Bab 01

1032 Words
Yasmin Devandra wanita 37 tahun yang duduk di ruang tengah rumah besar peninggalan mendiang suaminya. Sudah tiga bulan ia hidup sendiri di rumah itu, namun keheningan masih terasa menghimpit seperti hari pertama kepergiannya. Ketika suara mobil terdengar memasuki halaman, Yasmin segera bangkit. Ia tahu siapa yang datang. Hari yang ia khawatirkan akhirnya tiba. Hari ketika rumah itu tidak lagi hanya miliknya seorang. Pintu terbuka perlahan. Eliona Harsandra wanita berusia 27 tahun anak tirinya yang masuk dengan langkah percaya diri, dan di belakangnya berjalan seorang lelaki berpostur gagah yang menarik sebuah koper besar. Yasmin menelan ludahnya pelan. Lelaki itu adalah Rio Gilandra lelaki berusia 33 tahun—suami Eliona. Yasmin tersenyum tipis untuk menyambut. “Kalian sudah tiba. Perjalanan lancar?” Eliona meletakkan tasnya di sofa tanpa banyak basa-basi. “Lancar. Rumah Papa masih sama… tidak ada yang berubah.” Ia memandang sekeliling, seolah sedang menilai setiap sudut. “Kami akan tinggal di sini sementara waktu. Banyak yang harus aku urus.” Rio mendekat sambil tersenyum sopan. “Terima kasih sudah menerima kami, Yasmin.” Nada suara lelaki itu lembut, lebih lembut dari yang seharusnya untuk pria bertubuh sebesar dan setegap itu. Yasmin mengangguk cepat, mencoba mengabaikan sensasi aneh yang muncul di d**a. “Tentu saja. Silakan merasa seperti di rumah sendiri.” “Rio, bantu aku naikkan koper,” ujar Eliona sambil menunjuk tangga. Rio langsung mengangguk, mengangkat koper itu dengan satu tangan. Yasmin memperhatikan dengan cepat kemudian memalingkan wajah. Ia tidak ingin terlihat sedang memperhatikan suami orang lain. Apalagi suami anak tirinya sendiri. Itu adalah hal terakhir yang seharusnya ia lakukan. Ketika mereka naik ke lantai dua, Yasmin menghela napas panjang. “Tolong, Yasmin,” gumamnya pada diri sendiri. “Jangan melakukan hal bodoh.” Namun kata-katanya sendiri terasa seperti peringatan yang datang terlambat. Malam pertama mereka di rumah itu berlalu damai, meski Yasmin sulit tidur. Ia mendengar suara langkah kaki Rio beberapa kali di lorong. Setiap kali langkah itu lewat dekat kamarnya, Yasmin menahan napas tanpa alasan yang logis. Keesokan paginya Yasmin bangun lebih awal dan menuju dapur. Ia sedang menuang air panas ke cangkir ketika suara pintu dapur terbuka pelan. “Pagi,” kata Rio sambil berjalan masuk, rambutnya masih sedikit kusut, kausnya pas di tubuh sehingga bentuk dadanya jelas terlihat. “Pagi,” jawab Yasmin, berusaha terlihat tenang. “Mau kubuatkan kopi?” Rio tersenyum kecil. “Aku buat sendiri saja. Tapi terima kasih.” Ia mendekat, mengambil cangkir dari rak tepat di sebelah Yasmin. Jarak mereka terlalu dekat. Yasmin merasakan aroma tubuh Rio yang hangat dan maskulin. Ia mundur setapak sebelum lelaki itu menyadarinya. “Kamu sudah bangun dari tadi?” tanya Rio sambil mengaduk kopi. “Ya… agak sulit tidur akhir-akhir ini.” “Kau masih berduka?” Pertanyaan itu membuat Yasmin terdiam. “Aku… masih menyesuaikan diri.” Rio menatapnya sejenak. “Kalau butuh teman bicara, kau bisa bilang.” Yasmin segera mengalihkan pandangan. “Terima kasih. Tapi aku baik-baik saja.” Mereka terdiam beberapa detik sebelum suara langkah terburu-buru terdengar dari luar dapur. “Rio! Kamu di sini?” suara Eliona terdengar kesal. Rio menoleh. “Iya, aku di dapur.” Eliona muncul dengan wajah tidak sabar. “Aku sudah tunggu dari tadi. Kita harus ke kantor notaris sebentar lagi.” “Baik. Aku ambil jaket dulu.” Saat Rio pergi, Eliona memandang Yasmin singkat. “Kamu tidak keberatan kalau kami pergi duluan, kan?” “Tentu tidak.” “Nanti sore aku mau bicara soal berkas-berkas warisan Papa. Siapkan semuanya.” Yasmin mengangguk. “Baik.” Ketika pasangan itu pergi, Yasmin menyandarkan tubuhnya ke meja. Ia menutup mata sejenak. “Kenapa aku merasa lega ketika dia pergi… tapi juga merasa kecewa?” Ia memukul pipinya pelan. “Tidak, Yasmin. Jangan mulai.” Hari berikutnya justru semakin membuat Yasmin bingung. Eliona sering pergi seharian, meninggalkan Rio dan Yasmin berdua di rumah. Rio bekerja dari ruang tengah, sementara Yasmin melakukan pekerjaan rumah agar tetap sibuk. Pada suatu siang, Yasmin sedang menyapu halaman belakang ketika Rio keluar membawa laptop. “Kamu di luar terus hari ini,” katanya. “Ya. Cuaca cerah.” Rio duduk di kursi taman, lalu memandang Yasmin sambil menyandarkan tubuh. “Butuh bantuan? Aku bisa menyapu.” “Tidak usah,” jawab Yasmin cepat. “Kau sedang bekerja.” “Tidak masalah. Aku bisa istirahat sebentar.” Rio berdiri dan mengambil sapu cadangan. “Ayo, kita bagi dua.” Yasmin hendak menolak lagi, tetapi Rio sudah mulai menyapu tanpa menunggu persetujuannya. “Rio, serius? Ini pekerjaan rumah. Kamu tidak harus—” “Aku tinggal di sini, jadi aku juga harus ikut menjaga rumah ini, bukan?” Yasmin menatapnya. “Kamu terlalu baik.” Rio tersenyum kecil. “Atau kamu saja yang terlalu menolak bantuan.” Yasmin mendengus halus. “Mungkin.” Mereka menyapu bersama dalam diam yang justru terasa nyaman. Sesekali Rio mengamati Yasmin, dan setiap kali itu terjadi, Yasmin berpura-pura tidak sadar padahal wajahnya memanas. Saat mereka selesai, Rio menegakkan sapu dan berkata pelan, “Yasmin… kamu kelihatan lelah.” “Aku baik-baik saja.” “Kamu selalu mengatakan itu.” “Karena itu kenyataan.” Rio mendekat satu langkah. “Yasmin… jujurlah. Kau terlihat sendirian di rumah ini.” Yasmin menahan napas. “Jangan bicara seperti itu, Rio.” “Seperti apa?” “Seperti… seperti kita dekat.” Rio memandangnya dalam. “Bukankah kita tinggal di rumah yang sama? Wajar kalau kita mulai dekat.” Itu kalimat sederhana, tapi cara lelaki itu mengucapkannya membuat d**a Yasmin terasa sesak. “Rio… kamu suami Eliona.” “Aku tahu.” “Dan aku istri… mendiang ayah mertuamu.” Rio mengangguk pelan. “Aku tahu itu juga.” Ia menatap Yasmin beberapa detik yang terasa sangat panjang. Terlalu panjang. Hingga Yasmin terpaksa memalingkan wajah. “Aku masuk dulu,” ucap Yasmin buru-buru. Saat ia berjalan pergi, Rio berkata pelan dari belakang. “Kalau kau butuh seseorang untuk diajak bicara… aku ada.” Yasmin berhenti sejenak, namun ia tidak berani menoleh. Ia hanya menjawab dengan suara hampir bergetar. “Jangan terlalu baik kepadaku, Rio.” Ia masuk ke dalam rumah dengan hati yang kacau. Ingin sekali Yasmin menjadi orang jahat sekarang. Untuk mere– sialan! Dia tidak akan melakukan hal bodoh itu!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD