Vero menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya, mata pria itu beralih melirik arloji yang melonggarkan di pergelangan tangannya. Sudah jam 8 malam tapi pria itu masih berada di kantor, untuk menyelesaikan pekerjaan.
Sebenernya dia ingin menginap di sini tapi tidak jadi karena mengingat, Angel si gadis pembangkang. Yang bisa melakukan apa saja saat dia tidak ada dirumah.
Akhirnya pria itu pun memutuskan untuk pulang. 45 menit telah berlalu, untung saja jalanan tidak macet dan terbilang cukup lengah. Vero membunyikan klakson mobil memberi tanda agar mang Udjo si penjaga rumah segera membukakan pintu gerbang.
Setelah pintu gerbang terbuka, ia langsung masuk dan memarkirkan mobilnya di garasi. Perkejaan hari ini baginya terlalu melelahkan dan merepotkan.
Vero melangkah dengan gontai memasuki rumah besarnya seraya meregangkan otot tubuh yang kaku karena kelamaan duduk. Pria itu tidak langsung masuk ke dalam kamar tetapi berbelok menuju dapur karena haus.
Namun matanya membulat seketika, nafasnya tercekat seraya meneguk salivanya susah payah karena pemandangan di depan sana yang begitu panas. Angel yang tengah menyantap escream di meja makan hanya dengan memakai tanktop talinya dan hotpants yang sangat pendek sampai tidak bisa menutupi setengah paha gadis itu.
"Apa yang kamu lakukan disini!" Seru Vero, menyentak gadis itu.
Angel menoleh menyipitkan matanya, ia kira pria itu akan pulang malam seperti kata, bi Yati. Tapi bagus sepertinya dia bisa melancarkan rencananya untuk membuat, Vero luluh.
Tapi ia sedikit ragu saat melihat wajah pria itu yang biasa saja tidak ada guratan gairah sama sekali di sana. Yang semakin membuat Angel yakin jika pria itu benar-benar gay!.
Gadis itu tersenyum. "Aku sedang makan es cream, apa kamu tidak melihatnya?!"
Vero menggeram bahkan sekarang tubuhnya berkeringat saat tahu ternyata gadis nakal itu hanya memakai tank top tanpa dalam di dalamnya.
"Apa kamu sudah gila, berpakaian seperti itu di rumah seorang pria!" Sentaknya marah, dia kesal karena Angel melanggar peraturan di rumah ini dengan memakai pakaian yang seksi.
"Apa yang salah? Aku memang sudah terbiasa berpakaian seperti ini saat mau tidur!" Vero menarik nafas panjang saat Angel berdiri dari duduknya dan melangkah mendekat, mengusap tangan, Vero membuatnya seketika menegang.
"Lagi pula sepertinya kamu juga tidak tergoda dengan pakain yang aku kenakan. Bukan begitu?!" Seringai menggoda sudah Angel pasang di wajah cantiknya itu, semakin mendekatkan tubuhnya menempel tepat di d**a bidang, Vero.
"Apa yang kamu lakukan, menjauh lah!" Dorongan untuk membuat Vero takluk padanya semakin besar, Angel menggeleng mengalunkan tangannya di leher jenjang milik, Vero.
Entah sejak kapan tiba-tiba aura di ruangan ini sangat panas dan semua itu karena ulah ke bar-baran Angel. Vero berusaha melepaskan tangan gadis itu yang melingkar di lehernya seraya mengumpat di dalam hati.
Tapi saat ia berusaha melepaskan tangan itu kembali tanpa sengaja malahan bibirnya menyentuh bibir Angel dan otomatis membuat mereka berciuman.
"Wow, aku tidak tahu jika ternyata sekarang kakakku seagresif itu pada seorang wanita!" Ucap Alister yang menyaksikan kejadian itu seraya bertepuk tangan. Dengan cepat Angel pun langsung mendorong tubuh Vero, tapi di tahan oleh pria itu seraya menggeleng.
"Masuk kedalam pelukanku, jika tidak mau tubuhmu terlihat oleh adikku." Bisiknya pelan dan tentu saja hanya bisa di dengar oleh Angel. Gadis itupun langsung menurut memeluk tubuh Vero dengan erat seraya menenggelamkan wajahnya di d**a bidang pria itu. Vero melepas Jaz kerjanya lalu di pasangnya pada tubuh mungil Angel. Dia tidak mau sampai Alister melihat tubuh gadis ini karena itu akan bahaya.
"Adegan romantis apa ini!" Alister kembali berusaha, membuat Vero berdecak sebal.
"Tutup mulut mu itu sialan!"
Bukannya takut dengan gertakan sang kakak, lelaki itu malah terkekeh. "Santai brother. Maafkan aku karena mengganggu kalian! Aku hanya membawa titipan mama yang sudah ku taruh di ruang tamu.
Jadi sebaiknya aku undur diri sekarang. Oh iya untuk Angel, salam kenal aku, Alister. Mungkin nanti kita akan sering-sering bertemu." Setelah nya Alister langsung melenggang pergi dari dapur membuat Vero menggeleng, adiknya yang satu itu memang selalu seenak jidat. Datang dan pergi sesuka hatinya saja.
Vero menunduk menatap Angel yang masih setia di dalam dekapannya, baru saja dia akan mendorong tubuh gadis itu agar menjauh tapi pandangannya teralihkan dengan mata Angel yang tertutup, menandakan jika dia sedang tertidur. Vero melongo kehabisan kata-kata dengan tingkah ajaib gadis itu, bagaimana bisa setelah membuat kesalah paham dia malah tertidur di dalam dekapannya.
Penyesalan itu adanya di belakang. Dan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Vero. Ia benar-benar menyesal menyanggupi permintaan kedua orangtuanya untuk merawat Angel yang baru hari pertama saja sudah hampir membuatnya merasa gila. Dan sialnya lagi tadi dia hampir tergoda dengan lekuk tubuh gadis itu yang sangat indah. Iya, benar Indah. Bahkan Vero tidak menampik hal tersebut.
...
Vero
Suara percikan air terdengar di seisi ruangan kamar ku, aku sengaja tidak menutup pintu kamar mandi karena pintu kamarku sudah di kunci jadi aman tidak ada yang akan masuk, termasuk Angel gadis nakal itu.
Ini sudah jam 12 malam, seharunya aku sudah terlelap di kasur milikku dengan sangat nyenyak tapi entah mengapa bayangan tubuh Angel terus menari-nari di otakku dan membuatnya berdiri. Sebenernya tadi setelah menaruh Angel di kamarnya aku langsung mandi.
Ini sangat dingin dan menyiksa, jarang sekali milikku berdiri hanya karena melihat tubuh wanita. Sejujurnya aku adalah pria yang cukup pintar untuk mengatur nafsu tapi tidak saat aku melihat, Angel entah mengapa.
Aku memejamkan mataku, mengatur nafas dan menenangkan pikiran kotorku yang sudah melayang kemana-mana. "Sialan, Angel kamu harus bertanggung jawab!" Teriakku meraung.
Akhirnya aku menyerah. Berjam-jam aku berdiri di bawah guyuran air yang cukup dingin. Ini sudah terlalu malam untuk mandi. Bisa-bisa aku akan sakit besok, sial!