Bab 02

1418 Words
Yasmin Devandra duduk dengan anggun di kursi berlapis kulit cokelat tua yang menghadap meja panjang tempat Hardi, pengacara mendiang suaminya, meletakkan tumpukan berkas. Ruangan kantor pengacara itu sunyi, hanya ada suara jarum jam di dinding yang bergerak pelan dan aroma kopi pekat yang masih hangat. Yasmin duduk tegak, tangannya terlipat rapi di pangkuan, ekspresinya tenang meski hatinya berdebar tak teratur. Di sofa lain duduk Eliona Harsandra dengan wajah tegang dan Rio Gilandra di sampingnya, berusaha terlihat santai meskipun ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan. Eliona memeluk tas mewahnya erat seperti seseorang yang siap menyerang kapan saja. Ia menatap Yasmin dengan sinis, seolah menunggu momen untuk meledak. Hardi membuka berkas pertama lalu membersihkan kacamatanya. “Baik. Kita mulai dari pembagian hak kepemilikan rumah yang saat ini ditempati oleh Ny. Yasmin Devandra.” Eliona langsung duduk lebih tegak. “Rumah itu kan rumah Papa sejak sebelum menikah dengan dia,” katanya sambil menunjuk Yasmin dengan dagu. Yasmin tidak menoleh, hanya mengatur napas halus. Rio melirik Eliona pelan seolah memperingatkan wanita itu untuk tidak mulai mencari masalah. Hardi tidak terpengaruh ketusnya Eliona. Ia menatap berkas sambil membaca jelas, “Rumah utama yang berlokasi di Jalan Permata Utama, luas tanah 1.200 meter persegi dan bangunan 850 meter persegi, dinyatakan sebagai milik penuh Ny. Yasmin Devandra.” Eliona sontak berdiri. “Apa?! Tidak mungkin! Papa baru menikah dengannya tiga tahun dan rumah itu sudah ada sejak Mama masih hidup. Kenapa bisa jadi miliknya?!” Rio memegang lengan Eliona, mencoba menenangkannya. “Duduk dulu, sayang.” “Tidak! Ini gila! Rumah itu bukan buat dia!” Eliona menatap Yasmin tajam, matanya menyempit penuh benci. “Mama yang menemani Papa puluhan tahun, bukan dia! Kenapa malah dia yang dapat rumah itu?!” Hardi mengangkat tangan, memberi isyarat agar Eliona menahan diri. “Jika Anda sudah selesai protesnya, saya akan jelaskan sesuai surat wasiat.” Yasmin mengalihkan tatapannya ke meja, tidak ingin menanggapi provokasi. Ia tidak ingin memperkeruh suasana. Hardi melanjutkan dengan suara tenang, “Rumah tersebut memang bukan milik almarhum awalnya. Rumah itu dibeli setelah beliau menikah dengan Ny. Yasmin. Dan alasan kenapa rumah ini diberikan kepada Ny. Yasmin adalah karena beliau menyatakan bahwa Ny. Yasmin telah merawatnya dengan baik selama masa sakit. Karena rumah itu sebelumnya juga Tuan Harsandra dulu hanya mengontrak dan pada akhirnya membeli, saat menikah dengan Ny. Yasmin.” Eliona menatap Hardi dengan tatapan penuh amarah. “Papa bisa menuliskan apa pun saat itu! Dia sakit! Dia tidak sadar penuh!” Hardi menjawab tegas, “Beliau sepenuhnya sadar ketika menandatangani wasiat. Saya pribadi hadir dalam proses legalisasi. Tidak ada paksaan atau tekanan.” Kata-kata itu membuat wajah Eliona memerah menahan marah. “Aku tidak percaya!” Rio menghela napas dan meremas pelan paha istrinya agar wanita itu duduk. “Eli, duduklah dulu. Kita dengarkan sampai selesai.” Eliona membanting tubuhnya kembali ke sofa, dagu terangkat tinggi, matanya terus memelototi Yasmin. Yasmin akhirnya berkata pelan, “Aku tidak pernah meminta apa pun. Kalau kamu mau memprotes, silakan. Aku tidak akan melawan.” Suara lembut itu justru membuat Eliona semakin marah. “Tentu saja kamu tidak melawan. Kamu sudah dapat rumah besar. Apa lagi yang kamu mau, Yasmin?” Rio menatap istrinya tajam. “Eli, cukup.” Namun Eliona mengibaskan tangan, tidak peduli. Hardi kembali ke berkas kedua. “Berikutnya pembagian saham perusahaan.” Suasana kembali hening, meski ketegangan masih terasa jelas. Hardi membaca dengan nada resmi, “Dari total saham perusahaan keluarga, sebanyak 45% diberikan kepada Nona Eliona Harsandra sebagai putri tunggal dari almarhum. Sebanyak 20% diberikan kepada Ny. Yasmin Devandra.” Eliona menatap Hardi dengan ekspresi tidak puas. “Hanya 45%? Papa tahu aku satu-satunya anak kandungnya!” “45% adalah bagian mayoritas. Itu hak Anda untuk mengelola perusahaan,” jelas Hardi. Yasmin duduk tenang, tetapi dalam hatinya ia sedikit terkejut. Ia tidak menyangka mendiang suaminya akan memberikannya saham sebanyak itu. Hardi melanjutkan pembacaan tanpa menunggu komentar lebih jauh. “Villa di Puncak diberikan sepenuhnya kepada Nona Eliona Harsandra.” Eliona mencibir. “Ya tentu. Itu memang seharusnya.” “Dua hotel yang baru dibangun juga diberikan kepada Nona Eliona,” lanjut Hardi. Eliona mengangguk puas. “Dua swalayan besar diberikan kepada Ny. Yasmin Devandra.” Eliona spontan menoleh cepat. “Apa?! Dua swalayan besar juga?! Papa itu benar-benar…” Hardi memotong dengan tegas. “Semua ini tertulis dalam dokumen yang beliau tanda tangani dengan penuh kesadaran.” Eliona menggertakkan gigi, tetapi tidak berkata apa-apa lagi. “Untuk tanah perkebunan, lima hektar diberikan kepada Nona Eliona, dan tiga hektar kepada Ny. Yasmin.” Eliona memalingkan wajah dengan kesal. “Sudah cukup. Bisa kita akhiri?” Hardi merapikan berkasnya. “Masih ada satu poin lagi.” Eliona mengangkat alis tinggi. “Apa lagi? Jangan bilang dia beri perusahaan lain untuk Yasmin juga?” Hardi tersenyum tipis. “Tidak. Ini hanya pernyataan tambahan dari almarhum.” Yasmin menegakkan posisi duduknya. Eliona memutar bola mata, tidak tertarik. Hardi membaca, “Almarhum menyatakan bahwa semua aset pribadi yang dibangun selama pernikahan akan menjadi hak pemilik nama. Termasuk tiga butik mewah atas nama Ny. Yasmin Devandra.” Eliona berdiri lagi dan menunjuk Yasmin. “Papa benar-benar dibutakan olehnya! Lihat! Butik pun dia dapat! Kamu pasti mempengaruhi Papa!” Yasmin menatap Eliona tanpa emosi. “Tiga butik itu dibangun dengan uangku sendiri. Sejak sebelum aku menikah dengan ayahmu.” “Bohong!” bentak Eliona. Hardi menutup berkas. “Semua data transaksi ada di bank. Jika Anda ingin menuduh sesuatu, Anda boleh membawa bukti. Jika tidak, saya sarankan untuk menerima keputusan ini.” Eliona mengepalkan tangan begitu kuat hingga buku jarinya memutih. “Papa pasti sudah tidak jernih saat membuat wasiat!” Rio berdiri perlahan. “Eli, kita tidak bisa mengubah isi dokumen. Papa sudah memilih. Kita harus hormat.” Eliona menatap Rio dengan kemarahan yang bahkan tidak lagi tertuju pada Yasmin semata. “Kau membelanya lagi? Kau selalu membelanya!” “Aku tidak membela siapa pun,” kata Rio lembut. “Aku hanya bilang kita harus selesai di sini tanpa membuat masalah.” “Masalah? Kamu pikir ini tidak masalah? Dia dapat rumah! Dapat saham! Dapat swalayan! Dapat tanah!” Eliona mendengus. “Dia menikahi Papa cuma tiga tahun tapi dapat lebih banyak dari Mama yang menemani Papa puluhan tahun!” Eliona menoleh tajam pada Yasmin. “Kamu benar-benar janda yang beruntung ya, Yasmin.” Yasmin menunduk sedikit, tidak ingin menambah api pada amarah Eliona. Hardi berdiri, merapikan jasnya. “Pertemuan ini selesai. Semua berkas kalian masing-masing akan saya kirimkan ke rumah.” Yasmin bangkit perlahan dari kursi. Rio berdiri beberapa detik setelahnya, menatap Yasmin sekilas—tatapan yang sulit diartikan. Saat mereka berjalan keluar kantor, Eliona masih mengomel, suara tingginya memenuhi lorong. Rio mencoba menahan tangan istrinya, namun wanita itu menepisnya kasar. “Jangan sentuh aku, Rio!” Yasmin berjalan di belakang mereka. Ketika Rio menoleh dan melihat tatapan Yasmin yang cemas, Rio menggeleng pelan, seolah berkata: biarkan saja. Jangan ikut campur. Di parkiran, Eliona membuka pintu mobil dengan kasar. “Aku tidak mau pulang sekarang! Aku mau ke butik Mama!” Rio mengembuskan napas. “Baik, tapi—” “Kau pulang sama Yasmin saja!” potong Eliona tajam. “Yang jelas kau lebih peduli padanya daripada aku!” Rio memejamkan mata sebentar, lalu menunduk. “Eli, tolong jangan bicara gitu.” Eliona masuk mobil dan membanting pintu. Mobil itu melaju pergi dengan kecepatan tinggi, meninggalkan Yasmin dan Rio berdiri berdua di parkiran yang perlahan mulai sepi. Yasmin memeluk tasnya, ragu harus bicara atau diam. Rio memasukkan kedua tangannya ke saku. “Maaf soal tadi. Dia hanya… sulit menerima.” Yasmin mengangguk. “Wajar. Dia anak kandungnya.” Rio menatap Yasmin lama, sangat lama, hingga Yasmin merasa dadanya mengencang. “Apa kamu baik-baik saja setelah mendengar semua tadi?” tanya Rio pelan. “Aku… masih sedikit terkejut,” jawab Yasmin jujur. “Terkejut senang?” Rio menyudutkan senyumnya, tidak menggoda, tapi juga tidak netral. Yasmin menelan saliva. “Aku tidak tahu harus apa…” Rio berjalan mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Kau berhak mendapat apa yang kau dapatkan. Itu keputusan Papa.” Kata-kata itu membuat Yasmin menunduk, mencoba menghindari tatapan Rio yang terasa terlalu dalam. “Ayo pulang,” ujar Rio akhirnya, suaranya lembut dan rendah. “Aku antar.” Yasmin mengangguk pelan. Ia berjalan menuju mobil Rio, dan untuk beberapa detik ia merasakan sesuatu yang tidak seharusnya—perasaan bahwa sejak warisan dibacakan, sejak amarah Eliona meledak, sejak Rio menenangkannya dengan suara halus… Hubungannya dengan lelaki itu baru saja memasuki wilayah yang jauh lebih berbahaya. Dan Yasmin merindukan sentuhan seorang pria.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD