Dissdent girl 6

1552 Words
Angel terus mengerucutkan bibirnya, masih kesal dan gondok dengan pria yang ada di sebelahnya itu. Vero meraih tangan Angel, menuntunnya agar langkah kaki mereka sama. Beberapa menit lalu mereka baru saja sampai di kediaman rumah orang tua, Vero. Entah apa motifasi pria itu sampai harus menggenggam tangan, Angel. "Ubah mimik wajah mu, jangan cemberut." Gadis itu mendengus sebal mendengar ucapan, Vero. "Iya, bawel!" Angel melangkah dengan senyuman yang menghiasi bibirnya walau sedikit terpaksa. Sesampainya di ruang keluarga, Angel dan Vero langsung di sambut oleh kedua orang tuanya dan kedua adik kembarnya itu. "Akhirnya kalian sampai juga!" Seru wanita paruh baya. Angel mengernyitkan alisnya heran, padahal dia sudah lama sekali saat bertemu dengan Alanta mungkin 5 tahun yang lalu saat masih SMP. Tapi lihat wajah wanita itu masih saja awet muda dan cantik. Semua mata sekarang tertuju pada mereka berdua, lebih tepatnya pada tangan Vero yang tengah menggandeng Angel dengan sangat erat. "Kami berdua sekarang sudah berpacaran!" Tutur pria itu. "APA!" Seru semuanya bersamaan tak terkecuali, Angel yang juga syok dengan apa yang, Vero ucapkan. Angel menatap wajah Vero dengan horor memperingati pria itu agar kembali menarik ucapannya. "Apa maksud mu?!" Bisiknya pelan tapi terdengar sangat jelas penekanan di sana. Vero melirik Angel sekilas. "Ikuti saja alurnya, setelah ini saya jamin kamu akan mendapatkan keuntungan!" "Kalian pacaran?!" Seru Alanta dengan wajah berbinarnya menatap Vero dan Angel bergantian. Vero dengan mantap langsung mengangguk seraya tersenyum sedangkan, Angel... Jangan tanya bagaimana wajah gadis itu sekarang. Dia benar-benar bingung di satu sisi ingin mengelak tapi tidak enak saat melihat mimik wajah Alanta mama Vero yang berbinar senang. "I-ya Tante." Jawabnya ragu-ragu, meremas tangan Vero dengan kencang. Ingatkan Angel nanti untuk memberi pelajaran pada pria menyebalkan satu ini. "Jangan panggil Tante tapi mama- wanita paruh baya itu menjeda kalimatnya, melirik suaminya yang terduduk di sofa dengan nyaman. -terus kamu juga harus memanggil pria tua itu dengan sebutan, papa!" Ucapnya. "Jika aku tua kamu juga tua!" Seru Alvaro tak suka dengan ucapan istrinya barusan. "Sudah-sudah. Kalian sama-sama tua!" Sambung Alexis. Angel terkekeh melihat interaksi keluarga, Vero yang sangat hangat dan mengasikan berbeda dengan keluarganya saat di Inggris. Tentu saja berbeda, Vero masih memiliki keluarga yang lengkap sedangkan, Angel hanya memiliki Haris, Daddy-nya. Karena sang mama sudah lebih dulu di panggil oleh tuhan saat dia masih kelas 9 SMP. Vero menarik tangan Angel. Membuat gadis itu tersadar dari lamunannya. "Ayo duduk!" Angel duduk tepat di sebelah Vero. "Hai, Angel bagaimana kabar mu?" Ucap Alvaro papa Vero. "Baik, pah!" "Maaf karena saat kamu sampai papa tidak bisa menjemput mu." Alvaro merasa bersalah, seharunya dia yang menyambung Angel saat gadis itu sampai tapi karena Alister membuat ulah di kampus. "Tidak apa-apa, lagi pula Angel sampai dengan selamat!" "Apa mengasikan tinggal bersama, Vero?" Tanya pria itu. Angel terdiam bingung mencari jawaban yang tepat. Sejujurnya jawabannya Fifty-Fifty, antara enak dan tidak enak itu saja. "Tentu saja enak!" Itu bukan suara Angel melainkan suara Alister dengan seringai liciknya. "Jika tidak mana mungkin, Angel bisa bertahan dengan pria muka tembok seperti, Vero. Apa lagi kemarin aku memergoki mereka berciuman, bukan begitu Angel?!" Wajah Angel seketika merah padam karena malu. "Kalian berciuman!" Pekik Alanta syok. Angel hanya terdiam dengan telapak tangan yang sudah berkeringat. Tapi tidak dengan Vero yang bisa saja seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka. Angel melirik sekilas pria itu yang sepertinya akan mulai berbicara. "Kami tidak berciuman, itu hanya kecelakaan. Angel hampir terpeleset dan aku menangkapnya lalu dengan tidak sengaja bibir kami menempel setelah itu Alister datang dengan mengejutkan!" Jelas Vero dalam satu tarikan nafas. Bahkan Angel di buat tak berkedip dengan alasan pria itu. Betapa pintarnya bibir itu berucap sampai membuat semua yang ada di ruang keluarga langsung percaya dengan cerita, Vero. Beberapa menit berlalu mereka hanya berbincang dan sesekali tertawa saat salah satu dari mereka melontarkan lelucon. Alvaro mengangguk melirik putranya, Vero yang sedari tadi hanya terdiam dan menyimak. "Vero coba ajak Angel berkeliling rumah. Mungkin dia bosan!" Ucap Alvaro mengintruksikan sang Anak. Belum sempat Vero menjawab tapi sudah di potong oleh suara adik perempuannya itu. "Biar aku saja yang mengantar!" Seru Alexis. Agatha menatap Alexis yang sedang tersenyum padanya. "Alexis!" Ucapnya seraya mengulurkan tangannya. Angel dengan senang hati langsung menyambut uluran tangan itu. "Angel!" "Ayo, ikut aku." Angel bangkit dari duduknya mengekor pada, Alexis. Sedari tadi, ia hanya mendengarkan Alexis yang tengah bercerita dengan riang tentang pria yang gadis itu idamkan. "Jadi apa sekarang kamu masih berusaha mendapatkannya?" Tanya Angel. Alexis langsung mengangguk dengan cepat. "Kita ngomong-nya santai aja jangan terlalu formal. Gue bakal berusaha dapetin dia, kalo enggak sia-sia perjuangan selama 2 tahun ini." "Selama itu Lo berjuang buat dia!" Seru Angel tak mengerti dengan jalan pikir, Alexis. Gadis itu sudah berjuang mendapatkan seorang pria yang dari sekarang ternyata tak kunjung membalas perasaan untuknya. "Ya gitu deh." "Next, sekarang kita mau kemana?" Alexis tidak menjawab malah tersenyum seraya mengedipkan matanya menarik tangan Angel memasuki salah satu ruangan, kamar? "Ini kamar siapa?!" Heran Angel karena gadis itu yakin, Alexis bukan membawanya ke kamar gadis itu karena kamar ini lebih menampilkan kesan maskulin. "Vero!" Seketika Angel langsung menoleh mengangkat kedua alisnya secara bersamaan. "Buat apa?" "Gue tau sebernya Lo gak pacaran sama kakak gue. Jangan tanya kenapa gue bisa tau. Karena sebernya dia lagi berusaha menghindar dari perjodohan yang mama papa rencanakan." Jadi Vero hanya memanfaatkannya saja. Sialan batin Angel kesal. Setidaknya apa tidak bisa pria itu memberitahu atau meminta tolong padanya agar bisa mempersiapkan diri lebih baik lagi, tidak seperti tadi gugup. "Jadi Vero cuma-" belum sempat Angel menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja pintu terbuka menampakkan Vero yang masuk dengan wajah datarnya. "Aku ingin berbicara dengan, Angel!" "Yaudah kalo mau ngomong-ngomong aja." "Aku ingin berbicara berdua." Ucap Vero menekankan kalimat terakhirnya. Alexis memutar bola matanya malas, dengan cepat bergegas keluar dari kamar sang kakak. Wajah, Angel seketika berubah menjadi tak bersahabat menatap, Vero horor. "Dasar pria menyebalkan." Teriaknya menghujani pukulan pada tubuh Vero tanpa henti,  dengan cepat pria itu langsung mencekal kedua pergelangan tangan, Angel. "Listen to me, oke. Aku akan memberikan kesepakatan baru, selama 6 bulan ini kamu harus berpura-pura menjadi pacar saya di depan semua orang. Tapi tidak jika kita sudah di rumah." Aku? Batin Angel heran pasalnya pria itu biasanya menggunakan saya bukan aku. Angel yang tak mau mengambil pusing, menatap Vero serius. "Apa keuntungannya untuk ku?!" Sengit gadis itu masih mengibarkan bendera permusuhan. Vero menjelaskan semuanya keuntungan yang akan Angel dapatkan, dan semua itu sukses membuatnya langsung tertarik. Karena Vero menawarkan kebebasan walau masih harus di awasi oleh pria itu dan berbelanja semau, Angel. Gadis itu langsung menerima keselamatan mereka. Sekarang di sini lah Angel dan Vero berjalan beriringan menuruni anak tangga, dengan Vero yang merengkuh tubuh Angel dengan erat bak sepasang kekasih yang sangat serasih, walau kenyataan tidak sama sekali. "Kalian habis dari mana?" Tanya Alanta yang tidak sengaja berpapasan dengan dua sejoli itu. "Biasa, Ma. Vero sedang manja pada Angel. Mama tau kan gimana cowok kalo lagi manja." Jelas gadis itu tanpa menghilangkan senyuman di bibir manisnya sama sekali. "Benarkah?!" Wajah Alanta seketika berbinar senang karena semakin yakin jika putra pertamanya itu tidak gay seperti yang di rumorkan oleh berita. Bukan tanpa alasan wanita paruh baya itu percaya dengan berita, pasalnya Vero memang belum pernah sekalipun membawa seorang wanita bahkan mendengar anaknya memiliki kekasih saja tidak pernah. Dan hal itulah yang membuat Alanta percaya dengan berita yang beredar di luar sana. "Oh iya, mama mau kemana?" "Mama mau ke dapur. Apa kau mau ikut, bantu mama masak." Seketika Angel meneguk ludahnya kasar. Membantu? Bukannya membantu yang ada Angel akan mengacau, karena sekedar menyalakan kompor saja tidak bisa. "Ehm bole- "Tidak bisa, Angel harus menemani Vero di sini." "Dasar, mentang-mentang sudah punya pacar jadi nempel terus!" Decak Alanta menggeleng. "Ma, gak apa-apa Angel bisa bantu." "Gak usah kamu temenin Vero aja disini, mama ke dapur dulu ya!" Alana pun langsung melenggang pergi meninggalkan mereka berdua. Baru saja Angel akan berucap pada Vero, pria itu langsung berbalik arah menaiki anak tangga dengan cepat. "Vero mau kemana?" Seru Angel. "Kamar!" "Lalu aku." Vero hanya menggidikan bahunya acuh. Membuat Angel mematung di tempat, padahal tadi pria itu yang meminta tolong padanya tapi sekarang dia malah di campakan. Dengan segera gadis itu langsung bergegas menyusul, Vero ke kamarnya. Angel langsung menyerobot masuk tanpa permisi, Vero yang sudah terduduk di atas kasur tidak kaget sama sekali dengan kehadiran gadis itu.  "Kenapa kamu ikut masuk?" "Menurut mu!" Sinis Angel seraya menyilangkan kedua tangannya. Tidak mau memperpanjang perdebatan mereka. "Sini naik." Ucap Vero menepuk tempat kosong tepat di sebelahnya, Angel menaikan kedua alisnya secara bersamaan. Tanpa kata gadis itu pun langsung merangkak naik, merebahkan tubuhnya yang terasa pegal di kasur king size milik Vero yang sangat nyaman. "Kita pulang setelah makan malam, jadi jika mau ingin tidur, tidur saja!" Kata Vero yang juga tengah merebahkan tubuhnya di atas kasur. Angel mengangguk merapatkan tubuhnya dengan tubuh, Vero. Melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. Lalu memejamkan matanya dengan perlahan. Vero tersentak kaget tidak menyangka jika Angel akan memeluknya, pria itu berusaha melepaskan pelukan itu tapi tidak bisa. "Biarkan aku memelukmu, ini sangat nyaman." Gumam Angel. Membuat Vero menghela nafas panjang, tanpa sadar pria itu memperhatikan wajah Angel yang sudah terpejam. Entah mengapa seperti ada sengatan listrik saat melihat wajah itu. "Tidur lah." Bisiknya mengusap surai rambut Angel, dan tak lama pria itu pun ikut terlelap. Jadilah mereka Tidur siang bersama, dengan berpelukan. . .
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD