Bab 03

1059 Words
Yasmin berjalan lebih dulu menuju ruang tengah, melepas high heels-nya perlahan sambil sesekali melirik ke arah Rio yang baru saja menutup pintu. Suara pintu yang tertutup pelan itu membuat suasana rumah terasa sangat hening, seperti hanya ada napas mereka berdua di dalam satu ruang yang sama. Yasmin menggantung tasnya di gantungan dekat pintu lalu menoleh, menemukan Rio sedang menunduk melepas sepatu, garis rahangnya tegas, lehernya terlihat jelas dari samping. Lelaki itu tampak terlalu tampan untuk tidak diperhatikan. Yasmin mengembuskan napas perlahan, sengaja membuat gerakannya sedikit lambat ketika ia membenarkan rambutnya yang tergerai. Rio sempat melirik, kemudian buru-buru memalingkan wajah karena merasa tatapan Yasmin begitu langsung, begitu hangat, begitu… membuatnya gugup tanpa alasan. Yasmin tersenyum kecil, lalu melangkah mendekati dapur. "Rio," panggilnya dengan suara lembut dan agak mendayu. "Kau lapar?" "Lumayan," jawab Rio singkat, mencoba terdengar biasa saja. "Aku buatkan makanan. Kau mau apa?" "Apa saja… yang mudah saja," jawab Rio sambil berjalan ke arah meja makan dengan langkah kaku, seperti berusaha menenangkan dirinya sendiri. "Tidak perlu repot-repot." Yasmin tertawa pelan, nada tawanya seperti alunan lembut yang mengguncang kesabaran Rio sedikit. "Aku tidak merasa repot. Aku memang ingin membuat makanan untukmu," katanya sambil membuka lemari es. "Kau suka sup ayam? Atau pasta?" "Pasta boleh," kata Rio sambil mengalihkan tatapan. "Terima kasih." Yasmin menyiapkan bahan dengan gerakan anggun, seakan setiap langkahnya memang dibuat untuk memikat. Rio duduk di kursi, menatap punggung Yasmin yang ramping, pinggangnya yang kecil, dan cara kain blusnya mengikuti lekuk tubuhnya. Ia tidak bermaksud melihat terlalu lama, tetapi mata laki-laki itu bergerak sendiri, seperti punya keinginan tanpa izin. Yasmin sempat menoleh, menangkap tatapan Rio yang cepat-cepat dialihkan. "Kau boleh duduk lebih dekat kalau mau," ucap Yasmin sambil mengaduk pasta. Rio menelan ludah. "Di sini saja cukup." Yasmin menahan senyum. "Baiklah." Suara panci, aroma bawang putih tumis, dan suara lembut Yasmin yang sesekali bersenandung memenuhi dapur. Rio merasakan rumah itu terasa berbeda saat hanya mereka berdua. Sunyi, hangat, dan… membingungkan. "Tadi kau terlihat tegang di kantor pengacara," ujar Yasmin tanpa menoleh. "Siapa yang tidak tegang," gumam Rio. "Eliona… jelas tidak menerima semua keputusan itu." "Aku tahu." Yasmin mengangkat bahu kecilnya. "Tapi keputusan itu bukan aku yang buat. Ada alasan kenapa suamiku membagi seperti itu." Rio mengangguk pelan. "Aku tidak menyalahkanmu." "Benarkah?" Yasmin menoleh setengah, tatapannya lembut tapi tajam di sudut mata. "Tentu," jawab Rio cepat. "Apa yang harus kusalahkan? Itu hakmu." Yasmin tersenyum. Senyum yang sangat halus, tetapi cukup untuk membuat hati Rio terasa aneh. "Jarang ada yang melihatnya seperti itu," ucap Yasmin. "Aku menghargai itu." Pasta yang sudah matang disajikan Yasmin dengan piring keramik putih. Ia membawanya ke meja makan sambil menyerahkan satu piring pada Rio. "Cicipi. Mungkin rasanya masih bisa diterima," ujarnya sambil duduk. Rio mengambil garpu dan mencicipinya. Mata lelaki itu terangkat sedikit. "Enak." "Kau yakin?" "Ya." "Wajahmu tidak terlihat seperti orang yang berbohong," goda Yasmin. "Aku tidak berbohong. Ini benar-benar enak," balas Rio sedikit lebih tegas, membuat Yasmin tertawa kecil. Mereka makan dalam diam beberapa detik sebelum Yasmin kembali membuka percakapan. "Aku tidak yakin, tetapi… sejak tadi kau terlihat sering memalingkan wajahmu dariku," ujar Yasmin sambil memainkan garpunya. "Ada sesuatu?" Rio hampir tersedak. "Hah? Tidak. Tidak ada apa-apa." "Benarkah? Atau kau hanya… malu?" "Tidak juga." "Kalau begitu kenapa kau tidak berani melihat mataku?" "Aku melihat," bantah Rio, akhirnya menatap Yasmin dengan cepat. Tatapannya hanya bertahan dua detik sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya. Yasmin menahan tawa sambil bersandar sedikit. "Ya ampun, Rio. Kau ini lebih manis daripada dugaanku." Rio hampir memprotes lagi, tetapi Yasmin meletakkan siku di meja, mencondongkan tubuh sedikit. "Aku menghargai kau mau mengantarkanku, menemaniku… dan makan bersamaku. Lebih dari yang kau kira." "Aku hanya melakukan apa yang perlu dilakukan," gumam Rio. "Walau begitu, tetap saja aku berterima kasih." Hening sebentar, sampai kemudian Yasmin berbicara lagi dengan nada pelan dan sedikit setengah bergurau. "Atau jangan-jangan… kau takut padaku?" "Tidak," jawab Rio cepat. "Kalau begitu, kau gugup?" "Bukan begitu." "Lalu apa?" Rio menarik napas panjang. "Yasmin… aku hanya tidak ingin terlihat tidak sopan." "Tidak sopan bagaimana?" "Kalau aku terlalu banyak… melihatmu." Kata-kata itu membuat Yasmin berhenti bergerak selama beberapa detik. Lalu senyumnya berubah menjadi lebih lembut, lebih dalam, dan lebih dewasa. "Kau tidak akan terlihat tidak sopan," bisiknya pelan. "Aku justru senang diperhatikan." Rio menegakkan duduknya dengan kaku, wajahnya menegang, entah menahan apa. "Aku… tidak bermaksud seperti itu," elaknya. "Aku tahu maksudmu," balas Yasmin. "Aku tidak tersinggung, Rio." Yasmin meminum sedikit air lalu meletakkan gelasnya perlahan. "Bagaimanapun juga… aku seorang janda. Aku tidak naif. Aku tahu ketika seorang pria melihatku lebih dari tiga detik." "Itu bukan—" "Termasuk kau," potong Yasmin lembut. "Tidak perlu menyangkal." Rio tidak menjawab. Tidak bisa. Yasmin bangkit berdiri, membawa piringnya ke wastafel. "Kalau kau sudah selesai makan, biar aku cuci piringnya," katanya sambil menyalakan air. "Tidak usah, biar aku yang cuci," ujar Rio spontan. "Kenapa?" "Karena kau sudah memasak. Aku bisa mencuci." Yasmin menoleh, menatapnya dengan senyum kecil seperti menguji. "Kau pria yang sopan, ya?" "Aku hanya… tidak ingin membiarkanmu bekerja sendirian." "Nah," tutur Yasmin, mendekat sedikit. "Itu salah satu hal yang membuatmu terlihat menarik." Rio terdiam. Yasmin melangkah melewatinya, bahu dan lengan mereka bersentuhan sekilas. Sentuhan itu pelan, tetapi cukup membuat napas Rio tertahan. Yasmin pura-pura tidak menyadarinya, padahal ia merasakannya jelas. Rio berdiri di samping Yasmin di wastafel, mencuci piring dengan tangan yang agak gemetar namun berusaha terlihat normal. Yasmin mengeringkan piring sambil berdiri cukup dekat, membuat aroma tubuhnya yang lembut bercampur dengan hangatnya udara dapur. "Kau selalu seperti ini?" tanya Yasmin. "Seperti apa?" "Gugup di dekat wanita?" "Tidak." "Jadi hanya di dekatku?" Rio menghela napas. "Yasmin…" "Hm?" "Jangan menggoda." Yasmin mendekatkan wajahnya sedikit. "Aku hanya bicara jujur." Rio menoleh, dan untuk pertama kalinya wajah mereka benar-benar hanya berjarak beberapa centimeter. Keduanya membeku, hanya suara air yang masih menetes dari keran. Yasmin tidak mundur. Rio tidak berani bergerak. Dan keduanya hanya saling menatap dalam diam yang terlalu intens untuk dianggap biasa. "Aku selesai mencuci," ujar Rio akhirnya, suaranya serak karena menahan banyak hal. "Terima kasih," balas Yasmin lembut. "Kau baik sekali padaku… Rio." Yasmin mematikan keran, menatap Rio sekali lagi, kali ini dengan senyum yang lebih dalam, lebih mengundang, lebih dewasa. "Kau mau teh?" "Boleh," jawab Rio perlahan. "Baik. Kita ke ruang tengah," ajak Yasmin sambil berjalan pelan di depannya, membiarkan Rio kembali memperhatikan langkahnya, tubuhnya, dan semua hal yang membuat laki-laki itu kehilangan fokus. Dan Rio memandang. Lama. Tanpa bisa menahan. Yasmin tahu. Dan ia menyukainya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD