Vero meletakkan perlahan tubuh Angel di atas ranjang tanpa memperdulikan ocehan dari gadis itu yang membuat kupingnya sakit.
"Diam jangan banyak gerak. Kaki mu sedang terkilir!" Ucap Pria itu mengambil duduk di tepian rajang lalu membawa kaki Angel keatas pahanya mengecek seberapa parah luka di sana.
Terdapat memar yang cukup besar di antara mata kaki dan kaki Angel juga sedikit bengkak. "Apa sakit?"
Angel berdecak sebal. "Tentu saja sakit, bodoh!" Serunya.
Vero bangkit dari duduknya dengan wajah datar tanpa kata berjalan kearah pintu sontak saja hal itu membuat Angel mengeringkan alisnya bertanya, apa pria itu marah?
"Vero tunggu, mau kemana?"
Vero menghentikan langkahnya menoleh sekilas laku kembali melangkah keluar dari kamar gadis itu. Membuat Angel mendengus sebal. Padahal dirinya tengah sakit tapi pria itu malah pergi seenaknya.
"Sial besok aku ada pemotretan." Gumam, Angel. Dia kemarin baru saja menyewa studio foto untuk pemotretan baju yang sudah ia tanda tangani saat di Inggris. Jadi mau tidak mau sekarang dia harus melakukan pemotretan itu sendiri tanpa kru yang menemani karena dia tengah berada di Indonesia.
Ceklek
Angel seketika langsung menoleh ke arah pintu yang menampakkan sesosok pria yang tengah membawa baskom berisi es batu dan kain di tangan satunya lagi. "Aku kira kamu marah." Ucap Angel, Vero membalasnya hanya dengan sebuah deheman.
"Luruskan kaki mu." Ucap Vero. Angel langsung menuruti permintaan pria itu tanpa protes sama sekali.
Dengan cekatan Vero langsung mengompres lebam di kaki, Angel. Bahkan gadis itu di buat tak berkedip karena ekspresi wajah Vero yang sangat serius membuat aura ketampanannya semakin meningkat.
"Lain kali jika menuruni anak tangga jangan lari. Bisa saja kamu terluka lebih parah dari ini." Angel masih terdiam tidak menjawab ucapan, Vero. Tatapan mata gadis itu terkunci di satu titik yaitu wajah tampan Vero. Bahkan si empunya tidak menyadarinya sama sekali.
"Angel apa kamu dengar!" Seru pria itu menatap, Angel.
"Hah iya?"
"Lain kali jangan lari saat menuruni tangga. Mengerti!" Kata Vero tegas. Angel langsung mengangguk seraya menunduk karena merasakan detak jantungnya yang tidak karuan saat intonasi suara Vero melembut.
...
Seminggu berlalu setelah kejadian Angel terjatuh dari tangga dan sekarang kaki gadis sudah membaik bahkan dia sudah bisa berjalan lagi dan hal itu membuat Vero mengucap syukur.
Bukan tanpa alasan. Selama Angel sakit, pria itu benar-benar terbebani dengan tingkah Angel yang membuat geleng-geleng kepala. Bahkan saat dia tengah meeting di kantor gadis itu menelpon seraya menangis dan tentu saja hal itu membuat Vero panik.
Vero bergegas pulang kerumah meninggalkan meeting pentingnya itu hanya untuk menemui, Angel. Apa kalian tahu apa yang membuat gadis itu menangis, ternyata Angel menangis karena tengah menonton drakor dan masih banyak hal lainnya seperti merengek meminta itu ini bahkan saat kekamar mandi gadis itu minta di atas.
"Vero." Panggil Angel saat pria itu berjalan memasuki rumah.
"Apa."
"Aku ingin meminta tolong-" Angel menjeda kalimatnya melirik wajah Vero sekilas yang terlihat kelelahan. Sejujurnya dia tidak tega karena pria itu pasti cape habis bekerja seharian. Tapi dia tidak ada pilihan lain selain meminta tolong pada Vero.
"Aku harus melakukan pemotretan sejujurnya perusahan yang bekerja sama dengan ku sudah meminta foto
itu dari 2 hari yang lalu tapi aku tidak bisa karena masih sakit.
Jika aku tidak mengirimnya segera, aku akan terkena pinalti." Sambung gadis itu.
"Sekarang?" Tanya Vero singkat. Padahal angel sudah berbicara panjang lebar tapi pria itu membalasnya tidak lebih dari dua kata.
Angel langsung mengangguk. "Mau ya. Soalnya hanya kamu yang bisa membantu ku sekarang."
"Baiklah. Tapi aku mandi dulu." Angel kembali mengangguk dengan sangat antusias.
"Nanti langsung ke kamar ku saja. Aku sudah mengatur latarnya."
Setelah itu Vero langsung melangkah masuk ke dalam kamarnya tanpa kata. Beberapa menit berlalu, pria itu sudah menyelesaikan ritual mandinya dengan wajah yang sangat segar. Vero keluar kamarnya hanya dengan menggunakan kaus polos dan celana pendek.
Vero masuk kedalam kamar Angel. Seketika langkah pria itu terhenti saat melihat baju tidur byang di kenakan oleh gadis itu. Bahkan itu bisa di bilang bukan baju tidur karena hampir mirip lingerie tapi lebih sedikit tertutup tidak terlalu terbuka.
Sontak saja hal itu membuat, Vero meneguk salivanya susah payah. Angel melangkah mendekat pada Vero yang masih setia dengan keterdiamannya.
"Are you oke?"
Vero berdehem menetralkan rasa canggungnya. "Apa kamu akan mengenakan itu untuk berfoto?" Tanyanya dingin. Angel menjawabnya hanya dengan anggukan kecil, entah mengapa ada rasa tak suka saat Angel mengangguk.
"Kamu gila, itu terlalu terbuka!" Seru Vero marah. Angel hanya mengangkat bahunya acuh.
"Mau bagaimana lagi ini baju yang harus aku kenakan. Ayo cepat." Ucap Angel menarik tangan Vero mendekat pada tempat pemotretan yang sudah Angel buat.
"Ada berapa baju yang harus kamu pakai?"
"Ada 3, termasuk baju yang ku pakai"
Angel memberikan kamera pada Vero. Gadis itu mulai berpose dengan sangat profesionalnya bahkan Vero di buat terpukau dengan beberapa pose Angel dengan piama berwarna merah itu.
"Cukup! Aku akan berganti baju lagi." Angel beranjak dari tempatnya mengambil piama di atas kasur lalu bergegas masuk ke kamar mandi, karena tidak mungkin dia berganti baju di sini.
Vero lebih memilih duduk di pinggiran ranjang seraya melihat beberapa hasil foto jepretannya yang cukup bagus hampir sama dengan fotografer profesional. Vero tersenyum senang merasa bangga pada dirinya namun senyum itu seketika lenyap saat melihat piama kedua yang Angel kenakan.
Nafas pria itu seketika tercekat. Piama yang angel kenakan saat ini lebih parah dari yang pertama, karena piama tersebut memperlihatkan belahdadaada milik gadis itu.
Vero menarik nafas dalam-dalam berusaha menetralkan pikirannya yang sudah berkecamuk kemana-mana, dia itu pria normal jadi jangan salahkan Vero yang tergoda karena pakaian Angel yang terbuka dan tubuh gadis itu yang sangat bagus.
"Ehm. Menikmati pemandangan ku tuan!" Dehem Angel menggoda, Vero. Ia tahu jika pria itu tengah menahan hasrat laki-lakinya karena terlihat jelas dari wajah itu.
"Siapa? Aku ? Tidak!" Jawab Vero sinis.
"Oh iya maaf aku lupa jika kamu gay." Kata Angel santai setaya mengibaskan rambutnya. "Kalau begitu ayo mulai." Vero mengepalkan tangannya marah, dia merasa harga dirinya tercoreng saat Ange berkata jika dia gay. Dasar gadis sialan batin Vero kesal.
Vero mengelap butiran keringat yang membasahi wajahnya, akhirnya penyiksaan ini akan selesai karena Angel tengah berganti baju terakhir untuk pemotretan ini. Dia menyesal mengiakan permintaan Angel untuk membantunya melakukan pemotretan karena ini benar-benar menyiksa.
Angel keluar dari kamar mandi dengan santai tanpa mempedulikan wajah Vero yang mengeras, bahkan gadis itu hampir tertawa tapi untuknya masih bisa di tahan.
Sial, ini gila. Bagaimana bisa baju itu sangat terbuka teriak batin Vero frustrasi. Pria itu menyerah dengan cobaan yang tengah dia hadapi saat ini. Angel menggunakan piama yang benar-benar terbuka, mungkin jika baju tadi hanya memperlihatkan belahdadaada, tidak dengan baju yang ketiga.
Karebuah dadaada Angel hampir terlihat. Tanpa pikir panjang, Vero langsung melempar kamera yang ada di tangannya asal keatas kasur, dia tidak perduli jika nanti kamera itu rusak karena dia masih bisa membelinya lagi.
"Akan aku buktikan pada mu jika aku bukan gay." Ucap Vero langsung menarik Angel merengkuh pinggang gadis itu. Menciumnya dalam, bahkan Angel di buat sangat terkejut dengan perlakuan pria itu