2 hari telah berlalu.
Vero tengah fokus menatap layar monitor komputernya dengan sangat serius tanpa memperhatikan ocehan, oh bukan lebih tepatnya sebuah gerutu seorang gadis di sebelahnya yang sudah beberapa hari ini selalu menguras emosi dan waktunya.
"Vero aku tidak mengerti dengan berkas-berkas ini!" Keluh Angel. Dia tidak mengerti tentang bisnis dan sekarang apa ini, Vero malah memberikannya sebuah berkas yang sangat memusingkan baginya.
"Baca saja dulu dan pelajari. Itu adalah pelajaran dasar seorang pembisnis!" Kata Vero tanpa menoleh sama sekali.
Angel mendengus sebal, mau di baca berkali-kali pun jika otaknya tidak merespon percuma. "Aku tidak mau membacanya lagi!" Ucapnya.
Vero hanya memutar bola matanya malas, sejujurnya dia sudah sangat kesal dengan setiap keluhan yang Angel lontarkan tapi mau bagaimana lagi, Vero harus mengajarkan tentang bisnis pada gadis itu. Musnah sudah hari tenangnya setiap berkerja.
Angel menatap kesepenjuru ruangan milik, Vero. Ia baru tersadar jika ruangan pria itu sangat nyaman dan bersih. Belum lagi pemandangan kota di bawah sana yang bisa menyegarkan mata. Gadis itu beranjak dari duduknya tidak memperdulikan lagi berkas di atas meja yang harus dia baca.
Angel melangkah mendekat pada sebuah rak buku yang ada tepat di sebelah meja, Vero. Ia kira itu jurnal perusahaan tapi ternyata bukan, itu adalah sebuah buku novel yang tersusun rapih di sana. Baru saja, Angel akan mengambil salah satu buku itu namun, Vero langsung mencegahnya.
"Jangan coba sentuh!" Kata pria itu. Angel menoleh menatap sinis pada, Vero yang ternyata juga sedang menatapnya.
Cukup lama mereka saling beradu pandang namun dengan segera, Vero kembali membuang pandangannya di depan komputer.
"Ayo lah. Aku pinjam satu!"
"Tidak!"
Angel tidak perduli, gadis itu langsung menarik salah satu buku yang tersusun di sana membuat, Vero menghela nafas panjang. Percuma mencegah, Angel. Karena pada akhirnya gadis itu pasti akan melakukannya juga. "Wow! Aku tidak tau jika kamu menyukai cerita romance?!" Kata Angel berbinar seraya terkekeh.
"Buku yang kamu baca tidak sesuai dengan si pemiliknya yang berwajah dingin dan menyarankan!" Gadis itu masih tidak percaya dengan fakta yang ia temukan tentang, Vero. Pasalnya dia sangat tahu tentang jalan cerita di dalam buku ini, karena dia memilikinya di Inggris dan baru membaca setengah saja.
Angel melangkah dengan wajah senangnya mendekat pada, Vero. Pria itu kira, Angel akan duduk di sebelahnya seraya membaca buku tapi ia salah. Gadis itu malah merangkak naik keatas pangkuannya dengan wajah polos tanpa dosa.
"Angel! Apa yang kamu lakukan!" Sentak Vero tidak suka berusaha mendorong gadis di atas pangkuannya agar turun.
Angel menggeleng mengalunkan tangannya di leher jenjang, Vero dengan sangat erat. "Aku tidak akan turun." Ucapnya meledek. Ia bosan jika hanya duduk di sebelah Vero. Angel adalah gadis penyuka tantangan jadi jika masih bisa duduk di pangkuan pria itu kenapa tidak?.
"Angel turun!"
"Tidak mau."
"Angel jangan buat saya marah!"
Angel mengerucutkan bibirnya tak suka. "Aku hanya duduk, apa salahnya?!"
Vero memijat kepalanya yang terasa pusing, pekerjaannya sekarang sudah melelahkan dan sekarang dia malah harus memangku anak manusia yang seperti, Angel. Pria itu yakin pasti, Angel tidak akan diam saja di atas pangkuannya.
"Aku tidak akan berbuat apa-apa, aku hanya akan membaca buku." Kata gadis itu seakan tahu dengan yang tengah, Vero pikirkan di atas kepalanya.
Pria itu pun langsung menimang-nimang ucapan Angel. Percuma menyuruh gadis itu turun jika nantinya dia pasti akan kembali duduk di atas pangkuan, Vero.
"Baiklah, kamu boleh duduk di sini dan jangan ganggu pekerjaan saya. Cukup duduk dengan tengah dan jangan coba-coba untuk bergerak."
'Karena nanti dia akan terbangun' batinnya di akhir kalimat.
Sebuah senyum manis pun langsung terbit di bibir Angel, menumpu dagunya pada pundak, Vero. Mengatur agar saat baca dia merasa nyaman. setelahnya ruangan itu kembali hening, dengan Angel yang fokus membaca novel sedangkan Vero dengan pekerjaannya.
Pria itu awalnya memang merasa risih dengan kehadiran, Angel di atas pangkuannya tapi lama-kelamaan dia sudah terbiasa dan merasa nyaman. Jantungnya dengan tiba-tiba berdetak tak karuan.
Cukup lama mereka duduk dengan posisi yang sama, sampai akhirnya Angel memutar posisi tubuhnya, duduk menyamping di pangkuan milik pria itu, sedangkan, Vero tidak protes sama sekali. "Apa kamu tidak pusing dengan tulisan yang ada di komputer?!" Angel mendongak.
Vero menggeleng. "Saya sudah terbiasa." Katanya singkat. Angel meletakkan buku di genggamannya dengan asal di atas meja, dia sudah tidak ada mood lagi untuk membaca cerita itu. Sampai akhirnya sekelibat niat jahil menghampiri otak cantiknya.
Gadis itu melirik, Vero yang hanya terdiam lalu dengan cepat bibirnya mendarat tepat di leher jenjang milik pria itu dan meninggalkan bercak merah di sana. "Angel hentikan!" Ucap Vero serak, pikirannya tiba-tiba saja melayang entah kemana karena ulah gadis itu.
"Hentikan, atau kamu turun dari pangkuan saya!" Katanya tegas sontak saja gadis itu langsung menghentikan aksinya seraya tersenyum. Dia tidak mau turun dari pangkuan, Vero entah mengapa karena sudah merasa nyaman duduk di sana.
"Ver, aku lapar!" Rengek Angel menggoyangkan lengan pria itu yang tengah memegang mous komputer. "Apa kamu masih lama?!"
Vero melirik jam tangan, baru saja pria itu akan akan suara tapi ketikan pintu langsung mengalikan pandangannya.
"Masuk!" Kata Vero seakan tidak mempermasalahkan jika orang yang akan masuk keruangannya itu melihat posisi duduk mereka yang bisa di bilang sangat romantis.
Seorang gadis, yang Angel yakin adalah bawahan Vero langsung melangkah masuk. "Maaf pak jika saya mengga-" ucapan gadis itu langsung terputus, syok dengan apa yang ia lihat. Bosnya tengah memangku seorang wanita dan jangan lupakan bercak merah di leher pria itu.
"Lia ada apa?!" Lamunan gadis yang bernama Lia itu seketika musnah karena suara barito bos-nya.
"Ini pak, saya membawa data keuangan untuk bulan ini. Sesuai permintaan bapak!" Gadis itu berjalan mendekat meletakan berkas di atas meja, Vero.
Angel sedari tadi hanya terdiam menyaksikan interaksi bos dan pegawai itu, sesekali dia tersenyum ramah pada Lia seakan mengajaknya berkenalan.
"Baik, terima kasih!" Jawab Vero singkat. Lia mengangguk tapi mata gadis itu langsung melirik pada Angel yang tengah berucap tanpa suara seakan memperkenalkan dirinya. Lia membalasnya dengan senyuman karena takut juga berucap akan di sembur dengan kalimat tajam bosnya itu.
"Mengapa kamu masih disini, silakan keluar jika tidak ada keperluan lagi!" Tanpa kata Lia pun langsung melesat keluar ruangan menyeramkan itu.
"Kamu sangat menyeramkan, sampai membuat karyawan mu menunduk takut." Vero hanya menggidikan bahunya acuh, begitulah dirinya jika di kantor.
Semua orang selalu menghormatinya dan menunduk patuh tapi tidak dengan gadis di pangkuannya ini, selalu saja membangkang tidak pernah sekalipun mendengar ucapannya. Bahkan dengan sangat beraninya dia malah duduk di pangkuan pria itu dengan wajah polos yang menyebalkan.