Di tengah perjalanan Inka terus diam, jujur saja perlakuan sekretaris itu terhadap sang Suami membuat Inka tak nyaman. Aldi juga merasa aneh ketika saat ini melihat istrinya tampai terus merenung sejak pulang dari proyek tadi.
"Apa mungkin sekretaris itu suka sama Mas Aldi? Terlihat dari sikapnya wanita itu selalu saja ingin mencari perhatian dari Mas Aldi," batin Inka.
Aldi menoleh ke samping kiri di mana Inka duduk dengan raut wajah yang tampak gelisah, Aldi pun mengulurkan tangan memegang kening wanita itu membuat Inka seketika kaget. "Mas? Kenapa? Bikin kaget saja sih," protes Inka seraya mengerutkan kening.
Aldi pun tersenyum melihat ekspresi sang Istri yang terkejut. "Enggak, In. Mas kira kamu demam, makanya mas cek kening kamu," jawab Aldi lantas kembali fokus pada jalanan di hadapannya.
"Memangnya kenapa, Mas? Orang aku baik-baik aja, sehat walafiat," timpal Inka heran.
"Ya habis kamu dari tadi bengong terus, diem aja gitu. Kalau enggak percaya, tanya tuh Raffa," tunjuk Aldi pada Raffa yang ia lihat lewat kaca spion di atas kepalanya.
Inka pun menoleh ke belakang melihat sang Putra yang memberi anggukan kecil, lantas ia kembali menatap ke depan lagi. "Aku enggak apa-apa kok, Mas. Cuma ada yang mengganjal saja di hati sejak tadi," ungkap Inka jujur, ia tak ingin menyimpan kecurigaan sedikit pun terhadap suaminya.
"Apakah itu?" tanya Aldi mulai serius, terlihat dari keningnya yang berkerut dalam.
"Mas, memang Mas engga risi apa lihat pakaian sekretarisnya Mas yang ketat dan minimalis itu, hah? Aku saja risi lihatnya, Mas!" Terdengar nada cemburu dari suara Inka yang memperlihatkan kekesalan, meski wanita itu mencoba sekuat tenaga untuk menutupinya, tentu saja Aldi bisa merasakannya.
Ini pertama kalinya Inka seperti ini, karena selama pernikahan mereka, wanita itu pasti selalu enggan untuk ikut turut hadir pada acara-acara kantor, sehingga Inka baru menyadari betapa banyak godaan di luar rumah yang bisa saja menggoyahkan iman seorang Aldi.
Aldi tersenyum mendengar kekesalan Inka, karena bagi Aldi Irma tidaklah seberapa. Masih ada yang lebih menantang lagi, andai ia berniat untuk bermain api di belakang Inka.
Inka menoleh pada sang Suami kala pertanyaannya tadi tak kunjung Aldi jawab. "Mas!" sentak Inka, membuat Aldi seketika tersadar dari lamunannya. "Kok, malah senyum-senyum, sih! Mas lagi mikirin Irma sekrrtaris Mas itu, ya?!"
Nada bicara Inka semakin meninggi, membuat Aldi sedikit merasa takut kalau Inka marah sungguhan. "Astagfirullah, Inka. Mana ada mas bayangin wanita lain, Sayang," bujuk Aldi dengan nada lembut.
Inka mendengkus kesal lantas bersidekap menatap ke arah jalan. "Bohong!"
"Mana ada mas bohong sih, In. Mas enggak peduli mau ada wanita yang enggak pake baju di hadapan mas pun, In," seloroh Aldi yang justru membuat Inka melotot tajam.
"Ya ampun, Mas! Kamu tuh, ya!" Inka reflek memukul lengan sang Suami.
Aldi tertawa kecil, ternyata seperti ini kalau istrinya sedang cemburu, bisa KDRT juga dia. "Ya soalnya mas enggak peduli juga, Sayang. Mau mereka telanjang di depan mas, toh mas enggak nafsu sama mereka. Mas tuh cuma nafsu sama kamu." Aldi dengan genitnya mencubit pipi istrinya, membuat Inka merasa gemas.
"Iiih, dasar gombal!" Inka balik mencubit lengan Aldi lantas keduanya tertawa bersama, sementara Raffa di belakang pura-pura tidak dengar saja.
***
Mobil Wijaya berhenti di depan sebuah komplek perumahan sederhana, wanita itu lalu menoleh pada Wijaya. "Terima kasih ya, Pak. Saya turun dulu," kata Irma seraya tersenyum.
"Sama-sama, silakan," sahut Wijaya.
Sebelum Irma turun ponsel Wijaya berdering, membuat Irma yang ingin tahu pun urung keluar. Wijaya segera menerimanya. "Iya, Bu?" sapa Wijaya saat ia tahu Ibu kandungnya yang menelefon.
"Wi, kamu masih di mana, Nak? Ini Lili kontraksi, cepat pulang, Wi!" Terdengar suara sang Ibu cemas, membuat Wijaya juga seketika cemas kala mendengar istrinya yang tengah hamil kini kontraksi.
"Lili kontraksi, Bu? Iya, Wijaya akan segera pulang, tolong bantu siapkan semua keperluan Lili ya, Bu," pinta Wijaya.
Mendengar Wijaya yang panik membuat Irma paham, wanita itu segera turun dari mobil setelah tahu apa yang terjadi. Wijaya tak peduli lagi pada siapa pun, setelah tahu pintu mobilnya tertutup pria itu pun segera tancap gas meninggalkan Irma yang masih berdiri di tepi jalan.
Irma sekilas memperhatikan kepergian mobil Wijaya sebelum pada akhirnya ia berbalik badan membuka pintu gerbang dan masuk ke dalam rumah. "Fiuh! Capek banget, lebih capek lagi melihat kemesraan pak Aldi sama istrinya di sepanjang acara tadi." Irma membuka pintu kamar lalu melemparkan tas selempang yang sejak tadi ia kenakan, lalu ia duduk di tepi ranjang.
Dibukanya sepatu hak tinggi yang ia kenakan seharian tadi yang membuat kakinya merasa pegal. "Beruntung banget sih bu Inka dapetin pak Aldi yang ganteng, gagah, kaya lagi. Andai ya ... aku bisa merebut hati pak Aldi, dan menyingkirkan istrinya. Aku akui sih, bu Inka meski usianya sudah kepala tiga, dia masih cantik dan seksi. Ya, pasti itu kan karena duit pak Aldi yang jor-joran buat perawatan istrinya itu. Semua juga kalau karena duit mah, nenek-nenek peot juga bisa kenceng lagi." Irma terkekeh mendengar kalimatnya sendiri.
Aldi memang sangat cocok dijadikan pria idaman setiap wanita, apa yang kurang dari pria itu jika dilihat dari luar? Tidak ada, dia begitu perfectionis!
"Ih, bayangin pak Aldi bikin aku jadi pengen, deh. Apes banget, sih! Gini nih nasib jadi jomlo," gerutu Irma, lantas ia segera berdiri seraya melepaskan satu per satu pakaiannya dan melangkah ke dalam kamar mandi.
Irma mengguyur tubuhnya dengan air yang jatuh dari shower, membelai dan menggosok tubuhnya sendiri seraya menikmati setiap sentuhan yang ia lakukan layaknya itu sentuhan tangan Aldi.
Irma sudah sering menjadikan Aldi sebagai visual fantasi liarnya, karena ia begitu sangat mendambakan sosok Aldi menjadi pasangan idaman.
***
Malam yang temaram hanya disinari cahaya lilin aromaterapy di dalam kamar, suara-suara yang tak asing di telinga memenuhi ruangan yang terasa begitu panas malam ini.
Penyatuan sepasang kekasih yang saling mencintai, tengah menikmati permainan panas yang belum mencapai puncaknya. Keduanya saling memeluk, saling bertaut bibir, hingga beberapa waktu berebut liur pada akhirnya keduanya memutuskan mengurai tautan kasih mereka.
Pandangan nan sayu, napas yang menderu menyapu wajah yang saling mendamba. "Mas cinta kamu, In. Jangan tinggalkan mas sampai kapan pun," ungkap Aldi dengan segenap perasaan cinta di dalam dadanya.
Inka tersenyum bahagia, memandang wajah sang pujaan di dalam redupnya cahaya malam. "Aku juga mencintaimu, Mas. Aku tidak akan ke mana pun, aku akan selalu berada di sisimu, di dalam suka mau pun duka," jawab Inka tulus.
Aldi bisa merasakan ketulusan itu, pria itu merasa bahagia dan sangat merasa beruntung memiliki Inka. Keduanya kembali menyatukan bibir dan berbaring di peraduan yang menyambut kedua tubuh mereka berdua, membalut lembut dan akhirnya melebur bersama gairah.