Dissdent girl 7

1021 Words
Vero mengerjapkan matannya perlahan saat merasakan beban berat di atas perutnya dan tangan kiri yang mati rasa. Betapa terkejutnya ia saat membuka mata langsung di suguhkan wajah Angel yang tengah tertidur lelap tepat di hadapannya. Gadis itu tertidur dengan tangan milik Vero sebagai bantalan. Tapi masalahnya adalah wajah, Angel benar-benar sangat dekat mungkin jika Vero memajukan saja sedikit wajahnya bibir mereka bisa saling bertemu. Detak jantung pria itu tidak beraturan, ia tidak pernah tidur satu kasur dengan seorang wanita. Pikiran Vero seketika berkecamuk saat sadar jika tangan Angel melingkar di pinggangnya dengan sangat erat dan kaki gadis itu yang mengait pada pahanya. Nafa Vero tercekat saat merasakan hembusan nafas menerpa wajahnya, membuat sesuatu di bawah sana membesar dan terasa sesak membuat pria itu merasa tidak nyaman. Seketika, Vero berusaha melepas tautan tangan Angel dengan perlahan karena takut membangunkan gadis itu. Tapi usahanya nihil karena setelahnya ternyata, Angel malah terbangun dan membuat tatapan mereka bertemu. "Tampan." Serak Angel khas orang bangun tidur, semakin membuat birahi Vero memuncak. Namun dengan segera pria itu langsung berdehem menetralkan suasana yang berubah menjadi panas. "Bisa lepaskan pelukan mu!" Ucap Vero sedatar mungkin. Namun ajaibnya bukanya melepaskan, Angel malah menggeleng semakin merapatkan tubuhnya. "Aku tidak mau. Ini sangat nyaman." Tolaknya. Vero menatap wajah, Angel tajam tapi yang di tatap malah tersenyum tidak merasa takut sama sekali. Vero menghela nafas panjang, tanpa kata kembali mencoba melepaskan tangan, gadis itu dan berhasil. Tapi dengan tiba-tiba Angel langsung naik keatas tubuh Vero membuat pria itu seketika terbelalak. "Angel apa yang kamu lakukan!" Geram Vero marah. Angel malah menyeringai licik, membelai wajah Vero pelan seraya mencondongkan tubuhnya ke depan menggoda pria itu. "Menurut mu, aku sedang apa?" Angel semakin mendekatkan wajahnya menangkup wajah, Vero lalu di kecupannya bibir pria itu. Entah mengapa Angel sangat tertarik dengan bibir itu. Vero memejamkan matanya, dia benar-benar sudah tidak kuat apa lagi sesuatu di bawah sana semakin sesak. "Turun!" "Tidak mau." "Jangan bertingkah murahan, Angel!" Sentak Vero, tapi Angel tidak merasa sakit hati sama sekali dengan kalimat yang di lontarkan oleh pria itu. "Aku tidak bersikap murahan. Aku hanya melakukan apa yang aku suka. Seperti mencium bibir mu." Jelasnya seraya mengedipkan mata. "Aku sangat-" ucapan gadis itu seketika terhenti saat merasakan sesuatu yang menonjol menusuk tubuhnya. "Are you turn on?!" Seru, Angel mengerjapkan matannya tak percaya. Bibir gadis itu seketika kelu tak bisa berkata apa-apa lagi, Vero menatap Angel datar tapi terlihat jelas siratan gairah di matanya. Tanpa kata Vero menempelkan bibirnya pada bibir, Angel. Menciumnya dengan penggebu-gebu entah apa yang tengah merasuki Vero. Angel masih terdiam tidak tahu harus berbuat apa, mata gadis itu mengerjap tidak membalas ciuman pria itu sama sekali. Angel berusaha mendorong tubuh, Vero agar menjauh, berusaha beranjak dari tubuh pria itu. Tapi Vero malah merengkuh tubuh, Angel mendekapnya dengan erat. Vero benar-benar sudah kehilangan akal. Cukup lama pria itu mencium Angel tanpa balasan sama sekali. Sampai akhirnya Angel menyerah dan membalas ciuman pria itu. Mereka saling mengecap, merasakan sensasi yang membuat sesuatu di dalam tubuh mereka berdesir sempurna. Vero melepas tautan bibir itu saat di rasa Angel sudah kehabisan nafas. Dada keduanya naik turun menetralkan nafas yang sudah tidak beraturan. Tatapan mereka saling bertemu dan mengunci, Angel bahkan di buat tak berkedip karena pesona pria itu. Sedangkan Vero menatapnya dengan penuh arti. "Maaf." Ucapnya merasa bersalah atas perbuatan yang tadi dia lakukan. Angel berdehem kencang menetralkan suasana. "Ti-tidak a-ku juga salah." Ucap Angel gugup. Bahkan tanpa bisa di cegah wajah gadis itu langsung bersemu merah. Ia benar-benar gugup saat ini karena jantungnya yang berdetak kencang. Rumah vero. Angel merutuki dirinya sendiri saat sampai di rumah. Bisa-bisanya dia sekarang merasa gugup dan canggung saat melihat, Vero. Mereka berdua baru saja sampai rumah beberapa jam lalu. Angel tengah berada di kamar seraya merenung karena jantung sialannya ini sedari tadi tak kunjung berhenti. Gadis itu melirik jam di ponselnya yang sudah menunjuk pukul 11 malam. Sedari tadi Angel ingin keluar kamar untuk mengambil minum tapi dia urungkan karena belum siap jika nanti bertemu dengan, Vero. Entah mengapa tiba-tiba saja sikap pembangkang dan pemberaninya menjadi ciut karena kejadian tadi siang, ralat sore. "Ya, pasti dia sudah tidur!" Monolog gadis itu. Angel langsung bergegas menuju pintu kamar, tapi ternyata saat gadis keluar dari kamar, secara bersamaan Vero juga keluar dari kamar milik pria itu. Tubuh Angel seketika menegang hebat. "Mau kemana?" Ucap Vero datar seperti biasanya. "Ke...ke kamar!" Kata Angel yakin seraya menyengir. Sontak saja hal itu membuat kedua alis, Vero terangkat secara bersamaan. "Ke kamar? Bukankah kamu tadi baru saja keluar kamar?!" "Maksud ku, ke kamar mandi yang ada di dapur." Ucap Angel seraya tertawa renyah menutupi kegugupannya saat ini. "Sudah jangan banyak tanya aku sudah kebelet!" Serunya saat melihat, Vero akan kembali melontarkan pertanyaan. Gadis cantik itu langsung bergegas berlari menuruni anak tangga dengan sengat cepat tanpa mendengarkan ucapan Vero. "Angel jangan lari nanti-" Gubrak Belum sempat Vero menyelesaikan kalimatnya, Angel sudah terjatuh saat hanya tinggal menginjak satu anak tangga lagi. Dengan cepat Vero langsung menyusul gadis keras kepala itu yang tengah meringis kesakitan. "Aisss, dasar tangga sialan!" Seru Angel menyalakan tangga itu padahal dia yang 100% salah karena berlari saat menuruni anak tangga. "Kamu terjatuh karena salah mu sendiri, tapi bagaimana bisa malah menyalakan tangga." Ucap Vero berdiri di hadapan Angel. Gadis itu seketika mendongak dengan wajah kesalnya. "Ini semua juga salah mu!" "Aku?" "Iya! Seharusnya kamu tidak membuat tangga seperti ini tapi eskalator agar aku tidak terjatuh." Vero memutar bola matanya malas. "Kamu kira rumahku mall." Pria itu mengulurkan tangannya membantu Angel agar segera berdiri tapi langsung di tepis dengan kasar oleh gadis itu. "Aku bisa sendiri!" Tolaknya seraya bangkit tapi kembali terjatuh karena ternyata kakinya terkilir tidak bisa menopang beban tubuhnya. "Ah sial kaki ku!" Pekik Angel tak kuasa menahan rasa sakit itu Vero berdecak malas. "Dasar keras kepala." Ucapnya tanpa persetujuan Angel, langsung membopong tubuh gadis itu gaya bridal style lalu membawanya menaiki anak tangga. "Apaan ini, turunkan aku!" Angel berontak dalam gendongan Vero. "Diam atau aku lempar dari dari atas sini." Intrusi pria itu datar tapi menyeramkan. Membuat keberanian Angel seketika menciut takut apa lagi saat sadar mereka sudah berada di pertengahan anak tangga yang sudah lumayan tinggi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD