Gelagat Aneh sang Sekretaris

1074 Words
Inka menikmati suasana danau sambil menunggu suaminya kembali, dia juga memainkan gawainya karena Raffa juga sibuk dengan hal lain. Inka tampak tertawa kecil kala ia menemukan hal lucu dari apa yang dia lihat di ponselnya, wanita itu lantas menutup bibirnya kala melihat sesuatu. "Sella?" pekiknya pelan kala melihat foto Sella bersama berondongnya liburan di pantai, mereka berfoto mesra dengan Sella yang hanya mengenakan bikini seksi berwarna kuning terang. "Aku yakin sosial media mas Arta sudah dia blokir, masa iya Sella berani unggah foto mesra begini di publik." Inka kemudian mengoperasikan gawainya lagi menuju ke aplikasi warna hijau untuk berkirim pesan. "Sell, kamu gila ya!" Sementara di tempat lain Sella memang sedang bersantai pada kursi sandar bersama kekasihnya, lantas ia menoleh ke arah meja di samping kala ponselnya berbunyi. Sella meraih gawai yang terletak di samping juice mangga miliknya lalu memeriksa pesan. Wanita itu tersenyum kala melihat pesan dari sahabatnya. "Dia pasti lihat postingan gue tadi," gumamnya. Sella segera membuka pesan dan tanda centang biru di HP Inka pun terlihat. "Dia harus menjelaskan ini," gumam Inka. Di sisi lain Sella tertawa kecil. "Dugaanku benar, Inka marah-marah ke gue." Mendengar Sella tertawa pria muda di sampingnya pun menoleh. "Ada apa, Baby?" Sella menoleh pada pria muda itu. "Engga apa, Honey. Ini pesan dari sahabat baikku." Pria muda itu lantas mengangguk paham. "Oh, oke ... lanjutkan saja," balasnya mempersilakan. "Iya," sahut Sella lalu kembali fokus pada pesan Inka di HP-nya lantas mengetik balasan. "Apa sih, In?" Kirim. Inka segera memeriksa ponselnya juga saat tahu ada pesan balasan dari Sella. "Apa kamu enggak takut, Sel? Engga takut mas Arta tahu ulah kamu ini?" Kirim. Centang dua langsung berwarna biru menandakan Sella sudah langsung membaca dan status pun sedang mengetik. Tak lama pesan masuk kembali. "Mas Arta juga kemarin posting liburan sama istri mudanya, In. Mereka tampak bahagia bersama anak mereka." Sella menambahkan emoticon mata berkaca-kaca setelahnya. Inka menutup bibirnya tak percaya, dia ikut sedih dengan apa yang terjadi pada rumah tangga sahabatnya ini. "Dia saja tidak mau menjaga perasaan gue, In. Lalu apakah gue harus menjaga perasaannya?" Lagi Sella mengirim sederet pesan dengan diakhiri emoticon menangis. Inka tak dapat berkata apa-apa lagi, dirinya tahu Sella melakukan ini hanya untuk balas dendam pada suaminya yang sudah menduakannya. "Gue tahu, gue enggak sempurna, In. Tapi apakah gue enggak pantas dijaga perasaannya? Sebenarnya mau mas Arta itu apa? Kenapa terus mempertahankan gue, tapi dia terus aja nyakitin gue kayak gini." Inka terus menerus menerima pesan kesedihan dari sahabatnya dengan dibubuhi emoticon menangis berderet. Segera Inka mengetik pesan, dia tidak tahan dengan semua ini. "Udah cukup, Sell. Aku paham perasaanmu." Kirim, kali ini centang dua itu tidak langsung biru, karena Sella sudah terlihat offline. Beberapa waktu menunggu balasan, Sella tidak membalas lagi. Centang dua juga tidak kunjung biru, Inka tidak tahu saat ini Sella sedang apa dengan kekasihnya di sana. Inka hanya bisa menghela napas gusar, tapi tak lupa juga ia mendoakan sahabatnya agar selalu baik-baik saja. *** Benar saja, di sana Sella sudah meletakan gawainya, dia tak ingin membahas apapun yang membuatnya sedih. Wanita itu ingin bahagia meski kebahagiaan ini semu baginya. "Sayang, kita main air lagi, yuk!" ajak Sella pada kekasihnya. "Oke," jawab pria muda itu lantas mereka bangkit dari kursi mereka dan bergandengan mesra menuju bibir pantai. Sella berusaha melebur kesedihan di dalam hatinya bersama debur ombak, takan pernah ada yang tahu di dalam batinnya menangis. Merasa tak tahan dengan rasa sakitnya, Sella yang asyik mencipratkan air dan tertawa gembira bersama kekasihnya itu, tiba-tiba berhenti dan terdiam. Pria muda itu juga terdiam saat melihat raut wajah Sella yang berubah sendu, dia pun mendekat dan merangkum sisi wajah Sella. "Hey, kamu kenapa, Sayang?" "Alex!" Tanpa diduga Sella memeluk kekasihnya begitu erat dan menumpahkan air mata, sontak saja membuat Alex kaget ketika Sella tiba-tiba menangis. "Hey, Sayang ... ada apa ini, hah? Kamu butuh istirahat, sebaiknya kita kembali ke hotel." Alex dengan perhatian segera merangkul Sella kembali ke hotel. Sesampainya di hotel Alex segera membawa Sella ke kamar mandi untuk berganti pakaian barulah mereka kembali ke kamar. "Tidurlah, Sayang." "Terima kasih, Lex," ucap Sella seraya merebahkan tubuh. "Santai saja, Baby." Alex dengan perhatian menyelimuti tubuh Sella. "Istirahatlah, aku akan keluar dulu." Sella segera meraih lengan kekasihnya. "Kamu mau ke mana?" Alex menoleh lantas memberi senyuman manis. "Aku mau bawakan makanan untukmu, Sayang. Aku keluar dulu, oke." Mendengar alasan kekasihnya Sella pun tersenyum dan mengangguk, perlahan ia melepaskan lengan Alex dan membiarkannya pergi. Sella menarik selimut dan memejamkan matanya, sementara Alex keluar dari kamar dan berjalan menuju lift. *** Tampak Aldi dan Wijaya kembali ke tempat di mana Inka menunggu, terlihat juga ada seorang wanita seksi di samping Aldi dan seorang lelaki lain di samping Wijaya. "Sayang," sapa Aldi, Inka pun segera berdiri dan tersenyum kepada seorang pria yang berdiri di samping Aldi. "Pak Roy, perkenalkan ini Inka--istriku." Aldi memperkenalkan. Inka tersenyum tipis pada Roy, begitupun dengan Roy yang tampak tersenyum pada Inka. "Istrimu cantik, Pak Aldi," puji Roy. Aldi hanya menanggapinya dengan senyuman dan melirik pada Raffa. "Dan ini anakku Raffa." "Anakmu juga tampan sepertimu," puji Roy lagi. Aldi tertawa ringan. "Terima kasih, terima kasih. Oya, kami sebenarnya mau piknik kecil-kecilan di sini." Roy juga tertawa ringan lantas melirik pada Inka, sementara Inka merasakan gelagat aneh dari pria yang bernama Roy itu. "Bolehkah aku ikut pikinik bersamamu, Pak Aldi? Sepertinya seru." Mendengar hal itu Aldi mengulum senyum. "Boleh saja, Pak Roy. Kalau begitu bagaimana kalau kamu pesan makanan saja dari luar, Ir" pinta Aldi pada sekretarisnya. "Baik, Pak Aldi, sebentar aku pesankan dulu," sahut Irma seraya tersenyum. "Ya," jawab Aldi singkat, lalu Irma tetap memberi senyuman manis dan menatap Aldi penuh arti, meski Aldi tidak lagi memperhatikannya dan lebih melanjutkan obrolannya dengan klien. "Bagaimana kalau kita ke sana dulu sambil menunggu pesanan makanan kita datang?" "Ya ya, boleh, Pak Aldi," jawab Roy. "Mari," sahut Aldi lantas mempersilakan Roy berjalan lebih dulu. Tatapan tak biasa Irma disadari oleh Inka, dia curiga kalau sekretaris ini menyukai suaminya. "Eheum!" Inka berdehem, sengaja agar menyadarkan lamunan Irma. Irma yang sadar diberi kode oleh istri bosnya pun seketika panik dan canggung. "Eh, Ibu ...." sapanya dengan senyum kikuk. "Kata suamiku pesankan makanan dari luar, apa kamu tidak dengar?" kata Inka dengan tatapan mengintimidasi. "De-dengar kok, Bu. Sa-saya akan segera pesankan," jawab Irma gugup. "Ya," timpal Inka lalu wanita itu kembali duduk lagi dan memperhatikan Irma yang sedang mengoperasikan gawainya dengan hati dongkol lantas berlalu pergi. "Menyebalkan, apa hebatnya Ibu Inka? Tentu masih jauh daripada aku, heum!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD