio menghela napas pelan. "Karena kau terlalu cantik." Yasmin berhenti. Senyumnya melembut—bukan menggoda, bukan bermain-main. Lebih… tersentuh. "Terima kasih," ucapnya pelan. "Sudah jujur." Rio mengalihkan wajah lagi, tapi Yasmin cepat menahan lengan Rio dengan sentuhan ringan di dekat siku. "Hei," panggil Yasmin. "Aku bilang, lihat aku." Rio kembali menatapnya, perlahan, sangat hati-hati. "Begitu," kata Yasmin. "Lihat saja. Tidak ada yang salah." Rio menelan napas. "Aku tidak ingin membuatmu salah paham," gumamnya. "Kau tidak akan," balas Yasmin. "Kau hanya… pria yang tidak nyaman menunjukkan apa yang dirasakannya." "Aku tidak merasakan apa-apa," bantah Rio. Yasmin tersenyum samar. "Rio… kau melihatku sejak kita masuk rumah. Kau bahkan melihat leherku tadi." Rio terdiam, wajahnya memanas. "Aku tidak… sengaja." "Aku tahu," kata Yasmin. "Dan aku tidak marah." Hening kembali mengisi ruangan. Yasmin mengambil selimutnya lalu merapikan posisinya di pangkuannya. "Kau tidak perlu menjauh dariku," ucap Yasmin pelan. "Aku menjaga jarak supaya tidak salah…" "Aku tidak merasa kau salah," potong Yasmin. Rio menutup mata sebentar, seperti sedang menahan sesuatu. "Yasmin…" "Hm?" "Aku… tidak ingin membuat masalah." "Kita hanya bicara," jawab Yasmin. "Dua orang dewasa. Di ruang tamu. Tidak ada yang salah." Rio akhirnya mengambil cangkir tehnya kembali, meminumnya untuk menenangkan diri. Yasmin memperhatikan gerakan tangannya, garis lengannya, jari-jarinya yang panjang. "Rio," ucap Yasmin lagi. "Ya?" "Kau boleh… santai sedikit. Aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu tidak nyaman." Rio mengangguk. "Aku tahu." Yasmin tiba-tiba tertawa pelan. "Walau begitu, melihatmu seperti ini… menyenangkan." "Apa maksudmu?" "Melihat pria yang biasanya tenang seperti kau dibuat gugup oleh seorang janda tiga puluh enam tahun… itu lucu." Rio mendengus pelan. "Aku tidak gugup." "Benarkah?" "Benar." "Kalau begitu, hadap ke sini," tantang Yasmin. Rio menoleh perlahan. "Lihat mataku lima detik," lanjut Yasmin. Rio menelan saliva. "Lima detik saja. Tidak lebih." Rio menarik napas panjang. "Baik," ujarnya akhirnya. Yasmin tersenyum kecil. "Ayo." Rio menatap Yasmin. Detik pertama berlalu. Mata Yasmin yang cokelat terang itu bersinar lembut. Rio berusaha tidak memalingkan wajah. Detik kedua dan ketiga membuat dadanya sesak. Detik keempat membuatnya menelan ludah lagi. Dan sebelum detik kelima tiba, Rio sudah memalingkan wajah cepat-cepat. Yasmin tertawa kecil—tawa lembut yang memenuhi ruangan. "Kau kalah," katanya. Rio mengusap wajahnya. "Aku tidak cocok dengan permainan seperti ini." "Ini bukan permainan," balas Yasmin lembut. "Aku hanya ingin kau tidak menghindar." Rio menatap lantai. "Kadang, menghindar lebih aman." "Dan kadang," kata Yasmin sambil mengangkat dagu Rio pelan dengan ujung jarinya, "menghindar membuatmu terlihat semakin menarik." Rio membeku. Jari Yasmin menyentuh kulitnya hanya dua detik—tapi dua detik yang cukup untuk membuat seluruh tubuhnya tegang tak karuan. Yasmin melepaskan sentuhan itu pelan, lalu mengambil cangkir tehnya kembali seperti tidak terjadi apa-apa. "Aku buatkan teh lagi?" tanya Yasmin lembut. Rio menggeleng cepat. "Masih ada." "Baiklah." Keduanya kembali terdiam beberapa detik. Tapi keheningan itu penuh, berat, dan mendekatkan mereka lebih jauh daripada percakapan apa pun. Yasmin memandang Rio dengan tenang. "Rio," panggilnya lagi. "Ya?" "Mulai sekarang… jangan terlalu menjaga jarak. Tidak perlu menjauh dariku. Aku tidak akan menyakitimu." Rio tersenyum tipis—bingung, canggung, tapi jujur. "Aku tidak takut kau menyakitiku," jawab Rio pelan. "Lalu kau takut apa?" Rio memandang Yasmin sebentar, lalu memalingkan wajah. "Diriku sendiri." Yasmin terdiam sejenak. Hening itu terasa hangat. "Aku mengerti," katanya akhirnya. Dan saat itu juga, lampu ruang tengah seolah terasa lebih redup, udara terasa lebih lembut, dan jarak antara mereka—yang tadinya penuh batas—mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD